GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 16


__ADS_3

Alice merapikan riasannya, entah kenapa Deniz mengundang semua keluarganya agar mau datang ke rumahnya, dan itupun di pagi hari, mungkin karna malamnya Deniz bekerja, makanya saat pagi seperti ini baru Deniz bisa mengundang keluarganya. Entahlah ...


Alice tidak tahu apa alasannya.


Dona juga dikabarkan sakit, bahkan semakin parah. Alice ingin sekali menjenguknya, tapi jika ingat pemaksaan Dona agar mau menikah dengan suaminya, Alice lebih baik menjauhinya daripada mendekatinya.


"Alice! Cepat sedikit, Sayang. Keburu siang!" Seru Zahra membuat Alice panik dan langsung merapikan pakaiannya. Setelah selesai, dia turun kebawah dan bersiap pergi ke rumah rekan kerja Ayahnya.


"Pa, apa ada hal penting? Kenapa kita semua harus kesana?" Tanya Alice, was-was.


"Kurang tahu, Nak. Sebagai rekan kerja yang baik, keluarga kita harus memenuhi undangannya." Sahut Pramuja membuat Zahra menganggukkan kepalanya.


"Papamu benar, Alice. Kita harus menghormati undangannya." Imbuh Zahra, membenarkan ucapan suaminya.


"Baiklah, mari, Pa, Ma." Ajak Alice dan mereka semua langsung berangkat ke rumah Deniz.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Keluarga Alice tiba di rumah Deniz pukul setengah sembilan pagi, Dhana menyambut mereka sambil tertawa bahagia, sementara Ayahnya tersenyum melihat kedatangan orang yang beberapa hari ini mengusik hatinya. Tanpa memperdulikan Deniz, Alice menciumi wajah Dhana dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Bagaimana kabarmu, anak tampan?" Tanya Alice sambil terus menciumi pipinya.


"Baik, Ma." Jawab Dhana membuat Alice salah tingkah dan langsung tersenyum ke arah pelayan yang tadi sempat membuka pintu untuk keluarganya. Bagaimana bisa pria kecil itu memanggilnya Mama di hadapan semua orang. Alice merasa canggung di hadapan mereka.


Deniz tersenyum geli melihat tingkahnya, terlebih lagi gadis itu pernah menyelamatkan putranya, semakin membuatnya terpesona hingga ingin rasanya memiliki dia saat ini juga, selain itu ucapan Dona juga masih memenuhi pikirannya. Meskipun sulit untuk mendapatkan cintanya, Deniz akan tetap menikahinya demi kebahagiaan Dona dan Dhana.


"Silahkan masuk, Tuan Pramuja," sambut Deniz sambil menatap lekat mata Alice. Gadis mungil itu mengenakan dress pendek selutut berwarna kuning muda dengan ikat pinggang cantik berwarna emas melingkari pinggangnya. Rambutnya yang hitam dan panjang, dia urai dengan bebas.


"Benar-benar cantik, jelmaan ular betina yang sangat menggoda," bathin Deniz dan Alice langsung gelisah dengan tatapannya.


Pramuja mengajak Alice dan Zahra memasuki rumah Deniz Daniswara, Zahra tersenyum lega karna Meliza tidak ada dirumah rekan kerja suaminya. Gadis jahat itu bisa melakukan apa saja.

__ADS_1


Alice hanya terdiam sambil sesekali memainkan ujung rambutnya, dia berdebar-debar karna dari tadi Deniz terus menatap dirinya.


"Silahkan duduk." Ucap Deniz membuat Zahra tersenyum lembut ke arahnya.


"Oh ya! Di mana istrimu?" Tanya Zahra pada Deniz.


"Dona tidak sehat, Nyonya Zahra. Wajahnya sangat pucat dan agak susah membuka mata, tapi apapun yang terjadi, dia ingin bertemu dengan keluarga, Anda, Tuan Pramuja." Jelas Deniz membuat Alice cemas dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Kak Dona! Dia susah membuka mata?! Baiklah. Pa, Ma, ayo kita temui dia," ajak Alice, cemas memikirkan Dona.


"Baiklah. Ayo, Nak." Turut Pramuja membuat Deniz lega dan langsung meraih tangan Alice.


"Mari, ikuti saya, Tuan Pramuja." Ajaknya membuat Alice gelisah karna tangan kekar Deniz menggenggam lembut, tangan mungilnya. Dhana meraih tangan yang satunya. Dia bahagia melihat Alice datang ke rumahnya.


Dona terbaring lemah di ranjangnya, wajahnya benar-benar semakin pucat dan Dokter selalu mengawasi kesehatannya. Dia tersenyum melihat kedatangan Alice dan keluarganya. Dia berusaha bangun tapi Alice menahannya.


"Jangan bangun, Kak. Tiduran saja, bagaimana kabarmu?" Cemas Alice sambil mengusap kepalanya.


"Jangan begitu, Nyonya Dona. Anda akan baik-baik saja," sahut Zahra dan ikut mendekat ke arahnya.


"Terima kasih, Nyonya Zahra. Anda sangat mengagumkan bagi, saya. Anda melahirkan putri yang cantik dan baik hati seperti Alice." Pujinya sambil sesekali memejamkan mata.


"Terima kasih, tapi putra Anda, Dhana juga sangat baik dan pintar," puji Zahra membuat Dona langsung melebarkan kedua matanya, dia berusaha sadar meskipun kesusahan.


"Apakah Anda menyukainya?" Tanya Dona, menatap sayu kearahnya.


"Tentu saja." Jawab Zahra, yakin dengan ucapannya.


"Bagaimana menurut Anda, Tuan Pramuja?" Tanya Dona dan langsung menoleh ke arahnya.


"Dhana, anak yang baik, Nyonya Dona. Kami semua sangat menyukainya." Jawab Pramuja membuat Dona tersenyum sambil menatap mata putranya.

__ADS_1


"Kalau kau, Alice? Apakah kau sangat mencintai Dhana?" Tanya Dona berusaha meyakinkan dirinya.


"Kau ini bicara apa, Kak Dona? Tentu saja aku sangat mencintainya, Dhana adalah anak yang baik." Jawab Alice sambil menciumi pipi anak yang ada di pangkuannya.


"Kalau begitu maukah kau menikah dengan Deniz? Maukah kau jadi ibunya, Dhana? Aku mohon Alice, aku sudah hampir tiada, kalau kau mau menjadi mamanya, Dhana. Aku akan tiada dengan tenang?" Tekan Dona dengan mata berkaca-kaca.


"Apa?!" Seketika wajah Alice memucat, tubuhnya bergetar hebat, hatinya berdebar-debar tidak karuan, bagaimana bisa Dona menyuruhnya menikah dengan Deniz di hadapan keluarganya. Apakah ayah dan ibunya akan terima?! Lagipula ... apakah Deniz mencintainya? Astaga!


Alice dibuat cemas oleh ucapannya.


"Alice ... kau mau, kan?" pinta Dona, memohon kepadanya. Dahinya berkeringat, nafasnya semakin berat, Deniz panik dan langsung mendekat ke arah istrinya.


"Dona! Kau tidak apa-apa, kan? Dokter! Periksa, Dona!" Teriak Deniz membuat keluarga Alice tegang dan bantu mengambilkan minuman untuknya, Zahra meraih Dhana dan memeluknya.


"Mama! Jangan pergi, Ma! Bertahanlah!" Histeris Dhana, terus meronta dalam pelukan Zahra. Alice terpaku melihatnya.


"Deniz ... aku tidak apa-apa. Biarkan aku berbicara," paksa Dona dan kembali menarik tangan Alice. Dokter yang ingin memeriksanya dia dorong dengan kuat.


"Alice ... ka-kau mau, kan?" ucap Dona sambil memejamkan matanya. Dadanya semakin sesak. "Aku mohon Alice ... kau adalah wanita yang tepat untuk jadi mamanya, selain kau tidak ada wanita lain lagi, Deniz sudah berjanji. Aku mohon, Alice ... " desah Dona sambil memegangi dadanya.


Alice gelisah dan bingung harus berkata apa? Dia menatap wajah ayah dan ibunya, Alice berusaha meminta pendapat dari mereka. Pramuja dan Zahra menganggukkan kepalanya, mereka ingin Alice sendiri yang menentukan pilihannya.


Setelah berpikir agak lama, dengan berat hati Alice menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Kak Dona. Semua demi, Dhana. Aku akan menikah dengan Deniz, aku siap jadi mama kedua Dhana." Jawab Alice membuat Dona tersenyum bahagia, dia memanggil Alice, Dhana dan Deniz agar mendekat ke arahnya, setelah mereka bertiga dekat, Dona mencium wajah mereka satu persatu, airmata bercucuran, mereka saling mencurahkan rasa untuk yang terakhir kalinya, dan tak lama setelah melihat mereka bertiga bahagia, Dona menghembuskan nafas terakhirnya.


Dhana berteriak memanggil nama mamanya, sementara Deniz terdiam sambil menciumi wajah istrinya. "Maafkan aku, Sayang. Aku berjanji akan menuruti permintaan terakhirmu, kau memang sahabat sejatiku, hingga maut yang menjemputmu. Aku akan selalu mengingat wajahmu dan mengukir namamu dalam hatiku. Soal Meliza, aku akan terus membuatnya menderita, berbahagialah Sayang ... kita akan bersatu di surga." Bisik Deniz, sambil meneteskan airmata. Dhana setia dalam dekapannya, sementara Alice, dia menangis tanpa suara, hatinya bagai ikut pergi bersama Dona, sahabat yang paling di cintainya kini telah tiada.


🍁🍁🍁🍁🍁


😭😭😭😭😭😭


Voment yaaa...

__ADS_1


TBC.


__ADS_2