GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 24


__ADS_3

Meliza terburu-buru ingin menemui Deniz Daniswara, pelayan di rumah Deniz memberitahu dirinya bahwa saat ini Deniz ada di rumah yang satunya, Meliza tidak sabar dan langsung menuju rumahnya.


Dia tidak akan membiarkan Alice ada bersamanya, dia selalu menekankan bahwa Deniz hanyalah miliknya. Meliza segera mengajak sopirnya dan satu pelayan buat mendorong kursi rodanya.


Setelah sekian lama berkendara, sampailah Meliza di rumah orang yang sangat dicintainya, sopir pribadinya membantu menurunkannya.


Meliza tersenyum bahagia saat menatap rumah di depannya, dia akan segera jadi istri Deniz Daniswara, Dona sudah tiada, sedangkan Deniz mencintainya. Tidak ada lagi yang bisa menghalanginya. Termasuk gadis ular yang saat ini tinggal di rumah kekasihnya.


Penjaga membukakan pintu gerbang untuknya, Meliza sudah mengenalnya karna Deniz sering mengajaknya kesana saat Dona masih ada.


"Hai, Nona, apa kabar?" Tanya penjaga itu sopan.


"Seperti yang kau lihat, aku cacat!" Jawabnya kesal.


"Maaf, bukan maksud saya ... "


"Diamlah! Apa atasanmu ada di rumah?" Tanya Meliza tidak sabar.


"Ada, Nona. Silahkan masuk ke dalam." Jawabnya pelan.


Tanpa basa basi lebih lama, Meliza memasuki rumah kekasihnya. Dia akan memberitahu Deniz bahwa Alice adalah gadis ular.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Huft ... senangnya ... "


Alice menghembuskan nafas lega saat kakinya sudah bisa berjalan, tinggal luka-luka di tubuhnya harus segera di sembuhkan. Waktunya hanya tinggal lima hari lagi. Deniz terusΒ  melatihnya, meski kadang dia tidak tega melihat Alice meringis kesakitan, Dhana juga selalu mengusap keringat calon mamanya dan memberinya minum jika Alice kelelahan. Mereka berdua bekerja sama agar orang yang disayanginya cepat sembuh.


"Sudah cukup, Alice. Kau istirahat dulu." Pinta Deniz khawatir pada kesehatannya.


"Sebentar lagi, Pak Tua. Aku tidak apa-apa."


"Kau memanggilku dengan sebutan apa?!" Tekan Deniz, pura-pura kesal kepadanya.

__ADS_1


"Astaga, aku hanya bercanda, kak Deniz. Jangan marah, nanti beneran tua, Sayang." Godanya pelan.


Dhana menatap mereka berdua dan kesedihan mulai hilang dari hidupnya, Alice bisa membuatnya bahagia dan lupa akan rasa sedih karna kehilangan mama kandungnya.


"Pa, Ma, kapan kalian akan menikah?" Tanya Dhana, sambil menatap mata Alice dan Deniz.


"Yang pasti tidak sekarang, anakku sayang. Mama kesayanganmu, Dona, baru saja tiada. Jadi tunggu beberapa bulan lagi ya." Jawab Alice dan langsung mengecup keningnya.


"Calon mamamu benar, Dhana. Kita harus menundanya meski papa juga ingin cepat menikahinya." Timpal Deniz membuat Dhana muram.


"Ya sudah, yang jelas jangan menikah dengan Nona Meliza ya, Pa."


"Jangan khawatir, Nak. Papa tidak akan menikah dengannya, papa hanya akan bermain-main saja dengannya." Jawab Deniz membuat Alice tidak nyaman saat mendengarnya. Bagaimanapun juga, Meliza juga seorang manusia, kesalahan sudah pasti pernah di lakukannya, termasuk dirinya. Tidak ada manusia yang tak pernah melakukan dosa.


Saat Alice akan menanyakan apa maksudnya, bel di rumah Deniz berbunyi. Dengan cepat Deniz bangkit dan membuka pintunya, Alice berjalan dan melihatnya dari atas tangga, Dhana ikut di belakangnya. Mereka penasaran dengan orang yang datang ke rumahnya.


"Meliza!" Seru Deniz, setelah membuka pintu rumahnya.


"Iya, Sayang! Ini aku. Bagaimana kabarmu?" Tanya Meliza dan langsung memeluk pinggangnya, karna duduk di kursi roda, Meliza tidak bisa memeluk lehernya.


"Astaga! Maafkan aku, Sayang. Aku tidak tahu jika Dona sudah tiada, jangan sedih, Sayang. Kita akan segera menikah."


"Kau benar, Sayang. Oh ya! Bagaimana kabarmu? Aku cemas karna memikirkanmu, mengapa baru sampai? Dan apa yang telah terjadi pada kakimu? Hem?" Tanya Deniz dan langsung mengecup bibirnya. Hati Alice memanas melihat perlakuannya, tangannya terkepal sempurna, hembusan nafas kesal keluar dari bibirnya.


"Sayangku ... aku kecelakaan. Saat akan memberitahumu, telponmu selalu mati."


"Maaf, Meliza. Setelah kematian Dona. Aku tidak ingin bicara dengan siapa-siapa." Jelas Deniz membuat Alice kesal dan langsung memasuki kamarnya.


"Mama," panggil Dhana khawatir pada calon istri ayahnya. Alice mengunci pintunya. Dhana hanya bisa menatap benci pada wanita yang pernah menyiksa mama kandungnya.


"Dhana, bagaimana kabarmu, Sayang?" Tanya Meliza, tersenyum melihat kehadirannya.


"Aku baik-baik saja, Nona Meliza." Jawabnya pelan. Dia harus pura-pura baik di hadapannya.

__ADS_1


"Kemarilah, Sayang. Peluk mama. Mulai sekarang, Nona Meliza yang cantik ini adalah mamamu." Ucap Meliza membuat Dhana muak mendengarnya. Tapi meski bagaimanapun juga. Dia harus sopan.


"I-iya. M-mama." Lirih Dhana, malas mengucapkannya.


"Oh ya, Deniz. Ada hal yang ingin aku bicarakan. Ini sangat penting. Kau bisa kan?"


"Oh, tentu saja, mari kita bicara!" Seru Deniz sambil menarik kursi rodanya. Dia mengajak Meliza ke kamarnya, dia ingin tahu apa yang akan di bicarakannya.


Setelah mengunci pintu kamarnya, Deniz menatapnya. "Katakan Meliza, ada apa?"


"Apa Alice ada di sini, Deniz?" Tanya Meliza penuh penekanan.


"Iya, dia ada di sini, aku yang memintanya buat menemani Dhana, kau tahu sendiri, kan? Dhana sangat menyukainya. Aku tidak mau dia sedih karna baru saja kehilangan mamanya." Jelas Deniz sambil menatapnya.


"Kau harus menjauhkannya dari Dhana, Sayang. Akulah yang pantas jadi mamanya. Bukan dia!" Seru Meliza, penuh dengan kebencian di matanya. "Lagipula ... "


"Lagipula apa, Meliza? Katakanlah!" Pinta Deniz, penasaran.


"Dia gadis ular, Sayang. Alice sangat berbahaya, dia bisa menyakiti kita semua, sebelum itu terjadi, kita harus segera membunuhnya." Ucap Meliza membuat Deniz melotot tajam ke arah matanya.


"Jangan bercanda, Meliza!"


"Aku serius, Sayang. Pekerja kita yang ada di sana memberitahuku."


"Tenanglah, kalau memang benar dia gadis ular. Kita akan segera menghabisinya. Siapa tahu Dona meninggal gara-gara dirinya. Untuk saat ini. Kita harus pura-pura baik padanya, Sayang. Dhana memerlukannya."


"Baiklah! Sesuai keinginanmu, Sayang."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


TEKAN LOVE DAN JEMPOLNYA YAAAA


KOMEN JUGA BOLEH.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2