
Setelah memastikan apartemen miliknya aman dan terkunci, Brian dengan langkah panjang langsung menuju lift yang hanya berjarak beberapa langkah dari apartemen dan langsung menekan tombol lantai bawah untuk tujuan utama.
Tidak butuh lama kini Brian sudah sampai di lantai bawah dan langsung menghampiri pos jaga untuk meminjam alat komunikasi agar dirinya bisa menghubungi sang sekretaris nya Haikal. Dan entah di mana saat ini keberadaan manusia yang satu itu sedang menghilang dari pekarangan apartemen saat ini.
Security yang melihat kedatangan seseorang yang dikenalinya langsung menghampiri Brian yang juga sedang menuju ke arah dirinya saat ini.
"Tuan Brian," sapa security yang sudah sampai di mana Brian berhenti ketika mereka ber-dua sudah berhadapan.
"Pak Maman!!"
"Iya tuan ... apa tuan Brian butuh sesuatu?" tanya pak Maman to the point.
"Saya mau pinjam telepon di pos ... boleh pak Maman?" tanya Brian memberitahukan niat dirinya menghampiri pos jaga security pak Maman tersebut.
"Tentu saya boleh tuan Brian," jawab pak Maman dengan tersenyum karena tak jarang Brian memberikan tips jika sudah menghampiri dirinya di pos jaga.
Kini dua manusia yang beda usia itu sedang beriringan jalan menuju pos jaga pak Maman yang tidak jauh dari mereka berdiri tadi.
"Silahkan tuan Brian."
"Terima kasih pak Maman."
Drrtt ... drrtt ... drrtt
Dua menit Brian menghubungi sang sekretaris Haikal tak kunjung di jawab oleh pemilik nomor yang dirinya hubungi sehingga membuat Brian ingin sekali melempar yang saat ini dirinya genggam ke wajah sang sekretaris.
Menit berikutnya barulah sambungan telepon di jawab oleh pemilik nomor tersebut. Ck, kau kemana saja Haikal? baru kau jawab panggilan dari ku? omel Brian ketika panggilan sudah di jawab oleh seseorang yang berada di sebrang telepon tersebut.
Lagi dan lagi Haikal mengusap telinga akan suara Brian yang begitu nyaring bahkan telinga sebelah kiri Haikal terasa perih akibat suara tersebut. Oh my good, tiap hari seperti ini telinga ku bisa tuli di buat oleh nya, batin Haikal menjauhkan handphone itu dari telinga nya.
"Haikal!!"
"lya tuan!!"
Haikal yang reflek langsung mengeluarkan suara yang tak kalah nyaring dari sang Presdir yang memanggil namanya yang begitu nyaring.
"Dasar sekretaris tidak berguna."
"Ck, memang mulut tidak punya etika," kesal Haikal ketika Brian seenak dengkulnya saja mengatai dirinya tidak berguna.
__ADS_1
"Apa kau mendengarkan ku Haikal?"
"Saya dengar tuan."
"Sekarang juga kau kembali ke mobil, empat menit aku tunggu ... jika tidak gaji mu aku potong lima puluh persen." setelah mengatakan itu Brian langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari sekretaris dari Haikal.
"Tut ... tut ... Tut."
"What!!" lima puluh persen," pekik Haikal langsung bangkit dari tempat duduknya sehingga dirinya menjadi pusat perhatian di kedai itu akan sikap reflek Haikal yang terkejut luar biasa akibat ulah sang Presdir.
Dengan terpaksa Haikal menghentikan acara mengisi perutnya yang lapar tadi, dan dengan tergesa-gesa Haikal membayar makanan yang tadinya dirinya pesan.
"Kembaliannya ambil saja Bu," ujar Haikal setelah sedikit menjauh dari area kedai itu.
Mendengar teriakkan dari Haikal, sontak penjaga kedai itu melihat uang yang masih berada dalam genggaman tangannya. Ck, kembalian apa-nya ... uang cuma pas-pasan begini. Dasar, cakep-cakep gila," omel penjaga kedai tersebut.
"T-tuan."
Dengan napas yang masih ngos-ngosan Haikal langsung menghampiri Brian yang sedang bersandar di badan mobil samping sambil menatap dirinya dengan tatapan tajam yang luar biasa tajam bahkan melebihi tajamnya silet.
"Ck, baru saja diriku pergi, dirimu sudah menghilang saja ... jika sudah bosan kerja ajukan saja surat resign," ketus Brian sebelum mendaratkan bo-kongnya di kursi mobil mewah miliknya.
"Ah ... benar-benar bos menyebalkan," umpat Haikal memutari badan mobil mewah itu untuk dirinya segera masuk sebelum mendapatkan kata-kata mutiara yang akan keluar dari bibir menyebalkan bos-nya tersebut.
Mendengar itu, Brian langsung membuka mata dan menatap sang sekretaris Haikal melalui kaca spion mobil-nya.
"Apa mama ada tanya keberadaan ku?" tanya Brian tanpa menjawab pertanyaan dari sang sekretaris Haikal.
"lsh menyebalkan ... lain yang di tanya lain pula yang di jawab," gumam Haikal dalam hati sambil melihat Brian melalui kaca spion mobil itu.
"Office."
Padat dan singkat, Brian mengucapkan kata itu dan kembali memejamkan mata sejenak untuk menghilangkan rasa yang tiba-tiba saja datang akan khawatir dari wanita yang baru beberapa menit yang tinggal di apartemen miliknya.
"Mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa."
Beberapa menit menempuh perjalanan, Brian dan Haikal sampai di pekarangan perusahaan yang menjulang tinggi itu.
"Untuk hari ini semua jadwal ku kosongkan saja! Haikal," perintah Brian pada sang sekretaris Haikal sebelum keluar dari dalam mobil. Dan setelah mengatakan itu tanpa rasa bersalah Brian berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Haikal.
__ADS_1
Brak
"Yah tuhan ... tuh orang kerasukan jinn apa?" tanya Haikal terhadap dirinya sendiri sambil mengelus dada akibat pintu mobil yang di banting lumayan kencang oleh Brian.
Melihat Brian yang sudah menghilang dari pandangan, Haikal langsung menghubungi satu persatu rekan kerja yang tadinya sudah di jadwalkan pertemuan dengan Brian hari ini.
Setelah membatalkan semua pertemuan, Haikal keluar dari dalam mobil yang sebelumnya sudah dirinya parkir di tempat khusus parkiran mobil untuk sang Presdir perusahaan tersebut.
"Memang betul kata orang-orang, jika sudah ada wanita ... yang lain di abadikan," gerutu Haikal di sepanjang perjalanan menuju ke ruangan kerja miliknya. Ck, menyebalkan.
Sementara itu di sisi lain, tepatnya di mansion Wigunantara saat ini kedua orang berbeda jenis kelamin itu yang tak lain adalah kedua orang tua dari Brian saat ini sedang menyusun rencana dan memberikan tugas kepada penjaga mansion untuk membantu rencana mereka agar berjalan dengan lancar.
"Apa kalian sudah mengerti! apa yang sudah sampaikan?" tanya nyonya Wigunantara kepada lima penjaga mansion yang sedang berdiri di hadapan dirinya saat ini.
"Mengerti, nyonya."
"Bagus."
Ke lima pria berbadan besar itu langsung menuju ke tempat yang telah di beritahu oleh wanita paruh baya itu untuk menjalankan tugas mereka masing-masing yang telah di perintahkan oleh wanita paruh baya itu.
Melihat ke lima pria berbadan besar itu, nyonya Wigunantara langsung menoleh ke arah sang suami yang sedang berdiri di samping dirinya.
"Ayo, sayang," ujar nyonya Wigunantara merangkul lengan suaminya dengan begitu bahagia karena dirinya sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan sosok manusia yang saat ini sedang di kurung oleh putranya, dan benar-benar putranya itu seenaknya saja mengurung anak gadis orang di apartemen miliknya.
Di apartemen Brian,
Killa beranjak dari kamar pribadi milik Brian, kaki mungil itu menuju pintu keluar untuk melihat suasana apartemen itu apa ada celah untuk bisa kabur dari apartemen yang sudah begitu rapat dan benar-benar tidak ada ada kesempatan untuk dirinya keluar dari sini. Huh, tidak ada sedikit pun celah di apartemen ini." bagaimana mana aku bisa pergi selagi dia di luar sana."
"Pria bajingann."
Wajah yang tadi sempat seperti jeruk yang belum masak, kini tampak ceria tatkala melihat benda yang sekiranya bisa membantu dirinya untuk melancarkan rencananya.
"Itu dia."
Terlalu bahagia tadinya membuat dirinya benar-benar merasa kecewa apa yang diharapkan tidak sesuai apa yang dirinya inginkan. Nyatanya benda yang setidaknya bisa digunakan itu tidak lah bisa digunakan sebagai alat untuk menghubungi seseorang agar bisa membantu dirinya seperti saat-saat seperti ini.
"Huh, aku sih yang terlalu bahagia tadi," gumam Killa membolak-balik benda yang masih ada di dalam genggaman tangan mungil miliknya melihat benda itu yang sama sekali tidak bisa digunakan.
Killa yang masih asyik memandangi benda di dalam genggaman tangannya, langsung berbalik badan lantaran dirinya samar-samar mendengar suara di arah pintu masuk apartemen itu.
__ADS_1
"A-apa ada maling?"
Bersambung