GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 19


__ADS_3

Alice mengajak Dhana bercanda, tapi pria kecil itu selalu saja diam dan terus memikirkan Ibunya. Sementara Deniz, dia sudah berangkat ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya, hanya ada Alice dan Dhana di rumah mewahnya, beberapa pelayan juga sibuk dengan pekerjaannya, jadi mereka hanya berdua dan sesekali Alice menggelitiki badan Dhana agar anak kecil itu tertawa.


"Ayolah, anak tampan, tertawalah." Paksa Alice yang sama sekali tidak di pedulikan oleh Dhana. Anak itu selalu muram dan seringkali menyebut nama mamanya.


"Dhana merindukan mama, kak Alice," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Sayangku, kalau kau merindukan mamamu, maka berdoalah, dan setelah itu tertawalah, mamamu tidak akan bahagia jika melihat putranya bersedih, anak manis." Kata Alice berusaha menenangkan hatinya.


"Apakah mama akan bahagia jika melihat Dhana tertawa? Apakah mama bisa melihat Dhana?"


"Bisa, Sayang. Mamamu bisa melihat senyumanmu. Ayo, tertawalah Sayang." Paksa Alice dan Dhana langsung tertawa saat Alice menggelitiki badannya.


"Kak ... " panggil Dhana, pelan.


"Iya, Sayang. Ada apa?"


"Bisakah aku memanggilmu, Mama?" Tanyanya was-was.


"Tentu saja. Panggil aku mama, Sayang. Aku mencintaimu." Jawab Alice dan langsung memeluknya.


Dhana meneteskan airmata di dalam dekapannya. Karna pelayan sibuk dengan pekerjaannya, Alice merubah dirinya jadi ular dan mulai melilit badan Dhana. Alice melayangkannya kesana dan kemari dengan tujuan agar Dhana bahagia.


Dan benar saja, anak kecil itu tertawa dengan candaannya, lidah Alice seringkali menjilati pipinya, karna geli, Dhana menghindar kemudian tertawa.


"Hahahahaha, cukup, Mama. Dhana geli, hahahaha," tertawa keras Dhana tanpa sengaja menarik perhatian para pelayan. Mereka mendekat dan betapa kagetnya mereka saat tahu anak majikannya di lilit ular putih raksasa.


"AAKKHHHH!! ULAAARRR!! TUAN DHANA!! ASTAGA!! KALIAN SEMUA!! CEPAT TOLONG TUAN DHANA!!" Teriak salah satu pelayan membuat Alice menghentikan gerakannya, dia melepaskan Dhana agar para pelayan tidak menyakitinya.


Tapi terlambat, semua pelayan sudah mendekat ke arahnya dengan membawa berbagai senjata di tangannya. Ada yang membawa tongkat, parang, sapu, bahkan pembasmi serangga.


"Hentikan! Jangan sakiti mamaku," cegah Dhana, gelisah melihat Alice akan dihajar.


"Menyingkir, Tuan muda. Ular itu sangat berbahaya." Ucap kepala pelayan dan langsung meraih badannya. "Pak Satpam! Tangkap ular itu! Kami akan mengepungnya."


"Iya, Pak. Kami akan menghabisinya." Timpal pelayan lain semakin membuat Alice ketakutan.

__ADS_1


Dia terjebak di tengah-tengah kerumunan mereka, Deniz tidak ada di rumahnya, sementara Dhana tidak bisa berbuat apa-apa. Alice berusaha lari tapi banyaknya para pelayan membuatnya kesusahan.


"Nah! Ketangkap kau!!"


"Injak kepalanya!" Suruh pelayan lain dan langsung menghajarnya.


"Uuuhhh!! Kurang ajar kau! Berani menyakiti anak majikanku, maka akan aku habisi kau!! Ayo para pelayan yang lainnya! Hajar ular ini!!" Ajak salah satu pelayan, dan pelayan lainnya langsung bersama-sama memukulinya.


Bugh!!


Β  Β  Bugh!!


Bugh!!


"Berhenti!! Jangan sakiti ular itu!! Dia mamaku!!" Dhana panik dan terus berusaha ingin melindungi Alice tapi gagal.


"Ah ... aduh ... papa ... mama ... " desah Alice, kesakitan. Para pelayan itu memukuli punggungnya dan sesekali menghajar ekor beserta kepalanya. Dia tidak berdaya. Dhana terus meronta dan ingin melindungi dirinya. Tapi apalah daya? Dia tidak bisa melawan para pelayan yang saat ini menghajar dirinya.


"Hentikan!! Jangan sakiti mamaku!" Teriak Dhana yang sama sekali tidak dipedulikan oleh mereka.


"Baiklah, aku akan kurung dia di kamar." Jawab Arini dan langsung menjauhkan Dhana dari Alice.


"Lepaskan!! Mamaaaa!! Jangan sakiti, mamaku!! Lepaskan, aku!! Mamaaa!" Teriaknya tidak terima. Dhana terus meronta tapi pelayan itu jauh lebih kuat darinya. Dhana tidak sanggup lepas dari cekalannya.


"Tenanglah, Tuan. Kami akan menolongmu. Tak akan kubiarkan ular besar itu menyakitimu." Ucap sang pelayan berusaha menenangkan anak majikannya.


Setelah dimasukkan kedalam kamar, Dhana langsungΒ  berlari dan segera menghubungi ayahnya.


"Hallo," jawab Deniz setelah menerima telpon dari putranya.


"Papa!!"


"Iya, Nak. Ada apa?! Kenapa kau terlihat cemas?" Tanya Deniz, khawatir padanya.


"Mama Alice, Pa!"

__ADS_1


"Kenapa dengan mama Alice, Nak?!" Seru Deniz, merasa tidak enak hatinya.


"Dia dihajar oleh para pelayan. Mereka mengira mama Alice menyakiti Dhana karna wujudnya berubah jadi seekor ular!!"


"Apa?! Bagaimana bisa?! Astaga! Alice ... " desah Deniz dan langsung mematikan ponselnya.


"Cepat pulang, Pa!! Hallo, Papa!!" Dhana semakin gelisah memikirkan calon mamanya. Dia menggedor pintu kamarnya tapi tidak satu orang pun yang mau membukanya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Meliza terbangun dari pingsannya, dia heran karna tiba-tiba terbangun di ruangan yang tidak dia kenal.


"Ah ... kakiku ... " desahnya kesakitan.


"Anda sudah bangun, Nona?" Tanya Dokter dan langsung memeriksa dirinya.


"Ini di mana?" Tanya Meliza, kebingungan.


"Anda di rumah sakit, Nona. Anda kecelakaan dan baru hari ini siuman. Katakan, apa Anda memiliki keluarga?" Tanya Dokter itu setelah memastikan kesehatannya.


"Maaf, Dokter, orangtuaku ada di kota. Jika tidak keberatan, bisa tolong ambilkan ponselku." Pinta Meliza dan Dokter itu langsung menurutinya. "Tapi sebelum itu, bagaimana keadaan saya, Dok?" Tanyanya, cemas.


"Coba gerakkan kaki Anda, Nona." Perintah Dokter itu dan Meliza langsung menggerakkan kakinya. Tapi dia kesulitan, selain sakit yang teramat sangat, kaki yang satunya juga sama. Sangat sakit hingga membuatnya sesak saat bernafas.


"Akh!! Aduh, sakit sekali, Dokter."


"Kecelakaan itu telah membuat cedera kaki, Anda. Untuk beberapa waktu Anda harus menggunakan kursi roda. Dan ya! Jangan lupa hubungi keluarga, Anda."


"Baik Dokter, terima kasih." Ucap Meliza dan Dokter itu langsung keluar dari kamarnya.


Meliza gelisah memikirkan kakinya. Dia teringat Dona dan pasti wanita itu juga pernah merasakan hal yang sama seperti dirinya. Tapi itu semua tidak membuatnya merasa menyesal, dia justru bangga karna rencananya sukses membuat Dona tidak bisa berjalan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


TBC.

__ADS_1


__ADS_2