
Di meja makan Brian tidak pernah mengalihkan pandangan ke arah di mana Killa yang sedang duduk yang hanya sesekali mendongak menatap sang mama ketika di tanya mau makanan yang mana yang di inginkan lagi.
"Brian!!"
Nyonya Wigunantara sedikit meninggikan suara tatkala iya kesal akan tatapan yang diberikan oleh sang putra terhadap Killa dan sehingga membuat Killa merasa tidak nyaman" Kalau kamu sudah selesai makan segeralah pulang," usir nyonya Wigunantara terhadap sang putra.
Brian yang mendengarkan ucapan sang mama membuat iya benar-benar merasa kesal akan pengusiran sang mama secara halus.
"Ah, malam ini Brian nginap di mansion mungkin ma, kepala Brian sakit rasanya dan Brian tidak bisa nyetir mobil sendiri," elak Brian pura-pura mencari alasan agar iya tidak di usir oleh sang mama.
Nyonya Wigunantara yang memang sudah menduga sang putra tidak akan pulang hanya tersenyum tipis bahkan sama sekali tidak terlihat akan senyuman itu.
"Alasan kamu saja Brian, terus mau kamu apakan Haikal?"
Brian yang mendengar nama yang disebut oleh sang mama sontak iya melihat di mana sang sekretaris Haikal baru saja bergabung di ruang makan dan hal itu sungguh membuat Brian kesal akan kehadiran sang sekretaris Haikal secara tiba-tiba. "Ck, ketika tidak di butuhkan datang seperti jelangkung," sebal Brian melihat Haikal yang sudah duduk manis di hadapan dirinya atas perintah sang mama.
"Terima kasih Bu."
"Nona anda ada di sini?" tanya Haikal dengan ekspresi wajah terkejut dan melihat secara bergantian menatap wajah sang Presdir dan juga Killa.
"Apa kamu mengenal wanita ini Haikal?"
Haikal yang keceplosan langsung menggeleng dengan cepat akan pertanyaan dari nyonya Wigunantara yang sedang menatap iya dengan tatapan intimidasi.
__ADS_1
"Tidak Bu."
"Huh, kamu sama saja dengan Brian."
"Sayang ayo kita pergi dari sini."
Beberapa menit menghabiskan waktu di ruang makan, nyonya Wigunantara membawa Killa ke ruang tengah karena pelayan mansion telah meletakkan apa yang diinginkan oleh nyonya Wigunantara yaitu majalah baju pengantin rancangan desainer yang sering membuat rancangan untuk para artis terkenal di negeri ini.
Brian yang melihat sang papa yang sudah menyusul sang mama langsung melotot melihat ke arah di mana sang sekretaris Haikal duduk. "Ck, menemukan keberadaan seseorang wanita saja kau tidak becus," ketus Brian menatap Haikal yang hanya diam mendengarkan ocehan sang Presdir yang kesal terhadap dirinya.
Tuan Wigunantara yang baru saja bergabung di ruang tengah mengerutkan kening melihat ekspresi wajah dari sang istri yang tampak sedang kesal sambil membolak-balik majalah yang ada di hadapan dirinya.
"Sayang."
"Nih coba papa lihat."
Tuan Wigunantara langsung mengambil alih apa yang diberikan oleh sang istri, dan tuan Wigunantara tahu akan akibat kekesalan yang di alami oleh sang istri.
"Bisa-bisanya butik itu mengirimkan majalah seperti itu sama mama pa," omel nyonya Wigunantara sambil melihat sekilas akan ekspresi wajah dari sang suami. Pokoknya mama malas memesan pakaian di butik itu pa, pakaian itu terlalu terbuka untuk anak kita.
"Papa juga setuju sama mama."
Nyonya Wigunantara yang mendengar pendapat sang suami sama dengan dirinya langsung tersenyum. Dan nyonya Wigunantara langsung menatap Killa yang sedari tadi hanya diam melihat dirinya yang sedang mengomel akan majalah yang iya dapatkan dari butik ternama itu.
__ADS_1
"Hm, kalau begitu mama antar Killa ke kamar dulu yah pa agar dia bisa istirahat," izin nyonya Wigunantara terhadap sang suami.
"Iya ma."
"Ayo sayang."
Baru saja beberapa langkah akan menuju lantai atas nyonya Wigunantara dan juga Killa berpapasan dengan Brian dan juga Haikal yang baru saja meninggalkan ruang makan. "Haikal nanti kamu tidur di kamar tamu yah," ujar nyonya Wigunantara menatap wajah dari sang sekretaris putranya yang tampak sekali sedang kesal dan hal tentu saja nyonya Wigunantara tahu akan kekesalan yang sedang di alami oleh Haikal.
"Iya Bu, makasih."
Brian yang mendengar ucapan dari sang mama menatap sinis di mana Haikal yang memasang wajah tertekan di hadapan sang mama dan jelas itu membuat Brian ingin sekali menjambak rambut sang sekretaris.
"Huh, pandai sekali mencari simpati."
Brian langsung berlalu begitu saja ketika sang mama sudah meniti tangga untuk mengantar Killa ke lantai atas.
"Hehehe, pasti dia sangat kesal," gumam Haikal dalam hati sambil mengikuti langkah kaki sang Presdir.
"Mama ... papa sudah tidur, dan semua penghuni mansion sudah terlelap dengan sangat pulas akan ku temui wanita itu nanti," Brian tersenyum devil karena tidak sabar untuk melaksanakan apa yang iya telah rencana kan untuk malam nanti.
Bersambung
Maaf yah aku baru update
__ADS_1