
Terima kasih karna sudah setia dengan cerita Alice ya all ...
Untuk versi Mangatoon, cerita ini sudah tamat.
Tapi untuk versi Buku dan Ebook, cerita ini masih lanjut dan partnya masih panjang. Jika mau pesan, bisa pesan di 0881026980073 (WA) dijamin, HAPPY END.
Untuk versi Ebook bisa beli di playstore bagian BUKU klik dilla909
Terima kasih ...
ππππππ
Deniz pulang bersama Dhana, Moza yang mengaku sebagai Rosalina, tengah berjalan dibelakangnya. Setelah Dhana memasuki kamarnya, Deniz menghentikan langkah Moza dan mengajaknya berbicara.
"Aku sudah menyelidiki masalah ini, Moza. Aku minta maaf. Kau memang tidak bersalah, Meliza yang mencelakaimu hingga membuatmu lupa ingatan, kau kembali setelah kau sadar, tapi maaf! Aku sudah ada Alice. Dia bukan hanya mengisi seluruh hatiku, tapi juga jiwaku. Aku sangat mencintainya, jadi aku mohon, Moza, lupakan aku," pinta Deniz, bicara baik-baik padanya.
"Tidak, Deniz! Kau masih mencintaiku, kau hanya tidak mau mengakui itu. Aku tahu Alice banyak berjasa pada keluargamu, tapi kalau kau memutuskan hubungan dengannya secara perlahan, aku yakin dia pasti akan paham, jangan merasa tidak enak," bantah Moza, tidak percaya jika Deniz telah melupakannya.
"Aku tidak bercanda, Moza. Tatap mataku, aku sangat serius, aku mencintai Alice sampai rela mengorbankan nyawaku, jadi hilangkan prasangka burukmu kalau aku masih mencintaimu," jelas Deniz berusaha membuatnya percaya.
"Bohong!! Kau masih menyimpan gaun pengantinku, kau tidak memperbolehkan siapapun memakai pakaianku, termasuk Alice. Kau bahkan membatalkan pernikahanmu dengannya saat aku menemuimu, apakah aku harus percaya kalau kau tidak mencintaiku?" Selidik Moza, menatap tajam mata pria yang sangat dicintainya. "Ayolah, Sayang. Kembalilah padaku, aku adalah cinta pertamamu dan selamanya akan seperti itu," paksa Moza pada pria di hadapannya.
"Aku memang pernah mencintaimu, Moza. Tapi itu dulu, sekarang nyawaku hanya milik Alice saja. Aku mencintainya diatas segala-galanya, bahkan rasa cintaku padanya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan cintaku padamu ataupun Dona. Sudahlah ... aku menghormatimu, itulah sebabnya aku tidak mau bersikap kasar padamu, aku melarang Alice memakai pakaian pengantinmu karna pakaian itu terbuka di bagian dada, aku tidak mau orang lain melihat tubuhnya, hanya aku saja yang boleh menikmatinya, soal penundaan pernikahan, itu juga bukan karna dirimu, tapi karna aku memesankan baju pengantin baru buat calon istri kesayanganku, Alice. Dia menyukai baju pengantinmu, itulah sebabnya aku memesankan baju yang sama seperti milikmu untuknya, tapi dengan model yang berbeda, aku ingin pakaian pengantin Alice tertutup di bagian dada, setelah ini, kami akan bahagia. Jadi Moza, kau pergilah, aku sudah menuruti syaratmu agar kau mau meninggalkanku, yaitu, dengan melihat calon istriku, kau sudah bertemu dengannya, dan mulai besok kami akan hidup bersama, jadi tugasmu sudah selesai, pergilah!" Jelas Deniz, berusaha sabar padanya.
"Tidak, Deniz! Aku sangat mencintaimu, bagaimana bisa aku hidup tanpa dirimu," protes Moza, tidak terima.
"Kau bisa, Moza. Dan kau harus melakukannya, sudah cukup aku menahan diriku, Alice pasti terluka gara-gara sikapku. Karna sibuk memikirkan cara buat mengusirmu aku sampai mengabaikan calon istriku. Jadi pergilah! Aku mohon. Pulanglah kerumahmu," paksa Deniz, mulai tidak sabar dengan dirinya.
"Tapi, Deniz ... "
__ADS_1
"TUAN!! Nona Alice pergi dari rumah!! Semua pakaiannya tidak ada, dia seperti marah akan sesuatu!!" Seru salah satu pelayan, membuat Deniz terkejut.
"Apa?! Kau gila!! Bagaimana penjaga bisa mengizinkannya?!" Tanya Deniz, murka.
"Nona Alice pergi saat kami istirahat, Tuan. Jadi maaf, kita tidak tahu kepergiannya," ucap penjaga, yang tiba-tiba hadir di hadapannya.
"Bagaimana mungkin Alice bisa pergi?! Apa kalian mengetahui sesuatu?!" Selidik Deniz, sambil menatap para pelayan dan penjaga satu persatu. Moza atau Rosalina yang ada di sampingnya jadi ketakutan melihat amarahnya.
"Tidak, Tuan. Tapi ... sepertinya nona Alice marah setelah menerima sesuatu," jelas salah satu penjaga yang tadi sempat memanggil Alice di taman.
"Sesuatu?! Sesuatu apa?!" Tanya Deniz, tajam.
"Sebuah bingkisan, kata kurirnya itu dari butik yang kemaren Anda dan nona Alice datangi. Nona Alice terlihat pucat, dia langsung berlari memasuki kamar nona Rosalina. Setelah keluar dari sana, dia kelihatan marah, di tambah lagi ada orang yang menelponnya, semakin membuatnya murka dan kami tidak tahu kalau kejadiannya bakal seperti ini." Jelas pelayan yang tadi sempat memergoki Alice. Deniz terkesiap mendengar penjelasannnya. Dia berlari memasuki kamar Rosalina dan memeriksa isinya, sebuah foto lama dirinya dan Moza terlihat mesra membuat Deniz tegang.
"Astaga! Apa Alice melihat foto ini?! Kurang ajar!! Apa yang harus aku lakukan?! Tentu saja dia marah besar!! Aku sudah mengabaikan dirinya dan ... " Deniz semakin gelisah saat gaun pengantin Moza ada di dalam kamarnya.
Dengan marah, Deniz memanggil namanya. "ROSALINA MOZA!! Kenapa gaun pengantinmu ada di sini?! Jawab!!" Bentak Deniz membuat Rosalina pucat sekaligus menundukkan kepalanya.
"Astaga! Alice pasti mengira aku akan membatalkan pernikahanku dengannya dan menikah dengan Moza. Tidak! Aku tidak akan membiarkannya salah paham, aku harus bertindak dan mencari dirinya, tapi kemana? Alice tidak tahu kemana arah jalan pulang! Ya Tuhan, lindungi dia, pertemukan aku dengannya. Aku sangat mencintainya," bathin Deniz, cemas memikirkan kekasihnya.
"Deniz, maafkan aku, aku akan pergi meninggalkanmu. Terima kasih atas cinta yang dulu kau berikan, padaku. Akan aku simpan dalam hatiku, yang paling dalam, selamat tinggal," ucap Moza, beruraian airmata.
"Tunggu! kenapa kau memakai nama Daniswara di belakang namamu, apa kau ingin membuat Alice salah paham? Apa kau ingin Alice mengira bahwa kau calon istriku?! Dan bukanlah dirinya?! Heh?!" Sentak Deniz, saat tertera nama Rosalima Moza Daniswara di bingkisan miliknya.
"Tidak! Maafkan aku, Deniz, mungkin butik itu mengira aku adalah istrimu, aku ... "
"Cukup!! Pergilah Moza!! Maafkan, aku. Kita tidak mungkin bisa bersama."
"Tapi, Deniz ... "
__ADS_1
"Pergilah!" Seru Deniz, cemas memikirkan kekasihnya yang pergi entah kemana.
Deniz tidak bisa menyalahkan Moza, gadis itu memang menemuinya setelah sekian lama, pertama Deniz membencinya, dia mengira Moza telah mengkhianatinya, setelah tahu alasan Moza menghilang karna Meliza, Deniz memaafkan dirinya, Meliza benar-benar jahat karna sudah mencelakainya, itulah sebabnya Deniz tidak membenci Moza dan malah kasihan kepadanya.
Moza mengira Deniz masih mencintainya, gaun pengantinnya masih dia simpan dengan rapat agar wanita lain tidak bisa memakainya. Tapi ternyata pikirannya salah, Deniz menjelaskan padanya bahwa cintanya hanya milik Alice Pramuja. Moza tidak mau terima, dia memaksa ingin mengambil kembali cinta lamanya, Moza mengotot bahwa Deniz masih mencintainya, Moza hanya menyangka Deniz merasa tidak enak hati saja pada Alice, gadis itu telah banyak berjasa buat keluarganya.
Tapi Deniz membantahnya, dia terus menjelaskan pada Moza bahwa cintanya pada Alice nyata, dia tidak main-main dan ingin menjadikan Alice sebagai istrinya. Moza mulai mengerti dirinya. Moza memberikan Deniz syarat, dia tidak akan mengganggu hubungan mereka berdua asal Moza boleh bertemu langsung dengan calon istrinya.
Deniz mengabulkannya, niat hatinya tidak mau melihat Alice terluka dengan merahasiakan kedatangan mantan kekasihnya atau cinta pertamanya, tapi akibat yang dia dapat malah membuatnya terluka sekaligus kehilangan Alice untuk selama-lamanya. Deniz sangat menyesal.
Dia berusaha mencari kerumah orangtuanya tapi Alice tidak ada, Pramuja menghajarnya, Zahra membenci dirinya, sementara Dhana dia tidak mau bicara dengannya, dia tidak mau menganggap Deniz sebagai ayahnya.
Anak itu sangat menyesal karna tidak bisa melihat ibunya sebelum kepergiannya, ayahnya memaksanya pergi dengan Moza karna alasan menghormati pertemuannya untuk yang terakhir kalinya. Tapi yang dia dapat bukan mengakhiri pertemuannya dengan Moza melainkan dengan ibunya.
Deniz terluka dan sering menangis merenungi nasibnya, bukan karna sikap mereka semua, tapi karna belahan jiwanya tidak ada di sampingnya, Alice.
Meliza sudah sembuh mentalnya dan masuk ke dalam penjara, akibat kegilaannya kemaren, dia sering berulah dan kakinya jadi lumpuh untuk selama-lamanya, dia kecelakaan untuk yang kedua kalinya, Moza membalas dendam kepadanya, Meliza terluka karna dirinya.
Setelah selesai dengan balas dendamnya, Moza berusaha melupakan Deniz dan menikah dengan orang yang dulu menyelamatkan hidupnya.
Sedangkan Deniz, dia sering melamun dan meneteskan airmata, Dhana tinggal bersama Pramuja dan Zahra, Dhana berharap Alice akan datang dan mau menjadi mama kandungnya, Deniz berdoa untuk anaknya, semoga Alice mau kembali pada orangtuanya dan juga padanya.
Ya ....
Hanya itulah keinginannya.
Tamat.
ππππππ
__ADS_1
Mohon maaf jika ada salah-salah kata atau balasan komen yang tidak berkenan, semoga pembaca dilla909 semakin menyebar dan meluas, aamiin ... dan semoga saja buku dan Ebooknya juga laris. Aamiin, Aamiin 1000 Γ π€π€π€π€π€
Terima kasih ...