GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 10


__ADS_3

Deniz suka melihat Alice makan dengan lahap dirumahnya, selain itu Dhana juga tampak bahagia dan sesekali minta disuapi oleh Ayahnya, Deniz merasa bahagia, baru kali ini dia disayang oleh putranya, biasanya Dhana juga tidak mau dekat dengannya. Tapi untuk hari ini, semua tampak berbeda.


"Meliza, Kau tidak makan?" Tanya Deniz, heran melihat dia diam saja.


"Sebentar lagi, Kau tahu sendiri bukan? Aku tidak bisa makan sebelum melihat Dhana makan dengan kenyang. Lagi pula Aku harus menyuapi istrimu, Dona. Kasihan dia. Disaat semua orang makan, dia pasti juga ingin makan, tapi sayangnya, dia tidak bisa bicara, gangguan jiwanya benar-benar merusak kabahagiaannya. Iya kan Dona?" Tanya Meliza, berusaha mencari muka di depan Deniz.


"A-aku, t-tidak ap-pa-apa Meli-za." Gagap Dona, sambil tertawa. Wanita itu sengaja membohongi keluarganya, dia pura-pura gila dan tidak bisa bicara, semua itu dia lakukan demi melindungi Dhana, Meliza sering mengancamnya. Dia ingin Deniz menjauhinya dan mendekati dirinya.


Deniz lega melihat keduanya.


"Kau memang yang terbaik, Meliza, Kau rela merawat Dhana dan mau menjaga Dona. Seandainya Kau tidak ada, apa jadinya mereka?" Puji Deniz membuat Alice kesal dan langsung menghentikan acara makannya.


"Sudahlah, Sayang ..., Mereka juga calon keluargaku, sebentar lagi Kita akan bersatu. Sebagai calon keluarga yang baik. Apa salahnya Aku merawat mereka," ucap Meliza sambil mendekat kearah Dhana dan langsung mencium kedua pipinya. Pria kecil itu di buat kesal menghadapi sikap liciknya.


"Astaga, Aku muak sekali," gumam Alice tidak terima.


"Kau mengatakan sesuatu?" Tajam Deniz, penuh tekanan.


"Tidak. Aku rasa Anda salah ..., dengar, Bapak, Deniz!" Seru Alice sambil mendekat kearahnya dan mengucapkan kata Bapak Deniz tepat dilubang telinganya.


"Ouh, mungkin Kau benar, gadis manja sepertimu mana mungkin berbuat kesalahan. Kau selalu benar." Ejek Deniz dan melanjutkan acara makannya.


Alice tidak memperdulikannya, dia mengambil minum dan langsung mendekat ke arah Dona.


"Kata siapa Dona ..., ehem! maksudku ..., Nyonya Deniz. Tidak bisa berbicara, Nona Meliza? Dia bisa berbicara, lagi pula menurutku Dia juga tidak gila. Anda terlalu memanjakan dirinya. Iya kan, Pak Tua?" Tanya Alice, kesal melihat tingkah laku Meliza.


"Deniz!" Tekan Deniz tidak suka dengan panggilan Alice.


"Om Deniz." Ulang Alice.

__ADS_1


"Deniz! Nona Alice Pramuja!"


"Kak Deniz!" Seru Alice, tidak mau kalah.


"Deniz!" Tajamnya tidak suka.


"Bagaimana kalau, Sayang?" Sela Dhana membuat Dona, Alice, Deniz, dan Meliza menatap tidak percaya ke arahnya. Mereka berempat terpaku.


"Hihihihi ..., K-kau be-nar, Nak. Sa-sayang, saja. I-ya kan, Deniz?" Timpal Dona sambil tertawa. Meliza mengepalkan kedua tangannya tidak terima. Sementara Alice, dia tidak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Dhana. Dona mendorong Alice dengan kursi rodanya. Karna terlalu terkejut, Alice jatuh dan menimpa badan Deniz.


"Hahahaha, K-kalian ha-rus ber-sama. A-aku ingin, Ka-lian menikah. K-kau harus pang-gil A-lice, Sayang ...," perintah Dona membuat Meliza bangkit dan memisahkan badan keduanya.


"Sudah cukup Dhana, Sayang. Kau juga, Dona. Jangan bercanda. Alice baru pertama kali tinggal bersama Kita. Jangan buat Dia terkejut." Ucap Meliza, setelah membangunkan Alice, dia memberika minum pada Deniz.


"Maaf, sepertinya Aku harus pulang. Terima kasih atas makan paginya." Ucap Alice dan tak lama kemudian, langsung meninggalkan rumah mereka. Dia kesal dengan tingkah laku Dona. Bagaimana mungkin dia di jodohkan dengan Deniz Daniswara, bagaimanapun juga, pria itu adalah suaminya. Alice juga sadar, bahwa semua itu Dona lakukan demi melindungi putranya, tapi mana bisa? Alice tidak mau menyakiti hatinya, pernikahan adalah hal suci dalam hidupnya, itupun untuk selama-lamanya. Kalau dia menikah dengan suami Dona, apakah dijamin semua orang akan bahagia? Bagaimana kalau penyakit Dona ternyata bisa disembuhkan? Akankah dia akan tetap membiarkan Alice menjadi istri kedua suaminya?! Alice benar-benar gelisah memikirkannya.


Sesuatu melilit kakinya, karna itu adalah Ayahnya, Alice langsung mengambil ular di kakinya dan mencium pelan bibirnya. "Papa! Apa yang sedang Papa lakukan? Ingin menakuti Alice? Hem?" Tanyanya tertawa.


Pramuja menjulurkan lidahnya yang bercabang dan menjilati bibir putrinya. "Papa! Hentikan! Geli, Papa!" Serunya semakin keras tertawa.


Tak berapa lama kemudian, sebuah tangan menggelitiki badannya, dan sebuah kecupan mendarat dipipinya.


Cup ...,


"Anak bandel! Apa sudah puas memata-matai keluarga Deniz Daniswara?" Tanya Zahra membuat Alice terus tertawa dan menoleh pelan kearah Ibunya.


"Mama! Hentikan Papa. Perut Alice keram karna terus tertawa." Pintanya membuat Zahra maju dan memegang kepala ular Pramuja, Zahra langsung mengecup mulutnya.


"Sudah cukup, Sayang. Alice sudah bahagia. Berubahlah jadi manusia." Pinta Zahra dan tak berapa lama kemudian, Pria itu merubah dirinya menjadi manusia.

__ADS_1


"Kenapa Kau tadi terlihat tidak bahagia, Sayang?" Tanya Pramuja, heran.


"Ternyata Nona Meliza memang jahat Pa, dia sengaja ingin membuat Deniz meninggalkan istri dan anaknya, dia ingin Pria itu menikahi dirinya." Jelas Alice membuat Zahra mengetatkan kedua rahangnya tidak terima.


"Bagaimana dengan Deniz? Apakah dia mendukung Meliza?" Tanya Pramuja, penasaran.


"Deniz selalu membelanya, Papa. Dia bahkan tidak pernah memperdulikan Dhana dan Dona demi percaya pada Meliza. Dia bilang, dia sangat mencintainya." Jelas Alice membuat Zahra semakin murka. Alice juga menjelaskan bagaimana Dona sakit gara-gara Meliza. Zahra semakin kesal sedangkan Pramuja memasang wajah tenang, tapi benar-benar sangat menyeramkan.


"Dasar lelaki! Semuanya sama saja! Suka memainkan hati wanita!" Serunya tidak terima.


"Aku tidak seperti itu, Sayang. Aku sangat mencintaimu," protes Pramuja dan langsung membungkam mulut istrinya.


"Mmpphhh ..., kalau Kau sampai seperti itu! Maka Aku akan membunuhmu." Ancam Zahra, membuat Alice dan Pramuja tertawa.


"Kau tidak takut padaku? Aku siluman ular, Sayang." Goda Pramuja, pelan.


"Tidak! Awas Kau!"


"Sudah cukup Mama. Papa tidak akan berani menyakiti Mama." Hibur Alice sambil menatap geli, mata mamanya.


"Lalu bagaimana dengan mereka, Nak?" Tanya Zahra, penasaran.


"Untuk saat ini mereka baik-baik saja, Ma. Semoga kedepannya terus seperti itu," jawab Alice, datar.


"Ya sudah. Ayo Kita pulang, Sayang." Ajak Pramuja, berusaha menenangkan dua hati orang yang disayanginya.


💕💕💕💕💕💕💕


TBC.

__ADS_1


__ADS_2