
Meliza menggandeng tangan Deniz saat akan memasuki pesta, para tamu dari kalangan atas seperti artis, sesama Direktur utama, dan para pejabat kota penting lainnya berkumpul di sana. Maklum, Deniz adalah orang kaya, semua orang menghormatinya, ditambah lagi setiap orang yang bekerja sama dengannya, akan mendulang sukses yang sangat luar biasa, itulah yang membuat Meliza tergila-gila padanya, dia terobsesi menjadi istrinya. Semua akan dia lakukan demi mendapatkan cintanya, gelarnya, statusnya, NYONYA DANISWARA.
Meliza terus menempel padanya, dia tidak malu meskipun menggunakan kursi roda, dia ingin menunjukkan pada para tamu bahwa Deniz adalah kekasihnya. Semua pelayan tidak suka melihat tingkahnya, yang mereka inginkan hanyalah, Deniz Daniswara menggandeng tangan Alice, dan bukan tangan Meliza.
"Lihatlah! Si Angkuh itu kembali lagi! Semoga Tuan Deniz menikah dengan Nona Alice, dan bukan dengannya," cibir salah satu pelayan tidak suka dengan dirinya.
"Kau benar, aku sering melihat dia menyakiti Nyonya Dona, dan aku juga sering melihat dia menyakiti Tuan Dhana, aku tidak suka padanya. Semoga majikan kita terbuka mata hatinya," sahut pelayan lainnya, membenarkan ucapannya.
"Aamiin ... " serempak para pelayan mengucapkan doa.
Deniz tidak menyadari jika Alice tertinggal di belakangnya. Para tamu di sana menyambut kedatangannya. Mereka mengira Meliza adalah kekasihnya. Satu demi satu mereka memperbincangkannya dan mulai menyapanya.
"Hallo, selamat malam, Tuan Deniz. Kekasih Anda cantik sekali," puji salah satu rekan kerjanya dan menjabat tangannya.
"Oh, terima kasih. Kekasihku memang yang terbaik, perkenalkan, namanya adalah ... " ucap Deniz, terhenti karna baru menyadari kalau Alice tidak ada di sampingnya.
"Meliza," jawab Meliza dan langsung balas menjabat tangan rekan kerja pria yang sangat dicintainya.
"Wow, nama yang cantik, sesuai dengan paras Anda," puji rekan kerja Deniz sambil menatap Meliza.
"Maaf, tapi kekasihku bukan Meliza. Namanya adalah Alice Pramuja, dan dia sedang tidak ada di sisi saya," bantah Deniz, membuat rekan kerjanya kebingungan.
"Oh, maaf, aku kira Nona Meliza. Kalau begitu dimana kekasih Anda? Suatu kehormatan bisa mengenal dirinya," tanya rekan kerja Deniz sambil tersenyum ramah ke arahnya.
"Dia berdiri di samping putra saya. Maklum, Dhana sangat menyukainya, dia tidak akan pernah melepaskan tangan orang yang sudah dia anggap mamanya," jawab Deniz, sambil tangannya menunjuk ke arah Alice dan putranya.
"Oh, dia?!" Seru rekan kerja Deniz setelah menatap Alice. Matanya menyiratkan kekaguman yang sangat luar biasa, bahkan dia baru tersadar saat Deniz menepuk pundaknya.
"Tuan Albert, apakah Anda baik-baik saja?" Tanya Deniz, pada pria yang ternyata memiliki nama Albert. Deniz heran melihat kebungkamannya.
"Sangat cantik," gumam Albert, hampir tidak terdengar.
__ADS_1
"Apa?!" Tanya Deniz memastikan pendengarannya.
"Oh! Maaf. Saya mengagumi kekasih Anda, selama hidup dan sering bertemu banyak wanita, baru kali ini saya melihat gadis bersinar dan bermata teduh seperti dirinya, wajahnya memancarkan kasih sayang. Pantas saja jika putra Anda, Dhana, sangat menyukainya, kekasih Anda memang luar biasa," puji Albert membuat Meliza mengepalkan kedua tangannya, tidak terima. Dia memendam amarah di dalam hatinya.
"Lagi-lagi gadis ular itu lagi," geram Meliza, dalam hatinya.
"Oh ya? Terima kasih, Tuan Albert. Anda bisa menikmati pestanya," ucap Deniz, membuyarkan lamunan Meliza.
"Sama-sama, Tuan. Selamat ulang tahun," balas Albert dan langsung membaur dengan tamu lainnya.
Alice tersenyum kecil melihat Deniz menatap dirinya, Dhana berada di sisinya dan senantiasa menanyakan keadaannya.
"Mama tidak apa-apa, kan? Punggung dan kaki mama sudah sembuh, kan? Bilang kalau ada yang sakit, ya," racau Dhana membuat Alice tertawa.
"Mama baik-baik saja, Sayang. Tenanglah," jawab Alice dan Dhana langsung tersenyum lega sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya Tuhan ... ini pesta ulang tahun kekasihku, calon suamiku, pujaan hatiku. Jangan merusaknya dengan perubahan diriku. Aku sangat mencintainya. Bahagiakan dirinya dan juga putranya, Dhana, aku sangat mencintainya, mereka berdua belahan jiwaku setelah kedua orangtuaku. Semoga kebaikan selalu menyertai mereka berdua, aamiin ... " bathin Alice, berusaha bersikap baik-baik saja.
"Mama! Kau kenapa?! Hati-hati saat berjalan," seru Dhana, membuat Deniz membalikkan badan, dia terkejut saat Dhana berteriak memanggil nama calon ibunya.
"Alice?! Kau kenapa, Sayang?! Apa semua baik-baik saja?!" Seru Deniz, mengulangi pertanyaan putranya. Deniz ingin menghampiri Alice tapi Meliza menahan tangannya.
"Deniz!! Biarkan saja. Dia bisa menjaga dirinya!" Ucap Meliza, tidak suka.
"Lepas Meliza!! Kali ini aku tidak akan berpura-pura!! Aku sangat mencintainya! Jadi lepaskan tanganku!" Bentak Deniz dan langsung menyentakkan tangan Meliza yang ada di lengannya.
"Deniz?! Kau?!" Seru Meliza, tidak percaya. Wajahnya memucat, bibirnya bergetar, rahangnya mengetat, kepalanya yang tadinya sakit jadi semakin pusing. Dia tidak tahan melihat Alice merebut cintanya. Dia sudah bersusah payah buat mendapatkan cinta Deniz Daniswara.
Dengan cara menyakiti Moza, membunuh Dona, dan yang terakhir hampir menghabisi Dhana. Tapi sekarang! Dengan mudahnya gadis ular itu mendapatkan cinta kekasihnya, Meliza tidak akan membiarkannya, dia akan membongkar identitas aslinya.
"Deniz, aku tidak apa-apa, masuklah," perintah Alice, berusaha bangun dari jatuhnya.
__ADS_1
"Dasar jalang!! Awas kau! Aku akan menghabisimu!" Bathin Meliza, penuh dengan kebencian di hatinya.
"Tidak ada apa-apa bagaimana? Kau terluka, Sayang," bantah Deniz dan langsung merapatkan badannya pada badan kekasihnya.
"Deniz tunggu! Apa kau serius dengan ucapanmu?" Tanya Meliza, berusaha meyakinkan pendengarannya.
"Aku serius Meliza, aku sangat mencintainya, aku tidak akan pernah meninggalkannya. Jadi mulai sekarang, kita tidak ada hubungan apa-apa," jelas Deniz dan langsung menatap mata Alice.
Deniz membantu Alice berdiri, dia heran dengan fisik lemah kekasihnya, selain khawatir, Deniz cemas memikirkan keselamatannya, Meliza mengetahui bahwa Alice adalah kekasihnya, Deniz takut Meliza akan menyakitinya, Deniz tidak akan membiarkannya.
"Ssshhhhssss," desisan nafas Alice, membuat Deniz terdiam dan tidak mengerti apa yang telah di alami calon istrinya.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu pucat sekali? Dan nafasmu! Kenapa nafasmu seperti desisan ular? Apa kau baik-baik saja?!" Tanya Deniz langsung membopong tubuh gadisnya.
"A-aku tidak apa-apa, Deniz, hanya sakit kepala biasa. Turunkan aku, nanti para tamu melihatku, Sayang. Aku malu."
"Tidak boleh ada kata malu. Aku calon suamimu dan aku juga berhak atas dirimu, jadi menurutlah! Ok."
"Iya, calon suamiku, semua terserah padamu."
Setelah mengenalkannya pada para tamu, Deniz melamar Alice di hadapan para tamu, dengan hati berdebar dan fisik yang semakin melemah, Alice langsung setuju. Dia ingin cepat-cepat pergi dari pesta itu. Sebagian sisik di bagian kakinya mulai bermunculan satu demi satu.
Meliza senang melihat kegelisahan Alice, dia sudah mencari tahu bahwa manusia ular akan lemah pada hari-hari tertentu. Dan ya! Meliza sudah menyewa tukang seruling buat membongkar kedok asli Alice Pramuja. Entahlah ...
ππππππ
**TEKAN LOVE, LOVE, AND LOVE
πππππ**
TBC.
__ADS_1