
Mobil mewah yang membawa keluarga Wigunantara beserta calon menantu keluarga Wigunantara sudah sampai di pekarangan mansion megah yang berlantai lima itu dan para pelayan beserta penjaga mansion sudah menanti kedatangan nyonya dan tuan mereka yang mengatakan akan membawa calon menantu keluarga Wigunantara.
Maka dari itu mereka semua tidak sabar ingin melihat seperti apa wajah dari menantu yang akan menjadi keluarga Wigunantara, dan semua mata tertuju pada mobil mewah yang belum kunjung turun penumpang mobil mewah tersebut.
"Sayang, ayo turun," ujar nyonya Wigunantara mengulurkan tangan untuk meraih tangan mungil Killa untuk keluar dari dalam mobil mewah itu. " Jangan takut! mereka tidak akan memakan kamu." ayo sayang!!" dengan sabar nyonya Wigunantara menunggu uluran tangan mungil Killa sambil tersenyum melihat wajah itu.
Dengan ragu-ragu Killa tetap meraih tangan wanita paruh baya yang sudah mulai keriput itu dan dengan begitu sabar menghadapi sikap yang ditunjukkan oleh Killa benar-benar membuat siapa saja pasti akan kesal melihat akan sikap Killa saat ini. Akan tetapi, tidak dengan nyonya Wigunantara karena iya begitu suka melihat akan ekspresi wajah wanita itu.
"Selamat datang nyonya, tuan, nona muda."
Itulah sapaan yang Killa dengar ketika kaki menyentuh pekarangan mansion megah keluarga Wigunantara itu.
Killa yang mendengar suara itu langsung mendongak menatap di mana orang-orang yang sedang berbaris dengan rapi melihat ke arah mereka dan itu jelas membuat Killa gugup seketika ketika mendapatkan tatapan mata yang tertuju ke arah mereka sedang berjalan untuk memasuki mansion megah itu yang beberapa langkah lagi akan sampai.
Jantung Killa berdebar sangat kencang Kala semua mata begitu intens menatap iya yang sedang berjalan di samping nyonya Wigunantara yang saat ini menggenggam tangan mungil itu kala nyonya Wigunantara berhenti di tengah-tengah para pelayan beserta penjaga mansion.
Nyonya Wigunantara menatap ke arah di mana kepala pelayan mansion berdiri. "Apa semua nya sudah selesai Bibi?" tanya nyonya Wigunantara ke pada wanita yang sudah lama bekerja di mansion megah miliknya tersebut.
"Sudah nyonya."
Nyonya Wigunantara beralih menatap Killa selesai mendengar ucapan dari kepala pelayan. "Jangan menundukkan kepala terus sayang, apa mau kepala kamu nanti tidak mau di tegak-kan lagi." Nyonya Wigunantara terkekeh geli melihat reaksi calon menantu nya secepat kilat langsung mengangkat kepala setelah mendengar ucapan dirinya.
"Oh iya, untuk kalian semua pasti sudah tahu" kan, siapa wanita cantik yang sedang berdiri di samping saya ini."
Dengan kompak semua pelayan beserta penjaga mansion langsung menganggukkan kepala mereka masing-masing. Karena sebelumnya nyonya Wigunantara sudah memberitahu mereka bahwa akan membawa calon baru penghuni mansion keluarga Wigunantara.
"Sudah nyonya."
Nyonya Wigunantara menatap ke-dua pelayan yang masih muda di antara yang lainnya agar bisa membantu Killa untuk kebutuhan sehari-hari di mansion tersebut. "Kamu berdua kemari," perintah nyonya Wigunantara terhadap ke dua pelayan itu.
"Untuk kalian berdua, saya tugaskan untuk membantu Kebutuhan menantu saya apapun yang iya butuhkan dan kalian harus siap" kan."
"Baik, nyonya."
Selesai mengenalkan Killa pada penghuni mansion, nyonya Wigunantara langsung melangkah menuju pintu mansion dan tak lupa iya menggenggam tangan mungil Killa agar mengikuti dirinya.
__ADS_1
"Nih mansion atau istana."
Mata indah nan bulat itu tak berkedip sama sekali melihat interior-interior yang ada dalam mansion megah milik keluarga Wigunantara dan beberapa jam lagi tentu saja akan jadi milik nya juga. Karena nyonya Wigunantara sudah menyiapkan pernikahan putra tunggal dari keluarga Wigunantara dengan seorang wanita yang telah di tahan oleh Brian di apartemen miliknya.
"Sayang!!"
Killa terkejut ketika nyonya Wigunantara menyentuh pundaknya, karena iya asyik memandangi interior-interior yang ada dalam mansion megah milik keluarga Wigunantara tersebut. "Kamu ikut sama mbak itu" iya, ganti pakaian kamu dan habis ini kita makan siang," ujar nyonya Wigunantara menatap manik mata bulat nan indah itu dengan tersenyum.
"B-baik nyonya."
Setelah mengatakan itu Killa langsung menundukkan kepala karena iya begitu gugup ketika di tatap seperti saat ini oleh nyonya Wigunantara.
"Kan Sudah di bilang, manggil mama dong sayang, jangan nyonya lagi," senyum nyonya Wigunantara menghampiri Killa dan memberikan kecupan manis di dahi putih mulus itu.
"Mbak tolong antar Killa ke kamar nya iya mbak."
"Baik nyonya."
"Mama temui papa dulu, kamu sama mbak Tuti dulu iya sayang," ujar nyonya Wigunantara setelah menyuruh pelayan yang telah di tunjuk untuk membantu keperluan Killa.
"Nona."
"Huh, mbak ini ngagetin aku saja."
Mbak Tuti yang melihat ekspresi Killa hanya tersenyum, karena iya tahu Killa pasti kaget karena iya tahu nama nya.
"Mbak tahu nama ku?"
Killa melihat intens wajah mbak Tuti menunggu jawaban apa yang iya tanya kepada mbak Tuti yang bertugas mengurus keperluan pribadi dirinya.
"Tahu dong nona."
"Ayo mbak antar nona ke kamar, sebentar lagi makan siang, jangan sampai nyonya ngomel-ngomel melihat nona muda yang belum juga membersihkan diri," ujar mbak Tuti meraih tangan mungil Killa yang tak kunjung bergerak dari ruangan itu.
Hendak protes, Killa pikir dua kali karena melihat beberapa pria berbadan besar dan tinggi yang berdiri tidak jauh dari ruangan tersebut melihat ke arah mereka berdua. "Huh, orang-orang itu benar-benar menyeramkan gumam Killa melirik sekilas ke arah mereka dan justru Killa mendapatkan tatapan begitu menyeramkan dari salah satu pria berbadan besar itu. Sungguh membuat Killa terasa lebih baik tidak banyak bicara untuk saat ini.
__ADS_1
Sampai di lantai tiga, mbak Tuti langsung membuka pintu kamar dan menyuruh Killa masuk terlebih dahulu dan setelah itu barulah dirinya masuk menyusul Nona muda tersebut.
"Wah, nih kamar atau dongeng-dongeng yang ada di cerita-cerita itu iya." batin Killa mengedarkan pandangan melihat se-isi kamar yang akan di tempati oleh iya entah sampai kapan dan yang jelas dirinya untuk sementara akan mengikuti jalan cerita keluarga yang telah membawa dirinya ke mansion megah ini.
"Nona!!"
"Air hangat sudah mbak siapin ... mari mbak antar," ujar mbak Tuti pada Killa yang masih saja mengagumi isi kamar yang akan menjadi kamar pribadi untuk dirinya.
"Air hangat."
"Memang mansion ajaib, air hangat saja ada," gumam Killa mengikuti langkah kaki mbak Tuti menuju kamar mandi.
Belum usai kekaguman akan kamar itu, kini Killa dibuat lebih terkejut lagi melihat kamar mandi yang begitu wow untuk pertama kali iya melihat seperti ini.
"Nona mandi terlebih dahulu, mbak Tuti akan siapin dulu baju untuk nona." ujar mbak Tuti sebelum berlalu meninggalkan Killa yang akan mandi.
"Makasih mbak."
Killa bahkan melupakan semua yang telah terjadi pada iya yang beberapa waktu lalu telah di paksa untuk ikut bersama seseorang dan sampai sekarang ini pun dirinya masih bertanya-tanya siapa mereka semua. Dan untuk saat ini Killa tidak banyak bicara, akan tetapi iya sudah banyak pertanyaan yang akan di tanya apabila sudah terasah pas untuk waktu nya nanti.
Killa yang memang tidak sabar ingin merasakan seperti apa mandi di dalam bathtub yang bisa hanya melihat di dalam layar tv, dan sekarang iya bisa merasakan seperti apa mandi di dalam bathtub itu.
"Ah, ternyata memang enak mandi air hangat seperti ini."
Saking senangnya Killa bahkan memejamkan mata menikmati air hangat yang di siapin oleh mbak Tuti tadi.
Sementara itu di sisi lain, yang berada di lantai dua tepatnya di ruangan kerja tuan Wigunantara. Nyonya Wigunantara sedang bicara empat mata dengan sang suami dengan serius terkait acara yang mereka akan adakan beberapa hari lagi tanpa sepengetahuan putranya.
"Sayang!!"
"Apa Brian akan terima semua ini! apa yang kita lakukan semua ini?" tanya nyonya Wigunantara menatap manik mata sang suami. Dan sejujurnya nyonya Wigunantara ada rasa akan was-was apa yang iya lakukan bersama sang suami.
"Kok kamu bicara seperti itu sayang," tanya tuan Wigunantara balik menatap manik mata sang istri yang tampak merasa gelisah.
" Mama jangan khawatir, papa akan menyuruh anak itu untuk pulang ... kita lihat seperti apa reaksi anak itu melihat Killa yang sudah berada bersama kita," ujar tuan Wigunantara sambil memeluk erat sang istri tercintanya.
__ADS_1
Bersambung