
Deniz memasuki kamar Meliza, dia menyuruh Meliza buat pergi ke kota karna Dona yang menyuruhnya. Dia ingin pertemuannya dengan keluarga Alice tidak di ketahui oleh dirinya.
"Deniz, Sayang. Kenapa tiba-tiba Kau menyuruhku kembali ke kota?" Tanya Meliza, heran melihat sikapnya.
Deniz yang ditatap olehnya hanya diam saja dan terus menatap keluar jendela.
"Deniz ..., Kau dengar Aku, kan?" Ulang Meliza, tidak tahan dengan kebisuannya.
"Ya, Aku dengar, Meliza, Aku ingin membuat dirimu kecelakaan di jalan," gumam Deniz membuat Meliza mendekat kearahnya.
"Kau bicara apa, Deniz? Aku tidak dengar." Protes Meliza, tidak sabar.
"Oh, itu! Di kota banyak pekerjaan. Sebagai calon istri yang baik, Kau harus belajar mengurus perusahaan. Kau tahu sendiri, kan? Calon suamimu sangat kaya." Jawab Deniz sambil menatap tajam kearah matanya.
"Oh, begitu alasannya. Baiklah, Aku akan kembali ke kota. Kau cepat menyusul, ya," ucap Meliza, dan langsung memeluk tubuhnya. Deniz ingin sekali menghancurkan Meliza, tapi dia tahan. Dia ingin mempermainkannya dengan perlahan.
"Ya sudah. Bersiaplah!" Seru Deniz dan langsung mendorong pelan tubuhnya.
"Baiklah, Aku akan bersiap, Sayang," ucap Meliza dan langsung memasuki kamarnya.
Setelah Meliza tidak ada, Deniz menghubungi seseorang, dan menjauh dari kamar Meliza.
"Hallo! tabrak mobilnya dari belakang, dan biarkan dia kecelakaan hingga tidak bisa berjalan. Aku inginΒ nasibnya sama seperti Dona." Tekan Deniz dan langsung mematikan ponselnya.
"Papa," panggil Dhana mengagetkan dirinya.
"Iya, Nak?"
"Papa tidak sedih, kan? Nona Meliza akan kembali ke kota." Jelas Dhana, gelisah melihat Ayahnya.
"Tentu saja tidak, Nak."
"Tapi ..., bukankah dulu Papa sangat mencintainya?"
__ADS_1
Pertanyaan Dhana membuat Deniz menghela nafas dan mengangkat badan putranya. "Papa mencintai banyak wanita, Nak. Tapi bukan karna mereka cantik atau menarik hati Papa. Yang membuat Papa cinta ke mereka adalah, karna mereka mau merawat Dhana dan Dona, Mama-mu, Nak. Selain itu, tidak ada cinta buat mereka." Jelas Deniz membuat Dhana terus menatapnya.
"Kalau, Kak Alice? Apakah Papa juga tidak mencintainya? Apakah Papa hanya ingin memanfaatkannya sama seperti Nona Meliza?" Tanya Dhana membuat Deniz gemetar hatinya.
"Tidak, Nak. Tidak sama sekali," jawabnya pasti.
"Lalu ... apakah Papa benar-benar mencintainya?"
"Kau ini masih kecil bahasannya sudah cinta. Tapi entahlah, Dhana? Saat bersamanya Papa merasa bahagia, saat jauh darinya Papa merindukannya. Gadis itu bisa membuat Papa gemas dan ingin selalu menggodanya. Bahkan Alice bisa membuat Papa lupa sama Moza." Jawab Deniz sambil menatap mata putranya.
"Moza? Dia siapa, Pa?"
"Moza adalah kekasih Papa, Nak. Dia cinta pertama Papa. Tapi saat pernikahan, dia menghilang. Itulah sebabnya Mama-mu yang harus menikah dengan Papa. Nenek dan kakekmu memaksa Mamamu agar mau menikah denganku. Karna dipaksa, itulah sebabnya tidak ada rasa cinta di antara kita berdua." Jelas Deniz membuat Dhana menganggukkan kepalanya.
"Apakah Mama dulu juga punya kekasih?"
"Kurang tahu, Jagoan. Tapi seandainya dia punya, tetap kalah di hadapan ayah dan ibunya. Mau tidak mau dia harus menikah dengan Papa."
"Oh ... " gumam Dhana, pura-pura paham. Deniz tertawa melihat tingkah laku putranya.
"Iya, Pa," turut Dhana dan langsung memasuki kamarnya.
Deniz menuju kamar Dona. Wanita itu semakin lemah dengan penyakitnya. Tubuhnya semakin kurus dan wajahnya terlihat pucat.
"Dona, aku bisa melayanimu sebagai seorang suami kalau kau mau," tawar Deniz membuat Dona tersenyum lembut kearahnya.
"Meskipun aku ingin, aku tetap tidak akan melakukannya, Deniz. Aku tidak mau kau tertular oleh penyakitku. Kau harus sehat. Dhana harus ada yang merawat dan menjaga, cepat nikahi anak, Tuan Pramuja." Pinta Dona dan langsung meraih tangan suaminya.
"Dona ... "
"Iya, kenapa kau terlihat gelisah Deniz?"
"Tidak apa-apa. Tidurlah." Ucap Deniz dan langsung mengecup keningnya. Deniz merebahkan diri di sampingnya.
__ADS_1
"Deniz," panggil Dona, paham akan kegelisahan suaminya.
"Iya," jawab Deniz lemah.
"Aku tahu kau menyesali semua perbuatanmu, kadang penyesalan memang datang belakangan. Tapi aku sudah memaafkanmu, Deniz. Lupakanlah." Pinta Dona, menenangkan hati suaminya.
"Terima kasih, Dona. Apa kau tidak ingin menemui kekasihmu?"
"Tidak, Deniz. Biarkan dia terus membenciku. Aku tidak mau dia sedih karna penyakitku." Jawab Dona, langsung membantah ucapan suaminya.
"Baiklah, terserah kau saja."
ππππππππ
Meliza terus mengendarai mobilnya dengan cepat. Suara halilintar tidak membuatnya gemetar. Tapi justru mobil besar yang mengikutinya dari belakang membuatnya ketakutan.
"Sialan! Siapa, dia?! Kenapa terus mengikutiku?! Brengsek!" Umpatnya geram. Meliza semakin mempercepat mobilnya. Dia tidak memperdulikan keselamatannya, yang bisa dia lakukan hanya terus berjalan agar cepat sampai di tempat tujuan.
Mobil di belakangnya semakin melaju dengan cepat, Meliza panik dan kehilangan keseimbangan. Disaat seperti ini, dia teringat pada mimik ketakutan Moza dan Dona saat dia menyakitinya. Meliza selalu teringat video mereka. Saat menyakiti kekasih serta istri Deniz, Meliza selalu meminta bukti video. Hanya Dhana saja yang membuatnya kelupaan, karna dia mengira Deniz tidak akan memperdulikan putranya. Tapi gadis bernama Alice berani mengacaukan segalanya.
"Kurang ajar! Aaakkhhhhh!" Teriak Meliza saat mobilnya di tabrak dari belakang dan menghantam pohon besar. Kakinya terjepit, Meliza kesakitan, seluruh isi dunia seakan berputar di hadapannya. Berpuluh-puluh orang berdatangan dan menyelamatkan dirinya. Dia merasakan sakit yang sangat luar biasa.
Disaat semua orang membawa Meliza kerumah sakit, Pria yang tadi menabraknya menghubungi Deniz.
"Tuan, semua sudah berjalan sesuai dengan perintah, Anda. Nona Meliza kecelakaan dan mobilnya menghantam pohon besar." Lapornya sambil terus berjalan.
"Bagus. Tapi dia baik-baik saja, kan?"
"Dia baik-baik saja, Tuan. Hanya saja ... dia pingsan setelah merasakan kesakitan di kakinya." Jawabnya membuat Deniz terdiam cukup lama.
"Ya sudah. Itu baik untuknya. Dona juga merasakan hal yang sama saat dia menyakitinya. Aku rasa ini balasan yang cukup untuknya." Tekan Deniz dan langsung mematikan telponnya. "Maaf, Meliza. Aku harus melakukannya agar kau bisa sadar. Tak akan kubiarkan kau senang setelah hampir berhasil membuat Dhana jatuh ke dasar jurang." Bathinnya sambil mengepalkan kedua tangan.
πππππππππ
__ADS_1
Vote and koment yaaa
TBC.