
"Aaaaahhhhh!!"
"Papa!!"
Killa maupun nyonya Wigunantara sama-sama menjerit dengan suara menggelegar di ruangan kedap suara itu dengan kalimat yang berbeda. Jika Killa menjerit karena terkejut yang luar biasa dan lain halnya dengan nyonya Wigunantara yang panik lantaran melihat sang menantu yang ternyata masih berendam di dalam bathtub dengan busa sabun yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepalanya saja yang kelihatan. "Papa cepat bawah para pria-pria ini keluar dari sini, kenapa malah bengong saja seperti itu" kesal nyonya Wigunantara yang melihat sang suami malah bengong saja karena melihat pintu kamar mandi itu yang sudah rusak akibat dobrakan yang dilakukan para pria berbadan kekar itu.
"Kalian cepat keluar."
Dengan cepat tiga pria berbadan kekar itu langsung keluar karena posisi mereka hanya satu langkah dari pintu keluar kamar mandi saat ini, kecuali Brian yang masih berdiri menatap dengan celingukan ke arah bathtub yang terhalang oleh sang mama. Karena penasaran yang begitu menyelimuti dirinya membuat Brian penasaran akan suara yang sempat iya dengar yang begitu familiar di telinga ketika mendengar jeritan yang cukup memekakkan telinganya.
"Kamu kenapa masih saja di sini Brian? cepat keluar."
Nyonya Wigunantara menatap tajam Brian yang masih saja tidak beranjak dari tempat iya berdiri setelah berhasil mendobrak pintu itu sampai terbuka lebar. "Kalian ber-dua seret pria itu keluar dari sini," perintah nyonya Wigunantara terhadap dua pelayan yang sedang menatap iya dengan tatapan takut-takut setelah mendengar perintah sang nyonya.
"T-tapi nyonya."
"Tidak ada tapi-tapian."
"Cepat bawa dia keluar."
"M-maaf tuan muda."
Dengan terpaksa dua pelayan itu memaksa Brian keluar dari kamar mandi itu dengan mendorong tubuh kekar sang tuan muda yang tengah menatap mereka dengan tatapan mata elangnya sehingga membuat dua pelayan itu menundukkan kepala karena tidak berani melihat tatapan yang di berikan oleh tuan muda Brian.
"Ma."
"Tidak sekarang Brian."
"Ck, menyebalkan sekali mama."
Tuan Wigunantara menatap tajam di mana Brian yang masih berusaha melihat ke arah pintu yang dihalangi oleh dua pelayan itu dengan menggunakan kain yang lumayan besar untuk menghalangi mata sang tuan muda yang masih berusaha mengintip dengan jarak yang jauh. Brian tampak kurang ikhlas ketika di suruh keluar dari dalam oleh sang mama, karena iya begitu penasaran akan suara wanita yang sempat membuat jantung nya berdetak tak karuan karena mendengar suara jeritan wanita itu.
"Keluar Brian ... sebelum apa menyuruh penjaga mansion untuk menyeret kamu keluar dari sini," perintah tuan Wigunantara berkacak pinggang menatap sang putra yang masih saja tidak mau keluar dari dalam kamar calon menantu dari keluarga Wigunantara itu.
__ADS_1
"Ckckckckck, tidak istri ... tidak suami, sama-sama menyebalkan."
"Papa mendengarkan apa yang kamu katakan Brian."
"Ck, menyebalkan."
Brian langsung berlalu begitu saja dari kamar itu tanpa memperdulikan akan ekspresi wajah dari sang papa yang sedang menatap iya dengan tatapan tajam dan juga seperti ingin mencabik-cabik tubuh kekar miliknya saat ini juga.
Tuan Wigunantara yang melihat sang putra telah keluar dari dalam kamar itu iya juga menyusul sang putra keluar dan menutup pintu kamar itu dengan rapat.
"Siapa dia pa?"
Hanya jarak beberapa tangga dengan sang papa tanpa menoleh Brian menanyakan seseorang yang sedang bersama dengan sang mama yang super menyebalkan sekali yang tidak mengizinkan iya melihat sosok manusia yang sedang berada di dalam bathtub itu yang di tutupi dengan banyak busa sabun.
Brian yang tak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang iya tanyakan kepada sang papa langsung berbalik badan dan menghadang sang papa yang akan melewati dirinya begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya yang iya lontarkan.
"Minggir Brian!! sebelum papa tendang kamu dari sini," seru tuan Wigunantara yang kesal melihat tingkah sang putra yang memang tidak pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang iya inginkan. Tanpa dosa tuan Wigunantara melewati sang putra begitu saja tanpa menoleh sedikitpun dan itu jelas membuat Brian kesal setengah mati akan sikap sang papa.
"Ck, menyebalkan sekali pria tua ini," gumam Brian dalam hati melihat sang papan yang melintas didepan dirinya tanpa menoleh sedikitpun. Sungguh, Brian ingin sekali memaki-maki sang papa dan juga memberikan sedikit hadiah di muka sang papa, beruntung Brian saat ini masih waras dan tidak akan pernah melakukan hal-hal bodoh yang sempat terlintas dalam pikiran nya yang akan memaki dan akan memberikan hadiah terhadap sang papa.
"Sayang!!"
"Apa kamu akan di dalam bathtub itu untuk beberapa hari? kamu tidak ada niat untuk membahayakan diri kamu sendiri" kan?" tanya nyonya Wigunantara sambil mengambil handuk yang sedang di berikan oleh pelayan yang tak jauh berdiri dari kamar mandi itu.
"M-maaf" kan, Killa Ma."
Walau sedikit kaku Killa tetap memanggil nyonya Wigunantara dengan sebutan mama lantaran iya juga takut akan kemarahan wanita itu dan demi menyelamatkan diri dari caci maki sang pemilik mansion iya rela memanggil mama kepada nyonya Wigunantara berharap wanita itu tidak akan mengeluarkan kata-kata yang akan membuat iya sakit hati nantinya.
Nyonya Wigunantara hanya tersenyum mendengarkan kalimat penyesalan yang keluar dari bibir mungil itu. "Ayo cepat keluar nanti kamu bisa masuk angin kalau berlama-lama di sini." seru nyonya Wigunantara sambil meraih pergelangan tangan mungil Killa agar segera keluar dari dalam bathtub itu.
Nyonya Wigunantara langsung melilitkan handuk putih ke tubuh putih mulus milik Killa tanpa ada penolakan sama sekali dari pemilik tubuh putih nan mulus itu. "Mama tunggu di luar, kamu bersihkan tubuh kamu dulu dengan air bersih dan setelah itu cepat keluar iya," ujar nyonya Wigunantara sambil mengusap kepala Killa yang sedikit basah dan bercampur dengan busa sabun.
"I-iya mama."
__ADS_1
Tiga wanita beda usia itu langsung keluar meninggalkan Killa yang sedang membersihkan diri sendirian di kamar mandi yang begitu nyaman untuk Killa yang selama ini iya tak pernah merasakan seperti apa mandi berendam di dalam bathtub itu dan sehingga membuat iya enggan keluar dengan cepat.
Selama Killa membersihkan diri, nyonya Wigunantara mengeluarkan kata-kata mutiara untuk dua pelayan yang bertugas untuk membantu Killa yang akan tinggal di mansion keluarga Wigunantara.
"Apa kalian berdua mengerti?"
"Kami mengerti nyonya."
Selesai memberikan penjelasan kepada dua pelayan itu, nyonya Wigunantara menatap ke arah pintu yang sudah berdiri tubuh mungil itu yang menggunakan handuk putih yang hampir menenggelamkan tubuh mungil yang tak bergerak dari depan pintu kamar mandi itu.
Dua pelayan langsung membawa Killa menuju walk in closet untuk membantu Killa mengenakan pakaian sampai benar-benar selesai karena mereka tidak mau mendapatkan kata-kata mutiara lagi dari sang nyonya Wigunantara.
Tak butuh lama, Killa sudah selesai berpakaian dengan rapi dan juga cantik dengan pakaian yang telah nyonya Wigunantara pilihkan untuk dirinya.
"Ayo sayang kita turun."
Nyonya Wigunantara meraih pergelangan tangan mungil itu agar mengikuti langkah kaki untuk menuju lantai bawah di mana makan malam sudah di siapkan oleh para koki mansion keluarga Wigunantara.
Tap
Tap
Tap
Brian menoleh ke arah tangga karena iya mendengar langkah kaki menuruni tangga dengan langkah begitu hati-hati.
Deg
Mata Brian hampir saja keluar dari tempat semestinya karena melihat seseorang yang sedang di samping sang mama menuruni tangga.
"Mama!!"
"Dari mana mama memungut wanita itu?"
__ADS_1
Bersambung
Dan terima kasih yang telah membaca cerita aku ini**.