
Brian yang sedang mengomel sambil mengotak atik benda pipih yang ada di dalam genggaman tangan langsung terkejut ketika mendengar suara seseorang yang sangat iya kenali pemilik suara bariton itu yang sedang berjalan ke arah di mana iya duduk.
"Siapa yang mau kamu habis dengan tangan kamu sendiri?"
Brian mendongak menatap pemilik suara bariton itu dan dengan cepat iya juga menyimpan benda pipih yang sempat iya otak atik beberapa menit itu dan langsung menyimpan kedalam saku celana santai yang iya kenakan.
"Siapa yang kamu mau habisi?"
"P-papa."
Tuan Wigunantara bukannya menjawab sapaan dari sang putranya yang sedang duduk itu menatap dirinya melainkan mengulangi pertanyaan yang sempat iya lontarkan kepada sang putra beberapa detik yang lalu.
"M-maksud papa apa?"
Brian tidak pernah mengatakan apa-apa sejak tadi," elak Brian berpura-pura tidak mengerti maksud dari arah pertanyaan dari sang papa yang sedang menatap dirinya dengan tatapan intimidasi.
"Kamu pikir papa tuli ... begitu?"
"Ck, dasar anak durhaka."
Brian lebih memilih diam mendengar tuduhan sang papa yang memang benar adanya. Akan tetapi, Brian juga memilih diam dari pada nanti yang tidak ada akhirnya jika sudah berdebat bersama sang papa yang memang tidak mau kalah.
Jika tuan Wigunantara dan juga Brian yang masih saja berdebat, sementara itu di sisi lain tepatnya di lantai atas nyonya Wigunantara bersama dua orang pelayan berusaha membuka pintu kamar mandi yang ternyata di kunci oleh sang embun dari dalam.
"Sayang!!"
"Nona muda!!"
Tiga wanita yang beda usia itu terus berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi yang tak kunjung di sahut oleh sang embun dari dalam. "Apa kalian yakin menantu saya masih di dalam? kenapa tidak ada tanda-tanda ada orang di dalam sana?" suara nyonya Wigunantara sudah naik satu oktaf lantaran kesal terhadap dua pelayan yang iya tugaskan untuk menjaga sang menantu ternyata tidak di laksanakan sesuai perintah iya berikan.
__ADS_1
"Sangat yakin nyonya."
Setelah nona muda masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, saya menunggu di sini, dan dia yang menyiapkan pakaian yang akan di kenakan nona muda di walk in closet. Nyonya Wigunantara yang mendengar penjelasan dari pelayan pribadi yang iya tugaskan untuk membantu kebutuhan menantunya menghela nafas panjang, jujur nyonya Wigunantara sangat khawatir jika sang menantu melarikan diri dari kediaman keluarga Wigunantara karena iya sudah susah payah membawa wanita itu keluar dari apartemen sang putra.
"Huh, syukurlah."
Nyonya Wigunantara kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan sedikit mengunakan tenaga dalam berharap bisa mendengar suara sahutan dari dalam. Akan tetapi, nyatanya tidak ada sama sekali tanda-tanda dari dalam yang menandakan akan akan membuka pintu itu segera.
"Kalian kenapa masih di sini? cepat panggilkan tuan dan beberapa penjaga mansion agar mereka mendobrak pintu ini," perintah nyonya Wigunantara terhadap dua pelayan menantunya yang malah bengong melihat dirinya yang sedang mengendor-ngedor pintu seperti penagih hutang pada pelanggannya. "Ck, menjaga satu wanita saja tidak bisa," gerutu nyonya Wigunantara setelah dua pelayan itu sudah berlalu dari kamar sang menantu.
Dua pelayan itu langsung berlari menuju lantai bawah mencari keberadaan tuan Wigunantara dan juga untuk memanggil penjaga mansion atas perintah sang nyonya yang masih berusaha untuk membuka pintu kamar mandi tersebut.
"Tuan ... tuan!!"
Tuan Wigunantara yang tadinya berniat ingin mendesak sang putra mengaku atas ucapan yang sempat iya dengar tadi terhenti mendadak tatkala iya mendengarkan suara dua pelayan mendekati mereka berdua di ruang tengah dengan ngos-ngosan akibat berlarian dari lantai atas.
Tuan Wigunantara yang melihat ke-dua pelayan yang iya ketahui sebagai tugas untuk membantu sang menantu atas perintah sang istri langsung bergantian menatap ke-dua pelayan itu secara bergantian yang tak kunjung bicara.
"Ck, kalian cepat katakan apa yang terjadi? jangan membuat kalian menyesal nantinya," ancam tuan Wigunantara yang sedikit kesal melihat ke-dua pelayan itu yang tak kunjung bicara. Dan itu jelas membuat tuan Wigunantara sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang sang istri dan juga menantunya.
"Tuan ... nyonya menyuruh tuan membawa beberapa penjaga ke kamar nona muda, untuk mendobrak pintu kamar mandi karena nona muda sampai sekarang belum juga keluar dari kamar mandi," ujar salah satu pelayan itu dengan suara gugup karena iya takut melihat tatapan tajam yang di berikan oleh tuan Wigunantara. "Ck, kenapa tidak sedari tadi kalian bicara! kalau sampai terjadi apa-apa dengan wanita itu kalian tanggung akibatnya," ancam tuan Wigunantara yang tidak jauh berbeda dengan sang istri tercintanya mengancam dua pelayan tersebut.
"M-maaf tuan."
"Ck, terlambat."
Tanpa pikir panjang tuan Wigunantara langsung melangkah dengan cepat menuju ke lantai atas di mana sang istri menunggu kedatangan dirinya.
Tuan Wigunantara yang akan meniti tangga berbalik badan menatap ke arah di sang putra berdiri yang tak bergerak sama sekali mengikuti langkah kaki nya. "Ck, Brian! kenapa malah berdiri saja di sana? ikut papa! dan kalian ber-tiga sekalian ikut bersama saya," perintah tuan Wigunantara yang langsung menuju ke lantai atas.
__ADS_1
Brian yang masih tidak mengerti apa yang telah terjadi sebenarnya tetap melangkah mengikuti sang papa meniti tangga dengan sedikit berlari karena iya tidak mau mendengarkan omelan sang papa yang tidak akan ada ujungnya nanti jika sudah mengomel.
Dua pelayan dan juga tiga penjaga mansion mengikuti langkah ke-dua majikannya yang sedikit terburu-buru meniti tangga menuju ke lantai atas itu.
"Sayang!!"
"Papa!!"
Nyonya Wigunantara langsung menghambur ke dalam pelukan sang suami yang tatkala melihat kehadiran sang suami di kamar menantunya yang sampai detik ini masih betah di dalam sana sampai tidak sedikitpun terusik akan kehebohan yang terjadi di luar saat ini.
"Tenanglah sayang, tidak akan terjadi apa-apa dengan menantu kita," ujar tuan Wigunantara sambil mengusap punggung sang istri untuk menenangkan agar tidak terlalu khawatir akan nasib sang menantu yang masih berada di dalam kamar itu.
"Drama apa lagi ini?"
"Brian cepat dobrak pintu kamar mandi ini! kenapa kamu malah melamun saja? dan kalian ber-tiga bantu Brian," perintah tuan Wigunantara menyuruh ke tiga badan kekar itu untuk mengobrak pintu kamar mandi tersebut.
Sementara di luar kamar mandi mulai mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar mandi itu, lain halnya dengan Killa yang mulai terbangun dari alam mimpi karena mendengar suara-suara yang sedikit menganggu tidurnya beberapa jam lalu.
"Ck, ada apa lagi di luar sana."
Satu,
Dua,
Tiga,
"Aaaaahhhhh!!"
Bersambung
__ADS_1