GADIS PEMUAS UNTUK SANG PRESDlR

GADIS PEMUAS UNTUK SANG PRESDlR
27. Gadis Pemuas Untuk Sang Presdir


__ADS_3

"Dasar payah."


Haikal hanya diam saja karena saat ini iya menjadi sasaran kekesalan dari sang Presdir, kerana tidak berhasil menemukan keberadaan wanita yang seakan hilang di telan bumi. Entah bagaimana mana wanita berbadan mungil itu bisa melarikan diri dari apartemen sang Presdir, kini Haikal tampak berpikir keras dan meneliti setiap sudut apartemen itu karena sampai sekarang Haikal masih belum juga menemukan atas jawaban dirinya sendiri. "Aneh, dari mana wanita itu keluar? pintu saja masih terkunci dengan sangat aman? dan bahkan jendela saja tidak ada, bagaimana wanita itu keluar dari dalam apartemen ini?"


"Aaawwh."


Haikal menjerit ketika satu bantal sofa yang empuk mendarat sempurna mengenai wajah tampan miliknya ketika Brian melempar bantal sofa itu dengan jarak yang lumayan dekat dengan dirinya. "Ish menyebalkan, kalau bukan Presdir ... sudah ku balas balik melempar bantal sofa ini," batin Haikal yang sedang mengumpat sang Presdir dalam hati nya.


"Kau memaki diriku Haikal! kau pikir diriku tidak tahu isi otok mu itu," umpat Brian menatap tajam wajah sang sekretaris Haikal yang tampak berubah setelah mendengar ucapan dari sang Presdir.


Gleg


Dengan susah payah Haikal menelan saliva karena apa yang di katakan oleh sang Presdir memang benar adanya karena iya memang sedang mengumpat sang embun yang sedang menatap dirinya dengan begitu dingin dan seperti ingin mencabik-cabik tubuh kekarnya.


Brian yang masih saja kesal dan masih menatap tajam terhadap sang sekretaris Haikal yang untuk kali ini memang benar-benar tidak bisa diandalkan hanya untuk menemukan satu wanita saja tidak bisa dan sehingga tatapan Brian terputus terhadap sang sekretaris karena satu notifikasi masuk ke handphone miliknya.


"Papa."


Brian, nanti pulang ke mansion! dan satu lagi jangan sampai telat datang sebelum makan malam.


Seperti itu isi pesan dari tuan Wigunantara untuk sang putranya Brian.


Brian menghela nafas sangat panjang sebelum menatap kembali di mana sang sekretaris Haikal masih di posisi yang tadi ketika mendapatkan bantal sofa yang empuk yang di lempar oleh sang Presdir.

__ADS_1


"Pasti soal itu-itu lagi."


"Ck, menyebalkan."


Brian bangkit dari tempat duduk menuju ke arah di mana kamar pribadi milik iya berada yang beberapa jam tadi di tempati oleh wanita nya sebelum iya meninggalkan apartemen itu dengan keadaan yang tidak mencurigakan sama sekali. Brian berbalik menoleh ke arah sang sekretaris Haikal, " Kau bereskan kekacauan yang kau berbuat Haikal! dan sebelum diriku selesai mandi semua ini sudah beres dan kalau sampai belum juga seperti semula barang-barang ini! gaji bulan ini akan ku potong lima persen," ujar Brian tanpa dosa berlalu dari ruangan itu meninggalkan sang sekretaris Haikal yang sedang menganga lebar usai mendengarkan ucapan dari sang Presdir.


"Ckckckckck, menyebalkan, sejak kapan aku membuat ruangan ini seperti kapal pecah? dasar sarap," maki Haikal menatap punggung tegap itu kian menjauh dari pandangan Haikal.


"Tidak perlu memaki diriku! kerjakan saja dengan ikhlas," sahut Brian tahun akan isi otak dan juga hati sang sekretaris Haikal saat ini pasti sedang memakai dirinya habis habisan tentunya.


Gleg


Lagi dan lagi Haikal dengan susah payah menelan saliva karena ucapan dari sang Presdir yang benar-benar tidak pernah salah akan apa yang ada dalam otak dan juga isi hatinya saat ini. "Ck, selain bisa membaca pikiran orang, ternyata dia juga punya ilmu gaib," batin Haikal yang sedang menutup mulutnya dengan telapak tangan besar miliknya.


Dengan hati sedikit tidak ikhlas, Haikal dengan telaten merapikan kembali apartemen sang Presdir yang seperti kapal pecah itu dan meletakkan barang-barang itu pada tempat semestinya. "Huh, kalau bukan Presdir, sudah ku kasih tuh muka tampan hadiah dengan telapak tangan besar ini," gumam Haikal di sela-sela kegiatan beres-beres apartemen itu dengan mulut terus saja tak berhenti bergumam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Hampir setengah jam kemudian barulah kegiatan beres-beres mendadak yang Haikal lakukan barulah selesai. Dan Haikal bernapas dengan panjang tatkala pintu kamar sang Presdir masih tertutup rapat itu tanda nya gaji bulan ini aman dan tidak ada drama-drama potong-potong lima puluh persen. "Huh, untung muka datar itu belum juga keluar," gumam Haikal melihat pintu kamar sang Presdir.


Haikal yang merasa tenggorokan kering sehabis merapikan tempat yang sempat seperti kapal pecah beberapa saat yang lalu berjalan dengan Gondai menuju arah dapur untuk menghilangkan rasa dahaga yang melanda dirinya saat ini.


"Ck, Apartemen Presdir! minuman warna saja tidak ada."


Haikal yang tidak menemukan minuman yang berwarna di tempat penyimpanan dengan terpaksa minum air tanpa warna yang iya isikan dalam gelas yang berada dalam genggaman tangan kekarnya itu.

__ADS_1


Tak berselang lama Haikal meninggal ruangan itu untuk mencari minum, tampak Brian keluar dari dalam kamar dengan wajah yang sedikit segar dari pada beberapa menit yang lalu lantaran iya di tinggalkan oleh sang wanita yang hilang bak di telan bumi.


"Ck, kemana lagi badan gorila itu pergi."


"Haikal!!"


Brian yang suasana hati yang kurang baik-baik saja berteriak memanggil sang sekretaris Haikal yang sedang meneguk minuman yang tinggal sedikit lagi dalam gelas yang berukuran besar itu sehingga tegukan yang terakhir langsung iya semburkan lantaran mendengar suara sih muka datar melengking tinggi.


"Ish menyebalkan, apa tidak bisakah dengan suara biasa saja memanggil! Haikal langsung meninggalkan ruangan itu dan segera menghampiri sang Presdir yang seperti kerasukan jin pohon mangga yang ada di pos jaga di bawah apartemen.


"Saya di sini tuan."


Dengan ngos-ngosan Haikal menghampiri muka yang sedang menatap dirinya dengan tatapan tajam, "Ck, menyebalkan sekali tatapan itu," maki Haikal yang berani dalam hati saja memaki sang Presdir.


Tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun Brian berlalu begitu saja tanpa dosa melihat muka sang sekretaris Haikal yang baru saja menarik napas panjang setelah dari dapur apartemen itu dan di tinggal begitu saja.


"Yah tuhan, tu orang benar-benar."


"Sabar Haikal, itu cuma untuk sementara waktu, jika sudah dapat penawar nanti juga sehat sendiri," gumam Haikal menyemangati diri nya sendiri.


"Haikal!!!!!!!."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2