
Alice melemas dalam dekapan Deniz, Daniswara. Dia terus meronta tapi tidak menghasilkan apa-apa. Yang ada badannya malah lelah semua karna Deniz tidak mau melepaskannya. Pria itu terus mendekap sambil sesekali menghisap bibirnya.
"Aku menyerah, lepaskan aku," pinta Alice dengan mata berkaca-kaca.
"Apa marahmu sudah hilang, Sayang?" Tanya Deniz, menatap lembut mata jernihnya.
"Belum. Bagaimana bisa kau mencium Meliza?! Dan setelah itu memasukkannya ke dalam kamarmu dan berencana akan membunuhku! Jangan kira aku tidak tahu, pak Tua!! Aku lihat dan dengar segalanya. Sekarang lakukan saja niatmu!! Bunuh aku! Ayo!!" Seru Alice sambil melotot tajam ke arahnya. Dia meletakkan tangan Deniz di lehernya. Alice ingin Deniz mencekik lehernya.
"Membunuhmu ya? Hem ... baiklah! Kau yang memaksa," ucap Deniz dan langsung memberi tanda merah di lehernya, bukan hanya itu, Deniz melumat bibirnya sampai bengkak. Tak puas dengan itu Deniz turun kebawah dan menghisap bagian atas payudaranya.
"Ah ... apa yang kau lakukan, kak Deniz? Bunuh saja diriku." Bisik Alice sambil meneteskan air mata.
Hati Deniz bergetar melihat kesedihannya. Dia menyesal telah mencium Meliza, tapi kalau tidak bersikap demikian, wanita itu akan mencurigainya. Dia tidak mau Alice mengalami hal yang sama seperti Dona. Deniz sangat mencintainya. Meliza bisa melakukan apa saja.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak mengira jika perlakuanku pada Meliza, bisa membuatmu terluka."
"Dasar, pria tua!! Aku bukanlah kak Dona. Mungkin dia diam saja saat melihatmu bermesraan dengan Nona Meliza. Kalau aku! Aku tidak sudi jadi milikmu!! Kalau kau mencium wanita lain!! Lupakan aku!! Aku tidak mau jadi istrimu!! Keterlaluan!"
__ADS_1
"Ssstttt ... jangan keras-keras, Sayang. Nanti dia dengar. Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu. Tenangkan dirimu, Sayang. Aku melakukan itu karna ada alasannya. Meliza tahu bahwa kau adalah gadisΒ ular, Alice." Deniz menjelaskan dengan penuh rasa sabar.
"Apa?! Tidak mungkin!!"
"Aku serius, Alice. Apa kau tahu? Dua pria yang akan menghabisi Dhana waktu itu? Pria itulah yang memberitahukan identitas aslimu padanya. Sungguh! Aku tidak bercanda, ular kecilku."
"Astaga! Apa yang harus aku lakukan, kak Deniz? Aku takut dia membongkar rahasia hidupku. Bagaimana dengan orangtuaku?! Mereka pasti akan cemas memikirkanku! Terutama mama. Dia selalu takut jika dalam hidupku mengalami hal seperti ini. Susah payah mama dan papa menyembunyikan identitasku. Mereka tidak mau orang lain tahu bahwa aku adalah gadis ular. Hanya kak Dona dan Dhana saja yang tahu. Sementara dirimu, sebenarnya aku tidak mau memberitahukan tentang diriku padamu, kak Deniz. Aku takut kau jijik padaku, bagaimanapun juga, aku wanita yang bisa berubah jadi ular, tubuhku sangat menyeramkan, aku hewan liar, aku ... " Wajah Alice memucat dalam dekapan kekasihnya.
"Cukup, Sayang. Tenanglah, aku akan memperbaiki segalanya. Apapun dirimu, aku tetap mencintaimu, hanya kamulah yang akan jadi istriku! Aku tidak main-main, Alice. Mmmppphhhh ... aku sangat mencintaimu. Kau tahu? Aku sangat menginginkan kau jadi belahan jiwaku, selamanya." Ucap Deniz, sambil terus menciumi bibir kekasihnya, Alice Pramuja.
"Mmmpphhhh ... lalu, apa yang harus aku lakukan, kak Deniz? Aku takut sekali." Ulang Alice, untuk yang kedua kali.
"Baiklah, terima kasih, kak Deniz."
"Kau mengucapkan terima kasih?Tidak perlu, Sayang. Sekarang balas ciumanku." Perintah Deniz membuat Alice menurut dan balas mencium bibirnya.
"Mmmpphhh, tapi ... jangan cium Meliza lagi ya, aku tidak tahan melihatnya." Ucap Alice sambil menciumi bibir calon suaminya.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang tidurlah, Sayang. Aku di sini bersamamu."
ππππππππ
Meliza merasakan kering di tenggorokannya, dengan susah payah dia meraih kursi rodanya dan duduk di atasnya. Setelah selesai, dia keluar dari kamar dan mengambil minum.
"Astaga! Sepi sekali rumah ini, kemana Deniz? Kenapa dia tidak kembali ke kamarnya, bukankah dia menidurkanku di ranjangnya? Apakah dia tidak ingin bercinta? Dona sudah tidak ada, apalagi yang bisa menghalanginya?" Gumam Meliza sambil memutar kursi rodanya. Dia mencari Deniz di setiap sudut ruangan. Dia mendatangi kamar Dhana dan tidak melihat Deniz di sana. Dia kesal melihat anak kecil itu masih hidup dan mengganggu dirinya.
"Dasar anak sialan! Seharusnya kau mati bersama Dona. Seharusnya orang-orangku bisa menghabisimu di jurang. Tapi sayang, siluman ular itu menyelamatkan hidupmu!! Tapi tunggu saja, Nak. Kau akan mati pada waktunya. Tak akan kubiarkan Deniz merawat anak tidak berguna sepertimu, hanya ada anakku yang boleh di sayangi olehnya kelak. Bukan kau!! Anak sialan!" Geram Meliza dan langsung menutup pintu kamarnya.
Dia kembali memutar kursi rodanya dan menuju kamar Alice. Pintunya terkunci, tapi dia bisa melihat dari lubang kecil pintu kamarnya, Meliza mengintip apakah Deniz ada disana. Dan dugaannya benar, Deniz sedang tidur dengannya dan terus-terusan melumat bibirnya sementara Alice memejamkan mata.
"Ular sialan!! Jadi kau merayu calon suamiku?! Tunggu saja pembalasanku, aku akan membongkar kedok ularmu. Semua orang akan tahu siapa dirimu. Deniz hanyalah pantas jadi milikku. Orang sepertimu harusnya tinggal di kebun binatang. Jangan merasa menang dulu, Sayang. Deniz hanya pura-pura menyayangimu. Dia bersikap begitu karna Dhana menyukaimu. Tapi tenanglah, kau, Dhana, dan seluruh keluargamu akan menyusul Dona ke neraka. Semua orang pasti akan membunuhmu jika tahu siapa dirimu sebenarnya. Astaga! Aku tidak sabar melihat pertunjukannya. Tidurlah, Sayang. Kita akan bertarung setelahnya." Sinis Meliza dan kembali memasuki kamarnya.
Dia memejamkan matanya dengan berbagai rencana licik di otaknya.
ππππππππ
__ADS_1
TBC.