
Haikal di bikin ketar ketir menyadari akan ucapan beberapa detik yang lalu dirinya keceplosan dengan ucapannya sendiri terhadap mama dari sang Presdir nya yang saat ini sedang menatap dirinya yang sulit diartikan sambil tersenyum lebar atas ucapannya sendiri.
"Pergilah dari sini nanti wanita itu bisa mati kedinginan," usir nyonya Wigunantara menatap wajah sang sekretaris dari putranya itu yang sedang seperti orang kebingungan menatap dirinya saat ini.
Belum sempat menenangkan jantung nya yang sedang deg degan karena ulah dirinya sendiri, Haikal terkejut mendengar suara sang nyonya Wigunantara mengusir dirinya dengan suara keras sehingga menjadi pusat perhatian para pengunjung yang berada dalam butik tersebut.
Haikal langsung keluar dari butik itu setelah dirinya berpamitan dengan sang mama dari Presdir nya yang saat ini masih serius menatap kepergian dirinya.
"Tamatlah riwayat mu Haikal-Haikal," gumam Haikal melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dari butik itu dengan langkah begitu lesu, huh ... bibir ini benar-benar tak bisa di ajak kompromi, omel Haikal merutuki dirinya sendiri.
Melihat kepergian sang sekretaris putranya, nyonya Wigunantara tampak berpikir dengan sangat keras bagaimana cara dirinya bisa bertemu dengan wanita dari putranya tersebut.
Entah apa yang di rencanakan oleh nyonya Wigunantara terhadap wanita putranya itu, kini nyonya Wigunantara itu langsung mengambil benda pipih dari dalam tas branded milik nya untuk menghubungi pria nya yang tak lain adalah sang suami nya tercinta.
Drttt ... drttt ... drttt
Tak butuh lama panggilan langsung di jawab oleh seseorang yang berada di seberang sana.
"Halo mas," sapa nyonya Wigunantara dengar suara yang begitu bahagia setelah panggilan dari dirinya sudah di angkat oleh sang pemilik hatinya.
__ADS_1
"Halo sayang, ada apa kamu menghubungi mas di jam-jam seperti ini? apa kamu tidak sibuk?" tanya tuan Hamzah Wigunantara dengan suara yang begitu lembut.
Tuan Hamzah Wigunantara hapal sekali dengan kegiatan istrinya kalau sedang bekerja istrinya itu tidak mau di ganggu kalau hal yang tidak darurat.
Tanpa menjawab pertanyaan yang beruntun dari sang suami tercinta nya nyonya Wigunantara langsung memberitahukan kepada suami nya hal yang sangat-sangat tidak bisa dirinya tunda-tunda dalam hal seperti ini.
"Mas, tahu tidak? anak nakal itu sudah menemukan tempat junior nya singgah," kata nyonya Wigunantara tanpa jeda memberitahu kelakuan putranya kepada sang suami nya yang dengan serius mendengar cerita dari istri tercinta nya tersebut.
"Maksudnya wanitanya? sayang?" tanya tuan Hamzah Wigunantara dengan suara tak kalah bahagia sekali mendengar cerita dari istri tercinta nya tersebut.
"lya mas, oleh kerena itu mas harus bantu istri mu tercinta ini agar bisa masuk ke apartemen anak nakal itu," kata nyonya Wigunantara meminta bantuan kepada sang suami nya.
"Dengan senang hati sayang ku," jawab tuan Hamzah Wigunantara sambil tersenyum bahagia sekali setelah mendengar cerita putranya dari istri tercinta nya tersebut.
Sementara itu dua manusia yang tidak lagi muda saat ini yang sedang di selimuti kebahagiaan yang luar biasa yang dirasakan nya atas apa yang telah di lakukan oleh sang putranya.
Di sisi lain tepatnya di kamar hotel yang di tempati oleh Brian bersama wanitanya, Brian tak henti-hentinya memberikan kecupan-kecupan manis di setiap inci tubuh wanitanya yang dirinya paksa duduk di atas pangkuan nya yang sama-sama hanya mengenakan lilitan handuk untuk menutupi tubuh mereka berdua sehabis mandi beberapa saat yang lalu.
Killa terus berusaha menepis tangan kekar milik Brian yang sedang menikmati dua benda lembut miliknya secara bergantian, bukannya berhenti ketikan mendapatkan tatapan tajam dari wanitanya justru Brian semakin menjadi menikmati kegiatan nya karena terlalu gemas melihat wajah dari wanitanya ketika sedang marah.
__ADS_1
Brian yang tak tahan melihat bibir wanitanya yang terlalu menggoda dirinya sehingga membuat dirinya tidak bisa untuk tidak memakan bibir tipis nan lembut itu saat ini juga.
Cup
Killa yang mendapatkan serangan dadakan dari pria yang sedang memanggku dirinya secara paksa saat ini benar-benar terkejut dan juga marah atas apa yang di lakukan oleh pria tampan yang sesuka hatinya saja memaksa kehendak terhadap dirinya saat ini yang hanya mengenakan lilitan handuk untuk menutupi bagian sensitif nya saja.
"Eeerrmm ... eeerrmm," jerit Killa sambil berusaha mendorong dada bidang Brian agar melepaskan ciuman karena dirinya hampir kehabisan oksigen akibat ciuman dadakan itu.
Brian yang melihat wajah merah dari wanitanya yang hampir kehabisan oksigen dengan terpaksa melepas tautan bibir milik nya dengan bibir tipis nan lembut itu dari wanitanya. Ck, baru saja dimulai ... sudah seperti mayat hidup saja kesal Brian yang niat hati ingin melanjutkan kegiatan yang telah mereka lakukan beberapa jam yang lalu.
Killa berusaha merapikan lilitan handuk yang hampir melorot ke bawah akibat tangan kekar pria tampan itu yang berusaha melepaskan handuk yang dirinya kenakan sesekali wanita itu menatap was-was terhadap pria yang sedang memperhatikan apa yang dirinya lakukan dengan posisi yang sama masih duduk di atas pangkuan pria tampan itu.
Brian yang ingin melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda akibat wanitanya hampir kehabisan oksigen dengan terpaksa menghentikan kegiatannya karena mendengar suara seseorang yang mengetuk pintu kamar hotel yang dirinya tempati saat ini. Ck, menganggu saja umpat Brian dengan terpaksa menghentikan kegiatannya karena suara ketukan pintu tersebut.
Dengan sangat hati-hati dan wajah yang luar biasa kesal Brian mendudukkan tubuhnya mungil wanitanya di atas ranjang milik nya tersebut.
"Baby ... kau tunggu di seni sebentar ok, aku akan melihat siapa orang yang berani mengganggu kegiatan kita ini. Jika tidak penting akan diriku lempar orang itu dari atas gedung ini," umpat Brian bangkit dari atas ranjang milik nya.
Cup
__ADS_1
Sebelum melihat manusia yang telah berani mengganggu kegiatan dirinya bersama wanitanya Brian memberikan kecupan manis di bibir tipis itu dengan secara kilat barulah dirinya berlalu meninggalkan wanitanya yang sedang menatap dirinya seperti elang yang siap mencabik-cabik tubuh kekar miliknya.
Bersambung