GADIS PEMUAS UNTUK SANG PRESDlR

GADIS PEMUAS UNTUK SANG PRESDlR
28. Gadis Pemuas Untuk Sang Presdir


__ADS_3

Haikal yang merasa bosan selama perjalanan menuju ke kediaman keluarga Wigunantara berinisiatif untuk memutar lagu agar selama perjalanan tidak merasakan bosan menemani perjalanan mereka ber-dua. Yang biasanya ada pembahasan soal kerja bersama sang Presdir untuk menemani perjalanan mereka, dan kali ini hanya ada alunan lagu yang akan menemani perjalanan mereka ber-dua menuju ke kediaman keluarga Wigunantara.


Beberapa menit mendengar alunan lagu yang sempat di putar oleh Haikal tampak nya suasana di dalam mobil biasa-biasa saja bahkan Brian saja sampai memejamkan mata menikmati alunan lagu tersebut. Tidak di sangka lagu putaran berikutnya membuat suasana menjadi mencengkram tatkala Haikal melihat dari kaca spion mobil sang Presdir langsung membuka mata dan menatap dirinya dengan tatapan tajam melalui kaca spion mobil mewah itu.


"Kau sengaja memutar lagu itu untuk mengejek diri ku Haikal? ngaku saja" iya kan?" bentak Brian sambil menendang kursi yang di duduki sang sekretaris Haikal yang sedang mengemudi mobil mewah saat ini.


"T-tidak tuan! Sungguh saya tidak bermaksud mengejek anda dengan lagu ini," sahut Haikal dengan suara gugup lantaran iya melihat tatapan tajam sang Presdir seperti ingin mencabik-cabik tubuh kekarnya melalui kaca spion mobil.


"Huh, serba salah kalau sudah seperti ini keadaan."


Dengan cepat Haikal langsung menekan tombol off untuk mematikan lagu yang sempat menemani kesunyian mereka ber-dua selama perjalanan menuju ke kediaman keluarga Wigunantara. Akan tetapi, justru Brian menganggap Haikal sengaja memutar lagu itu untuk mengejek dirinya akan apa yang terjadi saat ini.


"Ck, alasan kau saja."


Haikal tetap fokus walau iya mendengarkan ocehan dan kata-kata mutiara yang keluar dari bibir sexy sang Presdir yang sedang suasana hati yang bisa dikatakan tidak baik-baik saja untuk saat ini.


Beberapa menit menempuh perjalanan menuju ke kediaman keluarga Wigunantara, akhirnya mobil mewah yang dikemudikan oleh sang sekretaris Haikal sampai di gerbang mansion menjulang tinggi itu.

__ADS_1


Penjaga mansion yang hafal dengan mobil tuan muda dari keluarga Wigunantara langsung membuka pintu gerbang mansion agar mobil mewah itu bisa masuk. Dan Haikal membuka pintu kaca mobil mewah itu untuk menyapa penjaga mansion dari keluarga Wigunantara yang sedang berjaga di pos jaga.


"Selamat malam tuan Haikal."


"Malam pak Yu."


Haikal kembali menjalankan mobil itu setelah sempat berhenti di pos jaga mansion, dan setelah itu Haikal kembali menjalankan mobil itu dengan kecepatan sedang lantaran jarak mobil dan pekarangan mansion tidak lagi jauh.


Setelah Haikal memarkirkan mobil mewah itu di tempat khusus mobil tuan muda dari keluarga Wigunantara dengan cepat Haikal turun dari mobil untuk membuka pintu mobil untuk sang Presdir.


"Silahkan tuan."


Brian yang melihat sang mama berdiri di depan pintu utama mansion yang hanya berjarak beberapa langkah di antara iya dan sang mama membuat Brian yang melihat senyum di wajah sang mama mendadak perasaan tidak enak akan senyuman yang menghiasi wajah sang mama yang sedang menatap dirinya.


"Nyonya ... nyonya."


Baru saja nyonya Wigunantara ingin menyambut kedatangan sang putranya sambil memeluk pemilik tubuh kekar itu, nyonya Wigunantara menghentikan langkah kaki karena mendengar suara teriakan dari dua pelayan yang iya tugaskan untuk membantu kebutuhan menantunya yang baru beberapa jam lalu tinggal di mansion milik keluarga Wigunantara.

__ADS_1


"Ada apa? kenapa wajah kalian terlihat panik begitu?" tanya nyonya Wigunantara menatap wajah kedua pelayan yang sedang panik menatap dirinya yang sedang berusaha mengatur napas mereka masing-masing lantaran dua pelayan itu berlari dari lantai atas di mana kamar Killa berada.


"N-nyonya."


Salam satu pelayan tampak gugup ketika ingin menyampaikan keadaan nona muda mereka yang tak kunjung keluar dari kamar mandi setelah di tinggalkan oleh salah satu pelayan beberapa jam yang lalu untuk menyiapkan pakaian yang akan di pakai oleh nona muda mereka. Akan tetapi, beberapa jam menunggu tak kunjung melihat pintu kamar mandi itu terbuka oleh nona muda mereka. Bahkan dua pelayan itu sampai menggedor-gedor pintu kamar mandi itu untuk memanggil nona muda mereka, justru tidak ada sama sekali sahutan dari sang embun dari dalam kamar mandi itu dan dua pelayan itu yang di landa kepanikan langsung menghampiri di mana nyonya Wigunantara berada.


"Apa yang terjadi? cepat katakan?" tanya nyonya Wigunantara dengan tidak sabar ingin mengetahui apa yang telah terjadi saat ini. Jujur saja iya juga merasa tidak enak hati lantaran melihat wajah ke-dua pelayan itu yang saat ini masih terlihat tegang.


"Nyonya, nona muda dari tadi belum juga keluar dari kamar mandi, bahkan kami ber-dua sudah menggedor-gedor pintu kamar itu. Tapi tidak sama sekali ada sahutan dari dalam," ujar pelayan itu dengan gugup dan langsung menundukkan kepala lantaran iya tidak berani melihat tatapan wajah nyonya Wigunantara yang sudah berubah setelah mendengar ucapan dari dirinya.


"Apa!!"


Tanpa pikir panjang nyonya Wigunantara langsung menuju ke lantai atas sambil mengomeli habis-habisan dua pelayan yang iya tugaskan untuk membantu kebutuhan menantunya. " Kalau terjadi apa-apa dengan menantu saya! kalian ber-dua tangung jawab," omel nyonya Wigunantara sambil meniti anak tangga menuju ke lantai atas.


Sementara itu di depan pintu utama masuk mansion, Brian yang sempat samar-samar mendengar pelayan mengucapkan kata nona muda hanya mengerutkan keningnya dan setelah itu Brian langsung menuju ruang tengah untuk menunggu jam makan malam bersama keluarga Wigunantara.


Sambil menuju ruang tengah Brian sedikit terganggu dengan kata-kata yang sempat iya dengar tadi dari pelayan dan bahkan Brian pikir apa sang mama sudah membawa seseorang di mansion ini tanpa sepengetahuan dirinya. Sungguh jika memang benar menyesal sekali iya pulang ke mansion malam ini.

__ADS_1


Tidak mau berprasangka terhadap sang mama takutnya kualat, Brian memutuskan untuk mengotak atik benda pipih yang ada di dalam genggaman tangan untuk melihat foto-foto yang sempat iya ambil ketika Killa sedang tertidur pulas akibat kegiatan panas yang mereka lakukan bersama. "Ck, siapa yang telah berani membantu dirimu? sampai diriku tahu siapa orangnya, saat itu juga akan habis di tangan ku sendiri," gumam Brian menggeser-geser benda pipih itu melihat foto-foto wanitanya yang tampak menggemaskan sedang tidur dalam keadaan seperti itu.


Bersambung


__ADS_2