Gadis Pelunas Hutang

Gadis Pelunas Hutang
Takdir


__ADS_3

Andika yang tidak tahu itu pun tidak bisa menjawab apa-apa. Ia meminta anak buahnya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Anak buah itu pun mengatakan dari awal hingga akhir secara detil pada bosnya.


"Kak Dika, bagaimana keadaan papa?" tanya seseorang yang tak lain adalah Adit.


Aditia baru sampai kerumah sakit, ia juga diberi kabar oleh pihak polisi, kalau papanya telah mengalami kecelakaan.


"Papa?" kata Dika.


"Iya papa, bagaimana keadaan papa sekarang. Apa papa baik-baik saja?" kata Adit.


"Aku tidak tahu bagaimana keadaan papa, alu juga tidak tahu papa dibagian mana."


"Jadi, yang sedang kakak tunggu itu siapa?"


"Yang ada didalam itu Riana."


"Riana?"


Adit terlihat kaget, ia tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa Riana juga ada dirumah sakit ini.


"Iya Riana, ceritanya panjang, kalau kamu minta aku buat menceritakan. Jangan sekarang, sebaiknya kamu tanya sama suster dimana kamar papa," kata Dika.


"Baiklah, aku akan mencari dimana papa."

__ADS_1


Adit bersama kedua anak buahnya meninggalkan tempat itu. Mereka bertanya pada suster dimanakah orang yang baru saja mengalami kecelakaan beruntuk barusan ditempatkan. Suster pun mengantar mereka kesebuat ruangan.


Disana, bisa Adit lihat dengan jelas wajah papa yang sangat pucat tanpa darah itu. Tidak ada dokter disana, hanya suster yang sibuk dengan pekerjaannya. Tidak ada alat yang terpasang ditubuh papanya.


"Suster, dimana dokternya. Kenapa tidak ada yang merawat papa saya."


"Maaf mas, anda ini siapanya ya?" kata suster itu.


"Saya anaknya sus, dimana dokternya!" kata Adit keras.


"Maaf mas, saya harap anda kuat dan sabar. Papa mas ini sudah tidak bisa diselamatkan lagi mas. Nyawanya tidak tertolong lagi, karna ia banyak kehilangan darah."


Bagaikan disambar petir, Adit lemah tidak berdaya. Ia sangat kaget saat mendengarkan penjelasan suster itu. Pantas saja tidak ada alat yang terpasang disana. Ternyata papanya sudah tidak bernyawa lagi.


Suster itu pun meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Adit dengan dua anak buahnya, yang seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Adit menghampiri jasad papanya yang sudah tidak bernyawa lagi. Ia menangis sejadi-jadinya disana. Ia memang marah sama apa yang papanya lakukan. Namun, bagaimanapun marahnya Adit, papanya tetaplah orang tua yang selama ini menjadi pohon tempat Adit berteduh.


"Papa ...."


Saat itu, Adit membenamkan wajahnya sambil menangis disamping jasad papanya. Tanpa ia sadari, kakaknya datang mendekati dan menyentuh bahu Adit.


"Sabar Aditia, ini sudah takdir bagi papa."


Adit tidak menjawab sedikit pun, ia masih menangis disampin papanya. Sampai suster datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Maaf mas, apakah anda kenal dengan dua orang lainnya yang ikut kecelakaan bersama papa anda."


"Dua orang lainnya?" kata Dika tak mengerti.


"Iya mas, masih ada dua orang lainnya yang tidak bisa kami selamatkan. Satu laki-laki dan satu lagi perempaun."


"Dimana mereka?"


"Ayo ikut saya, mereka sedang berada dikamar sebelah."


"Tunggu kak Dika, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ada wanita lagi yang bersama papa saat kecelakaan."


Mau tidak mau, Dika menceritakan apa yang terjadi pada papa mereka. Dan kenapa ada wanita, juga kenapa ada Riana didalam rumah sakit ini. Setelah mendengar semuanya, Adit terlihat sangat kaget. Ia tidak menyangka kalau papanya meninggal karna ulah dari papanya sendiri.


"Bagaimana keadaan Riana sekarang kak?"


"Riana masih tidak sadarkan diri, namun ia telah melewati masa kritisnya. Hanya saja, ia masih terpengaruh oleh obat bius. Kata dokter, ia baik-baik saja sekarang."


"Baguslah kalau begitu," kata Adit lirih sambil melihat papanya.


"Adit, kamu harus sabar dan kuat. Ini takdir papa, tidak ada yang bisa melawan takdir seseorang diatas muka bumi ini."


"Baiklah, kakak akan melihat dua orang yang suster katakan itu. Kamu tunggu saja disini, biar kakak yang mengurus semuanya."

__ADS_1


"Iya," kata Adit menjawab singkat.


__ADS_2