GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 14


__ADS_3

Deniz membawa pulang putranya, Meliza juga ikut di belakangnya. Deniz tetap memperhatikannya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Deniz masih tetap berpura-pura mencintainya. Padahal didalam hatinya ada dendam yang membara.


"Tunggu saja Meliza! Kau menyakiti Dhana dan Dona, maka sama seperti itu pula Kau akan dapat balasannya. Akan kubuat Kau bercinta dengan seorang Pria berpenyakitan agar nasibmu sama seperti Dona. Kau sudah berani menyakitinya hingga hampir tiada, bukan? Maka sama seperti itu pula Kau harus merasakannya." Bathin Deniz sambil mendekap erat badan Putranya.


"Deniz," panggil Meliza membuyarkan lamunannya.


"Iya, Sayang." Jawab Deniz, pelan.


"Dhana ...," ucap Meliza, sambil menatap matanya.


"Kenapa, Dhana?" Tanya Deniz, pura-pura tidak paham.


"Bagaimana Dhana bisa ada bersamamu?" Ragu Meliza karna seingatnya Dhana di bawa oleh dua orang pria suruhannya agar di lempar ke jurang.


"Oh! Dhana? Dia tadi pergi bersama Alice. Kata Alice, Dhana dibawa oleh dua orang pria dan Alice langsung menghampirinya. Mungkin kedua Pria itu adalah pekerja Kita. Kau tahu sendiri, kan? Mereka sangat menyayangi Dhana, entah karna Aku adalah Papanya? Atau karna mereka tulus menyayanginya. Kenapa? Apa ada masalah?" Selidik Deniz, membuat wajah Meliza pucat.


"Oh! Ti-tidak apa-apa," gugup Meliza, salah tingkah.


"Kau pasti sangat khawatir padanya, ya?" Ejek Deniz membuat Meliza gelisah.


"Oh! Ten-tentu saja, Aku sangat khawatir pada Dhana, daritadi Dia tidak ada. Kau baik-baik saja kan, Nak?" Tanya Meliza, pura-pura menyayangi Dhana. Padahal dalam hatinya dia sangat kecewa. Rencananya gagal.


Dhana menatap ayahnya, setelah ayahnya mengedipkan mata, Dhana melihat kearah Meliza dan menganggukkan kepalanya. "Dhana baik-baik saja, Nona Meliza," jawab Dhana sambil tersenyum lembut kearahnya.


"Ya sudah. Kau tidur saja, Sayang. Besok kita harus bekerja lagi." Perintah Deniz, membuyarkan lamunan Meliza.


"Eh! Iya. Tapi, Deniz. Ini sudah pagi."


"Memangnya kenapa kalau pagi? Tadi malam kau bekerja cukup keras. Sebaiknya Kau istirahat saja hari ini. Nanti Aku akan menyusulmu," goda Deniz membuat pipi Meliza bersemu merah karna malu. Betapa Pria itu sangat menggoda hatinya. Meliza sangat mencintainya.

__ADS_1


"Baiklah," bisik Meliza pelan. Wanita itu segera memasuki kamarnya. Dia membaringkan badannya di ranjang karna memang sangat kelelahan.


Setelah Meliza tidak ada, Deniz mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan amarah. Putra semata wayang yang sangat dicintainya hampir tiada gara-gara wanita yang selama ini jadi kekasihnya. Itupun juga karna Meliza berguna buat keluarganya, andai bukan karna Dona dan Dhana, gadis seperti Meliza tidak akan ada dalam kehidupannya. Deniz mengira Meliza baik dan mau merawat keluarganya, tapi ternyata dia salah. Meliza tidak pantas tinggal di rumahnya.


"Jalang sialan! Aku kira Kau baik hati dan tulus merawat anak dan istriku, tapi ternyata Aku salah. Kau merupakan setan yang menyamar jadi manusia! Tunggu saja pembalasanku. Kau pikir Aku sangat mencintaimu bukan? Mari Kita buat permainan, Kau! Atau Aku yang akan menang." Sinis Deniz, dan tak lama kemudian memasuki kamar Dona.


Wanita lemah itu gelisah menatap suaminya. Wajahnya semakin pucat, Deniz semakin khawatir dan mendekat kearahnya.


"Dona, apakah Kau baik-baik saja? Maafkan Aku, tidak seharusnya Aku mengabaikanmu." Sesal Deniz sambil menurunkan badan Dhana dan mengusap lembut wajah istrinya.


"A-aku, ba-baik-baik saja, Deniz." Gagap Dona membuat Dhana cemas dan mencium pipi ibunya.


"Ma, jangan bicara gagap. Papa sudah tahu tentang kejahatan Nona Meliza. Jadi Papa pasti akan melindungi Kita."  Jelas Dhana membuat Dona meneteskan airmata.


"Benarkah? Kau mempercayai Kami, Deniz?" Tekan Dona, menatap tajam


Deniz menghembuskan nafas penuh sesal. Dia meraih tangan Dona dan menciumnya. "Maafkan Aku, Dona. Aku lebih percaya Meliza dibandingkan dengan kalian berdua. Maafkan Aku." Ucapnya tertunduk lesu.


"Sudahlah, Suamiku. Itu semua juga salahku. Suami manapun pasti akan mengabaikan istrinya, jika istrinya kepergok bercinta bersama pria lain."


"Tapi itu semua karna Meliza, Dona." Protes Deniz, geram dengan jalang dirumahnya.


"Sudah cukup, Deniz. Semua sudah terjadi. Biarlah. Tidak apa-apa. Toh kita menikah juga bukan karna rasa cinta. Tapi di jodohkan. Kalau Kau ingin menebus rasa bersalahmu padaku, maka turuti perintahku. Menikahlah dengan Alice. Aku ingin lihat Dhana bahagia bersama Mama baru-nya. Dan itupun sebelum Aku tiada." Paksa Dona membuat Deniz tersenyum sedih kearahnya.


"Kau akan baik-baik saja, Dona. Soal Alice ...,"


"Jangan mendebatku, Deniz. Waktuku tidak akan lama lagi. Ah ..., Aku tahu Alice adalah manusia yang bisa berubah jadi ular. Tapi ..., auh ..., hatinya sangat baik, Deniz, Aku mohon ..., jadikan Dia sebagai Mama barunya Dhana. Dan ya ..., kali ini jangan sakiti Dia. Anak itu sangat baik, Deniz. Aku bisa lihat betapa Kau juga sangat mencintainya." Jelas Dona dan tak berapa lama kemudian memejamkan mata.


"Dona!! Kau kenapa?! Kau baik-baik saja, kan? Kau selalu minum obatnya, kan?!" Seru Deniz, cemas melihat kondisi istrinya.

__ADS_1


"Mama, bangunlah," lirih Dhana, sedih menatap Ibunya.


"Kalian berdua jangan cemaskan Aku. Aku hanya ingin beristirahat. Aku tidak apa-apa." Jelas Dona dan kembali membuka mata.


"Kau membuatku cemas, Dona. Sekarang Kau minum obatnya!" Seru Deniz dan langsung memberikan obat buat istrinya.


"Tidak, Deniz. Obat itu hanya akan mempercepat kematianku saja." Tolak Dona, memalingkan mukanya.


"Kenapa?" Tanya Deniz, heran.


"Meliza yang membelikannya, Deniz. Tiap hari Aku dipaksa meminumnya. Kalau Aku tidak mau, dia mengancam akan menghabisi Dhana." Jelas Dona. Membuat Deniz geram dan ingin langsung menghabisi Meliza.


"Kurang ajar!! Jadi selama ini Kau minum obat yang salah?!" Teriak Deniz, murka.


"Pa, tenanglah." Lirih Dhana, takut melihat kemarahan ayahnya.


"Sudah cukup, Deniz. Turuti perintahku. Menikahlah dengan Alice. Aku mohon, Sayang. Ini semua demi putra Kita." Paksa Dona. Benar-benar cemas memikirkan putranya.


"Tapi Alice sangat menyayangimu, Dona. Akan sangat sulit buat menikah dengannya." Datar Deniz, sambil menatap mata istrinya.


"Undang keluarga Alice kesini. Suruh Meliza keluar kota. Saat dia tidak ada. Kau harus menikahi Alice. Aku akan bicara kepadanya. Kalau dia tetap tidak mau. Kau tahu harus berbuat apa, bukan?" Ucap Dona, sambil menatap tajam, mata suaminya.


"Aku tahu apa yang harus Aku lakukan, Sayang. Tapi ..., maukah Kau memaafkanku?"


"Aku akan memaafkanmu jika Alice sudah jadi istrimu, Deniz."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


TBC

__ADS_1


__ADS_2