GADIS PEMUAS UNTUK SANG PRESDlR

GADIS PEMUAS UNTUK SANG PRESDlR
22. Gadis Pemuas Untuk Sang Presdir


__ADS_3

Brian hanya menatap sekilas ke arah sang sekretaris Haikal yang sedang memperhatikan dirinya yang tak jauh dari mobil mewah miliknya dan langsung berlalu begitu saja tanpa menyapa seseorang yang sedang menunggu perintah selanjutnya.


"Ah ... benar-benar bos menyebalkan," gumam Haikal menatap punggung tegap yang kian menjauh meninggalkan pekarangan apartemen yang menjulang tinggi itu. Ck, aku harus menunggu mereka di sini! ish, memang kejam. Kesal Haikal yang sedang me-layang-layangkan tinjunya ke udara.


Di tengah-tengah kekesalannya tiba-tiba saja perut Haikal berbunyi tanpa permisi dan jelas saja dirinya tidak bisa menahan untuk kali ini karena dari semalam dirinya belum mengisi perutnya dengan nasi.


"Ah ... perut ini benar-benar tidak tahu tempat, jika meminta di isi."


Haikal yang sedari semalam belum sempat mengisi perutnya dengan langkah panjang mencari tempat untuk mengisi perutnya.


Haikal yang pergi mencari yang bisa mengisi perutnya, lain halnya yang terjadi di lantai lima belas tepatnya yang masih di dalam lift menuju ke lantai lima belas.


"Shuuttt."


"Baby ... Sudah kukatakan jangan pernah lagi memohon seperti ini, aku tidak suka," Brian menekankan kata-kata yang diucapkan di depan bibir wanita yang hanya berjarak beberapa centi dari hadapan dirinya sehingga bisa merasakan deru nafas Killa saat ini yang sedang naik turun.


Tatapan mata Brian jatuh pada bibir yang sedari tadi menggoda dirinya dalam perjalanan menuju ke apartemen tidak tahan melihat bibir itu, tanpa aba-aba Brian langsung mendaratkan kecupan manis di bibir tipis nan lembut milik wanita yang sedang berusaha untuk lepas dari ciuman yang Brian lakukan.


Brian yang sedang asyik menikmati bibir tipis itu tak menyadari jika pintu lift sudah terbuka lebar dan sudah ada beberapa orang yang sedang menyaksikan apa yang telah mereka berdua lakukan.

__ADS_1


"Ck, anak muda zaman sekarang benar-benar tidak tahu tempat ... asal nyosor saja," omel pria paruh baya yang sedang mengandeng tangan wanita yang kisaran tak jauh beda dengan umurnya.


"Kau seperti tidak pernah mudah saja sayang," balas wanita yang sedang menatap pasangan muda yang sudah melepaskan ciuman mereka akibat kehadiran mereka di depan pintu masuk lift tersebut.


"Tapi aku tahu tempat setidaknya, sayang."


Tanpa menghiraukan ucapan pria dan wanita paruh baya yang sedang berdebat itu, dengan langkah panjang Brian langsung melewati mereka begitu saja dan langsung menuju apartemen yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari lift tersebut.


"Ck, tidak ada sopan-sopan nya," gerutu pria paruh baya yang melihat kepergian Brian bersama Killa yang melewati dirinya dan juga istri nya begitu saja. Sudahlah sayang ... istri pria paruh baya itu mencoba menenangkan suaminya yang kesal terhadap pasangan muda yang baru saja keluar dari dalam lift.


Dengan menggenggam erat tangan mungil Killa, sebelum membuka pintu apartemen miliknya Brian menganti cara mengakses membuka pintu apartemen yang biasanya menggunakan tanggal lahir mama dan papanya. Kini dirinya mengganti dengan sidik jarinya agar tidak sembarangan orang yang bisa masuk ke dalam, dan yang pasti untuk kedua orang tua nya yang tidak lagi bisa masuk sembarangan yang biasanya ke dua orang tua nya bebas keluar masuk. Akan tetapi, untuk kali ini Brian sedikit kejam untuk kedua orang tua nya bukan berarti kejam dalam tindakan yang dirinya lakukan.


Beberapa detik mengotak atik akhirnya selesai juga dan Brian membuka pintu apartemen dan langsung mempersilahkan wanita yang sedari tadi sudah pasrah akan nasib yang akan dirinya lalui untuk saat ini. Ck, bisakah kau tidak bersikap seperti itu! apa kau sedang berusaha untuk menggoda diriku ... baby?


Killa yang sedang tampak berpikir keras saat ini tidak luput dari pandangan Brian yang memang sedang memperhatikan wanita yang tampak sedang memikirkan sesuatu.


Killa yang sedang memperhatikan apartemen Brian untuk sesaat dirinya benar-benar takjub melihat isi ruangan itu yang sudah dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang mungkin dengan harga yang juga fantastis.


Terlena dengan ruangan apartemen itu, Killa terkejut ketika tangan mungil miliknya di tarik secara paksa untuk mengikuti langkah kaki yang sedang membawa dirinya ke ruangan yang tidak jauh dari ruangan tamu apartemen itu.

__ADS_1


"Untuk saat ini dirimu tinggal di sini dulu iya Baby ... oh tidak-tidak, untuk beberapa hari saja dirimu di sini. Karena aku akan menjemputmu untuk tinggal di mansion," ralat Brian ketika dirinya sudah sampai di ruangan yang tak lain adalah kamar pribadi miliknya.


Killa yang mendengarkan penjelasan itu jelas saja dirinya panik luar biasa karena dirinya takut tinggal di tempat sebesar dan seluas ini hanya seorang diri. Jujur saja, walau dirinya hanya tinggal seorang diri di rumah kontrakan miliknya itu di karena rumahnya tidaklah sebesar apartemen milik Brian.


Brian yang melihat perubahan yang di tunjukkan oleh Killa jelas saja mengerti akan reaksi yang di tunjukkan oleh wanita itu takut akan di tinggal oleh dirinya sendirian.


"T-tapi ... t-tuan," Killa memberanikan diri untuk protes jika dirinya tidak mau di tinggal sendirian di apartemen yang cukup luas itu.


"S-saya tidak mau."


Brian menatap dengan intens wajah yang kini sayu sedang menatap dirinya tanpa berkedip.


"Dirimu tidak perlu takut, kerena tempat ini aman untuk dirimu, dan juga diriku tidak akan lama di luar sana dan akan kembali secepatnya," ujar Brian membujuk Killa agar mau tinggal di apartemen miliknya untuk beberapa hari saja.


Cup


Selesai membujuk Killa, Brian meraih tangan mungil Killa untuk dirinya cium sebelum meninggalkan apartemen itu.


Brian tersenyum melihat perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Killa yang tadinya sedikit pembangkang dan kini sikap itu seakan tidak ada lagi di dalam diri Killa seakan-akan ke-dua nya telah lama menjalin hubungan.

__ADS_1


"Jangan takut ... oke."


Bersambung


__ADS_2