GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB 35


__ADS_3

Alice memadangi baju pengantinnya demikian juga dengan perhiasannya, hatinya gundah-gulana entah karna apa? Alice resah memikirkan pernikahannya, berbeda dengan Dhana, bocah itu sangat bahagia karna besok Alice akan menjadi mama keduanya, mama dalam artian yang sesungguhnya, demi membahagiakan Dhana, Alice tertawa saat anak kecil itu mengajaknya bercanda.


"Ma! Apa mama tahu? Dhana sangat bahagia, keinginan mama Dona akan menjadi kenyataan, dan besok, mamaย  akan menjadi milik Dhana," racaunya gembira.


"Apakah kau senang, Sayang? Bagaimana seandainya papamu mencintai wanita lain?" Goda Alice membuat Dhana tidak suka.


"Kalau papa mencintai wanita lain, Dhana akan meninggalkannya, Dhana tidak sudi hidup dengannya! Hanya mama Alice yang boleh jadi mama Dhana!" Seru Dhana membuat Alice tertawa.


"Ssstttt ... tidak boleh seperti itu, Sayang. Apapun yang terjadi, kau tidak boleh meninggalkan papa, berjanjilah," perintah Alice, sambil menatap mata jernih putranya.


"Tapi, Ma."


"Dhana ... "


"Baiklah, Dhana berjanji tidak akan meninggalkan papa," guman Dhana, resah memikirkan ucapan mama keduanya.


Alice memeluk Dhana, berbagai ucapan manis keluar dari mulutnya, betapa gadis itu sangat mencintainya, selain menjalankan amanah dari Dona, Alice tidak akan membiarkan Dhana hidup memderita saat ada bersamanya.


"Hei, ada apa ini? Kenapa serius sekali?" Tanya Deniz yang tiba-tiba mendatangi mereka.


"Tidak ada apa-apa, Dhana hanya bahagia karna besok adalah hari pernikahan kita," jelas Alice membuat Deniz berubah muram. Alice terkejut melihat perubahan wajahnya, seperti sesuatu membebani hidupnya.


"Ada apa, kak Deniz? Apa ada masalah?! Sepertinya kau terlihat gelisah," selidik Alice, penasaran dengan sikapnya.


"Tidak ada apa-apa, Alice. Hanya saja ... " jawab Deniz ragu-ragu.


"Kenapa, kak Deniz?! Katakanlah!" Seru Alice, semakin penasaran dengan jawabannya.


"Sepertinya pernikahan kita di tunda tiga hari lagi, Sayang. Aku ada banyak pekerjaan yang harus cepat di selesaikan," jelas Deniz membuat Dhana marah.


"Papa ini bagaimana, sih?! Dhana sudah tidak sabar ingin memiliki mama! Apa pekerjaan papa lebih penting dibanding menikahi mama?!" Serunya membuat Deniz diam seribu bahasa, wajahnya tampak putus asa.

__ADS_1


"Dhana, kau tidak boleh bicara seperti itu, Sayang. Mungkin papamu memang banyak pekerjaan, bagaimanapun juga, dia adalah seorang atasan, rizki para karyawan menjadi taruhannya, Sayang," hibur Alice, berusaha menenangkan Dhana, padahal hatinya sendiri juga terluka, Alice berusaha menutupinya dan tidak mau menunjukkannya.


"Terserah! Dhana benci papa!!" Teriak Dhana, setelah itu berlari memasuki kamarnya.


"Alice, maafkan aku. Hanya tiga hari saja, Sayang. Kau tidak keberatan, kan?" Tanya Deniz, tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, kak Deniz, tenanglah."


"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu," lirih Deniz, sambil memeluknya.


"Aku juga, kak Deniz," balas Alice, penuh kasih mesra.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Alice terbangun dari tidurnya, Deniz semalaman tidak ada bersamanya, pria itu akhir-akhir ini seperti menjauhinya. Pertama soal baju pengantin, kedua menunda pernikahan, dan yang ketiga tidak ada kasih sayang darinya, apakah Deniz sudah berubah? Tidak adakah cinta untuk Alice di hatinya? Apa mungkin Deniz menyembunyikan sesuatu darinya? Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh Alice.


"Em, nenek, apa kak Deniz belum pulang dari kerja?" Tanya Alice, pada pelayan tua di rumah calon suaminya.


"Apa? Benarkah? Ya sudah, terima kasih, Nenek," ucap Alice dan langsung pergi.


Saat akan menghirup udara segar di taman, mobil Deniz memasuki halaman. Dia keluar dari mobil dan tampak kelelahan, Alice ingin menghampirinya tapi seorang wanita yang baru keluar dari mobilnya menghentikan langkahnya. Alice tercekat, dia gemetar, perasaan buruk tiba-tiba saja hinggap di hatinya, bahkan buruknya melebihi saat Deniz bersama Meliza.


"Astaga! Siapa dia?" Bathin Alice, dalam hatinya.


Saat akan kembali memasuki rumahnya, Deniz memanggil namanya.


"Alice! Kemarilah, Sayang," panggil Deniz menghentikan niat Alice buat memasuki rumah.


"Iya, kak Deniz, ada apa?" tanya Alice, setelah dekat dengannya.


Wanita yangย  satu mobil bersama Deniz, membulatkan kedua matanya menatap Alice, selain kesedihan, ada kebencian juga disana, Alice bingung harus bersikap bagaimana.

__ADS_1


"Aku membawa pelayan baru, Sayang. Dia yang akan membantumu menyiapkan pesta pernikahan," ucap Deniz, membuat Alice heran.


"Oh ya? siapa?" Tanya Alice, penasaran.


"Kemarilah!" Perintah Deniz pada wanita yang berdiri dibelakangnya. Alice lagi-lagi gelisah melihatnya, dia sangat cantik.


"Hallo! Namaku Rosalina, kau bisa memanggilku dengan sebutan Rose," jelasnya sambil mengulurkan tangan kanannya, wanita itu gemetar menatap Alice.


"Oh, hallo juga, aku Alice, calon istrinya Deniz."


"Calon istri, ya? Aku tahu. Deniz sudah menjelaskannya padaku," jawab Rose, penuh tekanan.


"Cukup, Rose, sekarang masuk kamarmu dan layani calon istriku!" Tajam Deniz membuat gadis itu terdiam sekaligus terluka.


"Kau tenang saja, aku akan melayaninya."


"Bagus!" Seru Deniz dan gadis itu langsung meninggalkan dirinya buat masuk ke kamarnya. Pelayan lain mengantarkannya.


"Kak Deniz, gadis itu sangat cantik, apa kau yakin akan menjadikannya pelayan?" Tanya Alice, memastikan.


"Tentu saja, dia pantas jadi pelayan!" Seru Deniz membuat Alice heran.


"Apa maksdumu?" Tekan Alice, menatap tajam mata calon suaminya.


"Maksudku, dia ingin jadi pelayan. Jadi biarkan saja dia jadi pelayan, aku sangat mencintaimu, Sayang," ucap Deniz dan langsung pergi meninggalkannya.


Alice sedih melihat kepergiannya, tidak biasanya Deniz mengabaikan dirinya, apalagi dia juga tidak mencium keningnya setelah pulang dari kerja, Deniz berubah, tidak ada kehangatan yang beberapa hari ini menemani hari-harinya. Dan gadis itu? Deniz seperti terluka saat menyebutkan kata pelayan.


"Astaga! Siapa dia?! Kenapa Deniz begitu memperhatikannya, apakah dia mantan kekasihnya?! Ck, tidak mungkin, mantan kekasih Deniz bernama Moza, bukan Rosalina," bathin Alice, dalam hatinya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

__ADS_1


TBC.


__ADS_2