
Mendengar tangisan yang semakin terdengar memilukan nyonya Wigunantara mencari asal suara dengan menempelkan telinga di lemari yang berjejer di pinggir kamar itu untuk menemukan dari mana asal suara tangisan itu.
Mulai dari pintu lemari pertama hingga nyonya Wigunantara terhenti di pintu lemari nomor lima karena suara tangisan itu benar-benar jelas ditelinga nya.
"Huh, di sini rupanya dia bersembunyi," gumam nyonya Wigunantara memperhatikan pintu lemari itu yang memang benar-benar tinggi sehingga bisa untuk seseorang bersembunyi.
Tak mau kenapa-kenapa dengan calon menantu dan juga penerus keluarga Wigunantara. Tanpa menunggu lama-lama nyonya Wigunantara langsung membuka pintu lemari tersebut.
Ceklek
"Ampunnnnn!' jangan bunuh saya nyonya!" tangis Killa langsung berlutut memeluk kaki yang telah membuka pintu lemari tempat persembunyian dirinya tatkala pintu lemari itu terbuka lebar sehingga tanpa melihat seseorang yang telah membuka pintu lemari tersebut.
Untuk sekian kali jantung nyonya Wigunantara berdegup kencang melihat aksi tak terduga yang dilakukan oleh calon menantunya yang entah mengapa tiba-tiba langsung berhamburan memeluk kakinya.
"Nyonya, ampunnnnn! jangan bunuh saya nyonya ... saya tidak pernah menggoda suami anda nyonya," tangis Killa tersedu-sedu sambil memeluk erat kaki nyonya Wigunantara sehingga membuat keseimbangan tubuh nyonya Wigunantara hampir terjatuh jika tidak peregangan di pinggir lemari itu.
Nyonya Wigunantara yang mendengar ucapan yang keluar dari bibir tipis wanita yang sedang menangis sambil memeluk kakinya begitu erat hanya tersenyum melihat tingkah wanita itu yang benar-benar gemas menurutnya.
"Ehemm, kamu bisa membahayakan calon cucu ku kalau kamu seperti ini terus," ujar nyonya Wigunantara menatap intens wanita yang hingga kini tak kunjung menampakkan wajah terhadap dirinya sampai saat ini.
Killa yang mendengar suara lembut itu seketika tangisan yang tadi begitu memilukan di dengar oleh siapa saja langsung mendongak-kan kepala demi memastikan pemilik suara itu.
Senyuman begitu teduh yang pertama kali Killa dapatkan dari wanita yang sedang dirinya tatap tanpa ada ekspresi menakutkan yang ada dalam pikiran yang tadi sempat terlintas di kepala nya.
"Berdirilah, apa dirimu nyaman dengan posisi seperti ini terus," tanya nyonya Wigunantara dengan lembut sambil tersenyum mengulurkan tangan untuk meraih tangan wanita yang tidak berkedip menatap wajah dirinya.
Ehemm
Nyonya Wigunantara berdehem sedikit keras guna untuk membuyarkan lamunan wanita yang masih saja mendongak tanpa berkedip melihat kearah dimana iya berdiri.
Dan dengan reflek Killa langsung meraih tangan wanita paruh baya untuk membantu dirinya berdiri.
"Apa sudah puas menangis," tanya nyonya Wigunantara ketika melihat wanita dari putranya sudah berdiri di hadapan dirinya saat ini sambil *******-***** ujung baju dengan menundukkan kepala.
Killa yang mendengar ucapan yang keluar dari wanita paruh baya itu langsung mendongak memberanikan diri untuk melihat pemilik suara lembut yang ada di hadapan dirinya.
__ADS_1
"N-nyonya!"
"Mama dong sayang!" bukan nyonya, karena saya bukan majikan kamu," ujar nyonya Wigunantara menuntun Killa duduk di ranjang king size itu, sementara Killa duduk di ranjang nyonya Wigunantara berjalan ke arah lemari di mana Killa bersembunyi tadi.
Nyonya Wigunantara merapikan tempat persembunyian Killa agar Brian tidak mencurigai bahwa seseorang telah masuk ke dalam apartemen tanpa seizin dari sang pemilik apakah tersebut.
Dan nyonya Wigunantara langsung menghampiri Killa yang sedang menatap kearah dimana iya berjalan tanpa berkedip menatap wajah dirinya.
Tak memperdulikan kebingungan yang sedang di alami oleh Killa, nyonya Wigunantara menuntun Killa keluar dari kamar itu untuk menuju pintu keluar.
Killa yang masih kebingungan tetap melangkah mengikuti langkah kaki yang sedang berjalan di depan. Sadar apa yang telah terjadi seketika Killa melepaskan pegangan tangan dari wanita yang masih memegang erat tangan mungil miliknya.
"Ada apa sayang? apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya nyonya Wigunantara dengan suara lembut menatap wajah dari calon menantunya yang sedang menatap wajah dirinya tanpa berkedip sama sekali.
Killa hanya menggeleng untuk menjawab deretan pertanyaan dari nyonya Wigunantara yang masih menatap dirinya dengan senyuman begitu teduh sehingga membuat Killa terasa menemukan sosok seorang ibu.
"Yah sudah kalau tidak ada!" lebih baik kita segera tinggalkan tempat ini sebelum dia pulang," ajak nyonya Wigunantara kembali meraih tangan mungil Killa agar mengikuti langkah kaki untuk menuju pintu keluar apartemen itu.
Ceklek
"Sayang!"
Tuan Wigunantara terkejut ketika melihat seseorang wanita yang sedang berdiri di samping istri nya yang sedang menundukkan kepala yang tidak berani menatap kearah arah di mana dirinya berdiri.
"Tanya-tanya nanti saja sayang!"
"Cepat kunci kembali pintu apartemen anak nakal itu," sahut nyonya Wigunantara tanpa memperdulikan akan ekspresi wajah dari sang suami.
Setelah memastikan apartemen itu aman, nyonya Wigunantara, tuan Wigunantara, dan juga Killa langsung meninggalkan apartemen itu untuk menuju ke lantai bawah.
Di dalam lift tidak ada percakapan di antara mereka bertiga ke dua orang tua Brian fokus menatap pintu lift yang tak kunjung terbuka sehingga membuat wanita paruh baya itu berdecak kesal lantaran pintu lift tersebut tak kunjung sampai ke lantai bawah.
"Sabarlah sayang, sebentar lagi juga sampai," ujar tuan Wigunantara menenangkan sang istri yang tampak sekali tidak sabar menunggu pintu lift itu terbuka.
Ting
__ADS_1
Pintu lif terbuka dengan lebar dan nyonya Wigunantara langsung menarik tangan mungil Killa agar segera keluar dari dalam lift itu.
"Apa mereka berdua ini mau menjual diri ku terhadap orang-orang bejjatt di luar sana," gumam Killa sembari memperhatikan keadaan sekitar yang tampak tak jauh dari tempat itu sudah ada beberapa orang seperti sudah menunggu kedatangan mereka.
Killa berhenti melangkah sehingga membuat nyonya Wigunantara langsung berbalik badan untuk melihat ke arah Killa yang sedang berdiri dengan wajah yang sulit di artikan oleh nyonya Wigunantara.
"Ada apa sayang? apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya nyonya Wigunantara dengan suara lembut melihat dengan intens wajah yang sedang berdiri di hadapan dirinya.
"Katakan saja, tidak usah takut."
"S-saya mau pulang nyonya," ujar Killa dengan suara gugup karena takut melihat beberapa orang yang berbadan besar tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"No sayang!"
"Kalau untuk itu mama tidak akan izinkan, kecuali kamu minta yang lain akan mama kabulkan," ujar nyonya Wigunantara dengan lembut sambil membingkai wajah Killa dan menatap mata bulat nan indah itu yang mulai mengembun karena menahan air mata agar tidak jatuh.
"Jangan mikirin macam-macam, mama tidak akan menyakiti kamu," ungkap nyonya Wigunantara yang tahu akan kepanikan wanita yang tidak mau di ajak oleh dirinya untuk ikut bersama nya.
Tak lama kemudian mobil mewah berhenti dan dari salah satu pria berbadan besar keluar dari dalam mobil untuk membuka pintu. "Silahkan nyonya" ujar pria berbadan besar itu mempersilahkan sang nyonya untuk masuk ke dalam mobil tersebut yang sudah ada tuan Wigunantara yang terlebih dahulu masuk ke dalam mobil mewah itu.
Dengan terpaksa Killa masuk ke dalam mobil mewah tersebut entah kemana orang-orang yang tidak dirinya kenali sama sekali akan membawa dirinya. "Ck, nasib ku memang benar-benar malang sekali." Batin Killa sambil melirik dengan ekor mata melihat wanita paruh baya itu sedang sibuk mengotak atik benda pipih yang ada dalam genggaman tangan entah apa yang dilihat oleh wanita itu.
Sementara itu di sisi lain tepatnya di apartemen Brian, Brian begitu murka mengetahui bahwa seseorang yang telah berhasil masuk ke dalam apartemen miliknya tanpa izin dan membuat dirinya tambah murka karena mengetahui wanita yang baru beberapa jam tinggal di apartemen itu ikut menghilang dari apartemen tersebut.
"Bajingann, keparatt, bedebah, brengsek."
Apartemen yang tadi begitu rapi kini sudah seperti kapal pecah karena Brian begitu emosi karena Killa berhasil melarikan diri dari keamanan apartemen yang telah di buat oleh dirinya sedemikian ketat dan nyatanya Brian tetap kalah dari seorang wanita yang tampak lemah.
Brian merogoh saku celana untuk menghubungi sang sekretaris agar mencari tahu siapa yang telah berani memasuki apartemen tersebut tanpa seizin dari sang pemilik.
"Baik tuan."
Selesai menghubungi sang sekretaris, Brian kembali mengotak atik rekaman cctv apartemen itu dan sayang nya apartemen itu sudah tahu oleh orang tersebut dan alhasil rekaman cctv itu sudah di hapus.
"Bajingann."
__ADS_1
Bersambung