
Pelayan di rumah Deniz cemas memikirkan nasibnya, mereka kerja dengan wajah lesu, Dhana bersiap dan ingin pergi menemui calon ibunya, untunglah, di telpon ayahnya bilang Alice baik-baik saja, dengan begitu, dia jadi tenang dan tidak cemas memikirkan keadaan ibu kesayangannya.
Deniz datang dan mengumpulkan para pelayannya, dia bilang mereka tetap boleh bekerja dan malah akan menaikkan gajinya, Deniz sudah di wanti-wanti oleh calon istrinya, Alice.
"Apapun alasannya, mereka tidak bersalah, Kak Deniz, aku menyanyangi mereka sama seperti pelayan dirumahku sendiri, mereka melakukan itu demi melindungi Tuan yang sangat disayanginya, Dhana. Seharusnya kau menaikkan gaji mereka, bukan malah memarahinya, ingatlah! Kalau kau memecat mereka, aku tidak mau jadi istrimu! Dengar?!" Mengingat hal itu membuat Deniz tersenyum dan gemas ingin melumat bibir calon istrinya. Betapa gadis itu sangat baik di matanya. Gadis ular yang sangat luar biasa bagi hidupnya.
"Aku mencintaimu, Sayang," gumam Deniz membuat para pelayan bingung saat mendengarnya.
"Pa, kau bilang cinta pada siapa?" Tanya Dhana sambil tertawa.
"Em ... pada kalian semua, em ... maksudku, teruslah bekerja," jawab Deniz salah tingkah.
"Terima kasih, Tuan. Lain kali kami tidak akan menyakiti ular lagi." Janji mereka membuat Dhana dan Deniz tersenyum lega mendengarnya.
"Baiklah, aku pegang janji kalian."
"Tapi, Tuan ... dimana, Nona Alice? Kami tidak melihatnya? Bahkan dia juga tidak keluar saat Tuan Dhana dililit ular? apakah Nona itu bisa menjadi mama yang baik buat, Tuan Dhana?" Selidik salah satu pelayan tertua, cemas memikirkan Tuan mudanya.
"Kau ini bilang apa, nenek? Aku menyuruh mama pergi menunggu papa di luar, papa bilang akan datang, itulah sebabnya papa masuk saat kalian menghajar ular. Dan mungkin saja mama tidak dengar karna berada di luar pagar." Jelas Dhana berusaha melindungi Alice, dia tidak mau mereka tahu bahwa ular yang mereka hajar sebenarnya adalah Alice. Semua orang pasti akan tahu keadaan dirinya.
"Putraku benar, saat kalian menghajar ular, Alice berada di dalam mobilku. Dan sekarang, demi menghilangkan rasa takut Dhana, aku akan membawanya pergi dari rumah ini selama satu minggu." Jelas Deniz membuat semua pelayan dirumahnya menganggukkan kepalanya.
"Pa, kita akan menemui mama, kan?" Tanya Dhana, saat sudah masuk kedalam mobil.
"Iya, Nak. Mamamu tidak tenang jika tanpa dirimu, dia mengeluh kesakitan di sekujur tubuhnya," jelas Deniz membuat Dhana cemas.
"Ini semua salah Dhana, Pa."
"Tidak, Nak. Ini semua salah papa. Papa tidak becus menjaga mamamu. Sudahlah, lagipula sekarang dokter dan suster ada bersamanya, kita akan sama-sama menyembuhkannya." Hibur Deniz membuat Dhana lega mendengarnya.
__ADS_1
"Iya, Pa.
ππππππππππππ
Meliza hampir membanting ponsel yang ada di tangannya, sudah beberapa hari ini dia dirumah sakit dan Deniz sama sekali tidak mengetahuinya. Dia berusaha menghubunginya tapi percuma, Deniz sama sekali tidak pernah mengangkat telponnya.
Dua orang yang saat itu dia suruh menghabisi Dhana datang menjenguknya. Wajah mereka pucat pasi. "Nona, bagaimana kabar, Anda?" Tanya mereka salah tingkah.
"Aku kecelakaan, aku tidak bisa berjalan, apa kalian puas?! Menghabisi anak kecil saja kalian tidak bisa! Masih berani menampakkan muka! Keterlaluan!!" Bentak Meliza membuat kedua orang itu saling menatap dan tangannya gemetar.
"Nona, sebenarnya kami hampir berhasil membunuh, Tuan Dhana. Tapi gadis bernama Alice datang dan menyelamatkan dirinya." Jelas mereka, membuat Meliza murka.
"Cukup!! Alice hanyalah gadis biasa!! Kalian bisa menghabisinya!! Kenapa kalian malah kabur?! Dasar brengsek!" Umpatnya merah padam.
"Kau salah, Nona. Gadis itu bukanlah gadis biasa. Dia ... "
"Dia apa?! Katakan!!" Teriaknya kesal.
"Dasar bodoh!! Ini zaman modern, jangan samakan kehidupan nyata sama seperti kehidupan negeri dongeng! Pergi kalian!" Usir Meliza semakin sakit mendengar ucapan mereka.
"Kau akan menyesal kalau tidak percaya, Nona. Saat itu kami sudah mendorong Tuan Dhana, dia jatuh kejurang. Saat akan menghantam bebatuan tajam, Nona Alice meloncat dan melilit badannya. Gadis itu mengangkat Tuan Dhana ke atas."
"Bagaimana dengan, Deniz? dia di sana kan?" Tanya Meliza, mulai penasaran.
"Entahlah, Nona. Hanya itu yang bisa kami kasih tahu. Jaga dirimu, orang seperti itu bisa saja menyakitimu." Jawab salah satu dari mereka dan langsung pergi.
Meliza mencerna kata-katanya, apakah mungkin gadis polos dan pendiam seperti Alice adalah wanita ular?! Dia harus cepat sehat dan kembali ke kota, dia yakin Deniz ada di sana karna Dona baru saja tiada. Dia mengetahuinya dari kabar berita, dan sialnya, Alice juga ikut bersamanya. Meliza tidak akan membiarkan wanita ular itu menyakiti kekasihnya.
"Em ... Pak Dokter!" Serunya membuat salah satu suster menghampirinya.
__ADS_1
"Maaf, ada apa, Nona? Dokter lagi sibuk dengan pasien lain." Ucapnya sopan.
"Kapan aku boleh pulang?" Tanya Meliza tidak sabar.
"Anda boleh pulang kapan saja, Nona. Tapi bagaimana dengan biaya rumah sakitnya?" Tanya suster itu, pelan.
"Kau bisa bawa berlian ini. Harganya lebih dari seratus juta. Saat aku sudah sampai di kota, salah satu orang suruhanku akan kesini buat membayar biaya rumah sakitnya sekaligus mengambil kembali harta berhargaku ini." Kata Meliza, menyerahkan salah satu cincinnya.
"Baiklah, terima kasih, Nona." Jawab Suster itu dan mengambil cincin darinya.
Meliza segera mengemasi barangnya, pihak rumah sakit memberinya kursi roda, mobil sewaan sudah menunggu di depan. Dengan cepat dia akan menemui orang yang sangat di cintainya, Deniz Daniswara, rahasia Alice akan segera dia ungkap di hadapannya. Wanita itu tidak bisa merebut Deniz darinya. Dia tidak akan membiarkannya. Dona sudah tiada gara-gara dirinya. Alice hanya masalah kecil untuknya.
πππππππππππ
"Mama! Apa mama baik-baik saja?!" Seru Dhana saat sudah sampai di rumah satunya.
"Dhana! Mama baik-baik saja, Nak." Jawab Alice dan langsung memeluknya. Deniz tersenyum melihat keduanya.
"Bagaimana keadaan calon istri saya, Dok?" Tanya Deniz sambil menatapnya.
"Dia sudah baik-baik saja, Pak. Kau jaga pola makannya, carilah obat yang aku tuliskan ini untuknya. Kalau dia rutin meminumnya, kemungkinan besar akan cepat bisa berjalan." Jelas pak Dokter dan Deniz dengan seksama mendengarkan ucapannya.
"Tapi ini adalah resep obat yang paling terbaik kan, Dok?" Tanyanya memastikan.
"Iya, Tuan. Ini adalah resep obat terbaik dan bisa cepat menyembukan sakitnya meskipun mahal." Jawab pak Dokter sambil tersenyum melihat kekasih pasiennya.
"Saya tidak perduli soal harga, Dok. Yang pasti, kekasih saya harus bisa cepat di sembuhkan." Tekan Deniz membuat Alice dan Dhana tersenyum melihatnya.
"Semoga saja." Akhir pak Dokter dan langsung pergi meninggalkan rumahnya, suster yang merawat Alice juga ikut pulang bersamanya, hari sudah sore, tugas mereka sudah selesai.
__ADS_1
πππππππ
TBC.