
Alice bingung memikirkan hubungan antara Deniz dan Rosalina, Alice berpikir mereka pasti ada hubungan spesial, tapi apa? Alice ingin menyelidikinya, tapi bagaimana caranya? Haruskah dia menyamar jadi ular?
"Astaga! Aku penasaran," gumam Alice, pelan.
Dhana menghampirinya, dengan lembut Alice memeluknya. "Ada apa, Nak? Apa kau tidak bermain bersama para pelayan?" Tanya Alice, penuh kasih sayang.
"Tidak, ma. Dhana cemas memikirkan pernikahan, mama. Apalagi sejak wanita bernama Rosalina dekat dengan papa! Dhana tidak suka."
"Ya sudah, abaikan saja, Sayang. Biarkan dia bekerja," hibur Alice sambil menggelitiki badan putranya, Dhana jadi tertawa dengan kelakuan ibunya.
"Aduh, cukup ma! Dhana geli," protes Dhana sambil memegangi perutnya. Alice terus menggelitinya sambil sesekali memberinya kesempatan buat bernafas agar perut Dhana tidak keram. Karna Alice tidak mau diam, Dhana terus tertawa dan sesekali menggeliatkan badannya. "Mama, cukup, Dhana sudah bahagia, hentikan menggelitiki badan Dhana," pintanya sambil menciumi ibunya.
"Mama tidak akan diam, mengerti? Um ... kesayangan mama."
"Hahahahahaha ampun mama," ucapnya tertawa.
"Cukup!! Apa kau tidak dengar?! Dhana memintamu berhenti agar tidak menggelitiki badannya!! Kalau kau terus bersikap seperti itu! Dhana bisa kesakitan!!" Bentakan Rosalina yang tiba-tiba datang membuat Alice kaget dan langsung menghentikan tingkahnya menggelitiki badan Dhana.
"Rosalina, aku tahu apa yang sedang aku lakukan, kau tidak perlu berteriak seperti itu," ucap Alice, heran melihat sikapnya.
"Ada apa ini?" Tanya Deniz, yang tiba-tiba muncul di belakang Rosalina. Alice ingin menjelaskannya tapi Rosalina mendahului ucapannya.
"Alice menggelitiki badan Dhana! Aku lihat wajahnya memerah karna geli. Kalau dibiarkan seperti itu, perut Dhana bisa keram," jelas Rosalina membuat Deniz bungkam.
"Kau salah paham, Rose. Aku tahu apa yang aku lakukan, Dhana tidak akan kesakitan, aku sudah memberikannya jeda buat bernafas," bantah Alice tidak nyaman dengan tingkahnya.
"Jeda apanya?! Kau terus menggelitiki badannya! Kau sudah anggap Dhana seperti putramu sendiri, bukan?! Hal seperti itu saja kau tidak peka!! Dhana bilang, cukup! Ya cukup!!" Bantah Rosalina, membuat Alice kesal.
__ADS_1
"Diam!! Kau hanya seorang pelayan di sini! Jadi jaga sikapmu dan jangan campuri urusanku dengan putraku!" Seru Alice dan Rosalina langsung menampakkan wajah terluka.
"Sudah cukup, Alice! Kau jangan menghina Rosalina! Meski pelayan, apa yang dia katakan adalah benar, Dhana bisa kesakitan!" Sela Deniz penuh tekanan.
"Kau membelanya?! Siapa dia?! Apa aku tidak lebih penting dibandingkan dengan Rosalina?! Jangan-jangan, kau memiliki hubungan gelap dengannya! Dia ... "
"CUKUP ALICE!! Jaga bicaramu, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Rosalina, jadi diamlah dan jangan menghinanya."
"Sudahlah Deniz, aku yang salah, tidak seharusnya aku mencampuri urusan Alice dan Dhana. Maafkan aku," ucap Rosalina, dan langsung berlari memasuki kamarnya.
"Rose! Tunggu!" Seru Deniz menggedor pintunya. Alice terluka melihat sikapnya. Dhana mencium tangan mamanya dan berusaha meminta maaf padanya.
"Sudahlah, Nak. Tidak apa-apa, mama memang bersalah," hibur Alice, tersenyum menatap putranya.
Alice memasuki kamarnya, dia menangis disana, airmatanya sudah tidak terbendung lagi. Pertama Deniz menyakitinya soal baju pengantin, kedua penundaan hari pernikahan, sekarang bertambah masalah Rosalina.
"Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan?" Gumam Alice, muram.
ππππ
"Permisi, Nona Alice, ada seorang kurir mengantarkan bingkisan, dia mencari Nona Rosalina, berhubung dia tidak ada, maukah Anda menerima bingkisannya?" Tanya penjaga meminta persetujuannya.
"Bingkisan?! Buat Rosalina?!" Selidik Alice, heran.
"Iya, Nona."
"Baiklah, aku akan menerimanya, biar nanti aku taruh dalam kamarnya," ucap Alice dan langsung pergi menemui kurirnya. Penjaga menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Hallo, selamat sore, Nona, apa benar ini rumah Nona Rosalina?" Tanya kurir itu setelah bertemu dengannya.
"Rumah?! Nona Rosalina?! Apa maksudmu? Ini rumah calon suamiku, Rosalina memang bekerja di sini, tapi ini bukan rumahnya," bantah Alice, tidak terima.
"Oh, maaf, kata atasanku ini rumah Nona Rosalina Moza Daniswara, jadi maafkanlah aku, ini adalah miliknya, tolong Anda berikan padanya, terima kasih," ucap kurir itu membuat Alice terdiam dan bagai disambar petir. Setelah melakukan tugasnya, kurir itu pergi meninggalkannya.
"Nona Rosalina Moza Daniswara?! Astaga! Apa yang dikatakannya?! Apakah wanita itu adalah, Moza?! Cinta pertama Deniz?!" Seru Alice, gelisah hatinya, wajahnya memucat, tubuhnya bergetar hebat, tanpa terasa matanya berkaca-kaca dan meneteskan airmata.
Dia memeriksa bingkisannya, itu adalah baju pengantin milik Moza, baju yang sempat dipilih Alice tapi Deniz tidak mengizinkannya. Dengan cepat Alice memasuki kamar Rosalina, dia memeriksa isi lemarinya, ada sebuah foto di sana, foto mesra dia dengan Deniz. Alice terluka hatinya, kalau memang Rosalina adalah Moza, lalu kenapa Deniz diam saja?! Kenapa dia malah mengirim baju pengantin MozaΒ kerumahnya?! Apakah Deniz ingin menikahinya? Apakah Deniz membatalkan pernikahan dengannya karna Moza?! Dengan cemas Alice menghubungi Deniz tapi pria itu tidak mengangkatnya. Alice semakin terluka dibuatnya.
Di saat sedang panik-paniknya, nomor tidak dikenal menghubunginya, karna penasaran, Alice mengangkat telponnya. "Hallo," jawabnya pelan.
"Hallo, Alice, apa kabar? Bagaimana rasanya jika orang yang kau cinta memilih menikah dengan cinta pertamanya? Apa kau terluka?" Tanya seseorang di seberang sana membuat Alice murka.
"Kurang ajar!! Siapa kau?!" Tanya Alice, emosi.
"Siapa lagi?! Aku Meliza, Sayang. Moza sudah kembali, bukan? Jadi jangan harap bisa menikah dengan pria tampan dan kaya seperti Deniz Daniswara! Dia akan menikahi Moza, sementara kau?! Kau hanya akan jadi pelayan putranya saja. Lihat saja dirimu! Bahkan baju pengantin saja milik Moza jauh lebih mahal dari punyamu! Astaga! Apa kau pikir Deniz akan bahagia menikah denganmu?! Kau saja gadis setengah hewan, kalau dia menikahimu, apa jadinya anakmu? Apa kau pikir Deniz akan sudi memiliki anak hewan sama seperti dirimu?! Tidak mungkin, Ular kecil. Tentu saja dia akan menikahi Moza, dia manusia, anak mereka pasti juga manusia, tidak seperti dirimu. Oh ya! Deniz, Moza dan Dhana keluar bersama, ya? Tentu saja, mereka mencari cincin pernikahan, kasihan sekali kau! Aku pikir kau sangat pintar. Tapi tetap saja! Hewan akan selamanya menjadi hewan! Tidak pantas menikah dengan manusia, sebaiknya kau pergi ke hutan dan menikah dengan monyet saja!" Hina Meliza membuat Alice terluka. Dia ingin membantah ucapannya tapi apa yang katakan Meliza memang benar, dia adalah gadis ular, tentu saja Deniz akan mengkhianatinya dan menikah dengan Moza, mereka sama-sama manusia, sementara dia?! Dia hanya akan dianggap sebagai pelayan Dhana saja. Hatinya terluka, Handphone jatuh dari telinganya, dia terganggu dengan ucapan Meliza.
"Hiks, apa yang di katakan Meliza memang benar! Aku gadis ular! Deniz tidak mungkin mau menikah denganku! Dia pasti akan menikahi Moza! Aku hanyalah pelayan anaknya saja! Ya Tuhan, aku mencintai Dhana, tapi jika sudah ada Moza, aku rela meninggalkan mereka berdua, sudah ada Moza yang merawat mereka, aku tidak berguna. Deniz pasti tidak enak mau membatalkan pernikahanku, itulah sebabnya dia diam saja dan tiba-tiba berencana akan menikahi Moza. Biarlah, aku akan mengalah. Aku akan pergi jauh dari hidupnya, dengan begini, dia tidak perlu merasa tidak enak hati lagi. Selamat tinggal Deniz, aku adalah hewan. Hewan dan manusia tidak mungkin bisa bersatu, terima kasih atas semua cinta yang sudah kau berikan padaku, Aku akan menyimpanya dalam anganku. Apa kau masih ingat? Aku dulu sangat membencimu, dan sekarang! Mungkin ini adalah karmaku, aku mencintaimu tapi kau mencintai cinta pertamamu, astaga! Cinta memang luar biasa, sekali lagi selamat tinggal Deniz, semoga Dhana, Moza, dan kau bisa bahagia, aamiin ... " bathin Alice, dan langsung pergi meninggalkan rumahnya. Deniz tidak pantas buat gadis ular seperti dirinya.
Moza cintanya, dia sudah ada di depan mata kekasihnya, baju pengantin ada dirumahnya, dan sekarang mereka pergi cari cincin. Apa yang bisa Alice harapkan? Tidak ada, sama sekali tidak ada. Alice akan pergi dan menganggapnya tidak pernah di hidupnya. Akan dia jelaskan pada orangtuanya bahwa Alice tidak mencintainya. Kehidupan mereka berdua sangatlah jauh berbeda.
ππππππππ
Demi proses penerbitan, beberapa bagian sengaja aku hapus yaaa, versi lengkap.ada di buku atau Ebook. Thank,s
Salam dilla909
__ADS_1
ππππππππ
TBC.