GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 20


__ADS_3

Deniz mengendarai mobil seperti orang kesetanan, dia kepikiran Alice dan tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Alice.


"Astaga!! Bertahanlah, Alice, semoga kau baik-baik saja." Bathin Deniz, cemas hatinya. Dia berkeringat saking paniknya.


Setelah beberapa lama berkendara, Deniz sampai di rumahnya, secepat kilat dia membuka pintu mobil dan berlari memasuki rumahnya. Beberapa pelayan masih sibuk menghajar Alice dan Deniz terluka hatinya saat melihat Alice tidak berdaya bersimbah darah.


"HENTIKAN!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?! CUKUP!!" Bentak Deniz membuat semua pelayan di rumahnya ketakutan melihat kemarahannya.


Mereka menghentikan gerakannya, senjata di tangan mereka terlepas. Muka Deniz merah padam, tangannya terkepal, rahangnya mengetat, matanya menyiratkan kekecewaan yang teramat sangat, dia gelisah sekaligus murka melihat kondisi Alice hampir tiada gara-gara ulah para pelayannya.


"Tu-tuan, u-ular ini ha-hampir mencelakai, Tuan Dhana." Gugup salah satu pelayan, sambil mundur kebelakang, langkahnya gemetar.


"DIAM!! BERANINYA KALIAN SEMUA MENGHAJAR ULAR TIDAK BERDOSA! APA KALIAN LIHAT ULAR INI MENYAKITI, DHANA?! LAIN KALI JANGAN AMBIL TINDAKAN SEENAK HATI KALIAN!!" Teriak Deniz sambil mengangkat badan Alice dan langsung membawanya ke mobil.


Dia kembali menyetir seperti orang gila, Deniz menuju dokter hewan dan menyerahkan badan ular Alice itu padanya.


"Dokter, tolong dia! Apapun caranya! Kau harus menyelamatkannya! Cepat!" Panik Deniz dan Dokter hewan itu langsung mengobati lukanya. Deniz mondar mandir menunggu pemeriksaannya, bibirnya tak lupa selalu mengucapkan doa.


"Kau harus selamat, Alice. Karna kalau kau sampai tidak selamat! Aku akan ikut kemanapun kau berada, termasuk pergi ke alam yang berbeda." Gumam Deniz, benar-benar cemas memikirkan kondisinya.


Ceklek


Dokter keluar dari ruangannya, Deniz langsung mendekatinya dan bertanya. "Bagaimana keadaannya, Dok?!"


"Dia terluka dibagian punggungnya, ekornya banyak memar, mungkin akan kesulitan saat berjalan, untunglah kepalanya tidak apa-apa," jelas Dokter itu membuat Deniz sedikit lega memikirkannya.


"Terima kasih, Dokter, tapi ... "

__ADS_1


"Tapi apa, Tuan?"


"Seandainya dia manusia, apakah dia bisa berjalan?" Tanya Deniz membuat Dokter itu tertawa.


"Anda ini ada-ada saja. Kalau seandainya dia manusia, tentu saja tidak bisa berjalan dan punggungnya akan susah sekali buat digerakkan. Banyak tulang yang patah." Jelas Dokter itu membuat Deniz cemas setengah mati, nafasnya seakan sesak, dia tidak sanggup membayangkan betapa sakitnya Alice saat ini, dan semua itu gara-gara dia gagal melindungi dirinya.


"Baiklah, aku akan membawanya pergi, Dokter, terima kasih."


"Tapi, Tuan, ular itu masih memerlukan perawatan!"


"Biarkan saja, aku akan mengobatinya," jawab Deniz, sambil mengangkat badan Alice dan membawanya kedalam mobil.


"Aku takut Aliceku akan berubah jadi manusia, Dokter, tak akan aku biarkan orang lain tahu bahwa dia adalah manusia yang bisa berubah jadi ular." Bathin Deniz, dan langsung mencium kepala berbentuk ular, Alice.


Setelah berada di dalam mobil, Deniz sekali lagi menciumi fisik ular, Alice. "Berubahlah, Sayang ... aku tidak bisa merawatmu jika badanmu masih berbentuk ular seperti ini. Aku mohon Nona Manja ... berubahlah jadi manusia." Tangisnya perlahan. Deniz tidak pernah sekhawatir ini sebelumnya, sedihnya melebihi saat Moza dan Dona meninggalkannya. Betapa Deniz sangat takut kehilangannya, dia baru menyadari, betapa dia sangat mencintai manusia setengah ular yang saat ini ada di pelukannya.


Setelah sampai di rumah yang tidak ada pelayannya, Deniz membaringkan badan ular Alice di ranjang.


"Sayang ... dengarkan aku, berubahlah jadi manusia, aku mohon, Sayang ... " Mohon Deniz sambil menundukkan kepalanya. Deniz duduk di sebelahnya.


Tak lama setelah menunggu lama, Alice pelan-pelan merubah dirinya jadi manusia, Deniz sangat bahagia melihatnya, airmata haru mengalir di wajah tampannya. "Sayang! Kau berubah?! Astaga! Aku sangat khawatir, Alice ... " seru Deniz sambil menciumi wajahnya.


"Ah ... Kak Deniz ... punggung dan kakiku sakit ... " rintih Alice, dan DenizΒ  langsung menghentikan ciumannya.


"Maafkan aku, Sayang! Aku gagal menjagamu, setelah sembuh hukumlah diriku! Aku sangat mencemaskanmu, Alice ... " lirih Deniz membuat Alice terharu melihatnya, betapa pria itu sangat mencintainya. Alice tahu karna saat dirinya tadi jadi ular, dia mendengar segalanya, Deniz takut kehilangannya.


"Aku tidak apa-apa, Kak Deniz, hanya saja ... punggung dan kakiku sakit. Sepertinya aku akan menggunakan kursi roda sama seperti ... nasib, Kak Dona," ucap Alice sambil tertawa. Dia berusaha menenangkan Deniz agar pria itu tidak terlalu cemas memikirkannya.

__ADS_1


"Tidak akan aku biarkan nasibmu sama seperti nasib Dona, Alice. Aku akan merawatmu, aku akan menyembuhkan lukamu, aku akan menjadi kakimu, semuanya akan aku lakukan demi dirimu, aku ... "


"Aku ... apa, Kak Deniz?" Tanya Alice sambil menatap lekat mata pria tampan di hadapannya.


"Tidak apa-apa, lupakanlah, Alice." Jawab Deniz salah tingkah. Dia tidak mau membuat Alice merasa tidak nyaman dengan pengakuan cintanya.


Deniz menghubungi Dokter dan dia suruh datang kerumah, Deniz juga menyuruh dua suster buat merawatnya. Setelah selesai, Alice memanggil dirinya.


"Kak Deniz ... " panggil Alice membuat Deniz heran dan langsung mendekat ke arahnya.


"Iya, ada apa, Alice? Apa kau butuh bantuan?" Tanyanya cemas.


"Tidak, hanya saja ... "


"Hanya saja apa, Alice? Katakanlah." Perintah Deniz sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Alice.


"Aku mencintaimu. Cup!" Ucap Alice dan langsung menutupi wajahnya dengan selimut. Dia malu sekaligus merutuki kebodohannya sendiri, bagaimana bisa dia mengatakan cinta disaat yang tidak tepat. Ditambah lagi, ciuman bibirnya.


Astaga ....


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Vote boleh, komen boleh, baper yang gak boleh😝😝😝


Muaacchhhh


TBC.

__ADS_1


__ADS_2