
Hiks ... hiks ... hiks,
Terdengar Isak tangis dari Bibir tipis Killa yang saat ini di paksa masuk ke dalam kamar hotel itu kembali ... nyatanya tangisan yang begitu pilu yang keluar dari bibir tipis Killa tak membuat seorang Brian Wigunantara tersentuh akan tangisan itu. Brian tetap fokus melangkahkan kakinya menuju kamar hotel kembali tanpa sedikitpun peduli akan tangisan itu.
Tanpa melepaskan genggaman tangan nya dari tangan mungil milik Killa, Brian membuka pintu kamar hotel itu dan langsung mengunci pintu kamar hotel tersebut.
"Berhentilah menangis ... karena itu tidak akan membuat diriku berubah pikiran," ungkap Brian sambil menuju kamar mandi.
"S-saya mohon tuan, biarkan saya pergi dari tempat ini," mohon Killa yang berusaha melepaskan cengkraman tangan kekar milik Brian.
Shuuttt ... Shuuttt,
"Baby ... sudah kukatakan padamu jangan pernah memohon pada diriku seperti itu karena itu tidak akan membuat diriku berubah pikiran," kata Brian sambil membuka pintu kamar mandi.
~
~
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain tepatnya di rumah kontrakan Reza, beberapa menit Reza mencoba menghubungi sahabatnya yang tak kunjung mengangkat panggilan darinya itu membuat dirinya begitu khawatir akan keselamatan sang sahabatnya saat ini.
Tak putus asa Reza tetap berusaha menghubungi nomor handphone sahabatnya berharap panggilan kali ini di jawab oleh sahabatnya.
"Kill, jawab dong panggilan dari gue," gumam Reza seraya mondar-mandir di ruang tamu sesekali dirinya menatap layar ponselnya seperti setrikaan yang sedang hilir mudik tanpa hentinya.
Killa yang merasa sesuatu yang bergetar di dalam tas miliknya saat ini pun langsung mencari benda tersebut.
"Akhirnya, loh jawab juga panggilan dari gue," ungkap Reza yang hampir frustasi setelah sekian kalinya panggilan dari dirinya baru dijawab.
"Za, tolong gue!!" teriak Killa ketika dirinya berhasil menjawab panggilan dari sahabatnya itu.
"Kill, loh kenapa? di mana loh sekarang!!" tanya Reza tanpa jeda ketika dirinya mendengar teriakkan sahabatnya yang begitu sedang ketakutan.
"Katakan Kill,".
Brak
__ADS_1
Belum sempat Killa menjawab pertanyaan dari sahabatnya di seberang sana, terdengar suara begitu nyaring sehingga membuat benda tersebut tak berbentuk sama sekali akan lemparan itu.
Pllaakk
Brian yang sangat kesal langsung melayangkan telapak tangan kekar miliknya sehingga membuat cap lima jari langsung membekas di pipi putih nan halus milik Killa itu.
"Dasar gadis pembangkang," sudah ku peringatkan dirimu, masih saja kau tak mendengar perkataan ku!" bentak Brian langsung mendorong tubuh Killa di bawah shower yang sedang menyala saat itu.
Brian yang sangat kesal langsung mencium bibir tipis itu tanpa ampun dan membuat Killa kewalahan atas ciuman tanpa aba-aba terhadap dirinya.
"Eeerrmm!!!" pekik Killa memberontak dan memukul-mukul dada bidang Brian berusaha melepaskan ciuman itu lantaran dirinya benar-benar sudah untuk bernapas.
Brian yang merasa gadis itu hampir kehabisan napasnya langsung melepaskan ciuman itu.
Tampak Killa langsung menarik napas sedalam-dalamnya lantaran dirinya tak biasa melakukan hal-hal seperti itu.
Brian yang melihat gadis itu yang sudah baik-baik saja yang sedang menatap dirinya dengan tatapan mata elang yang siap mencabik-cabik tubuh kekarnya saat ini langsung meraih pergelangan tangan mungil milik Killa agar mendekati dirinya.
__ADS_1
"Lepasin saya tuan!!!" pekik Killa yang tanpa aba-aba tubuh mungil miliknya di tarik paksa oleh Brian.
Bersambung