
Karya ini bakal terbit jadi buku yaaaa silahkan nabung bagi yang suka. Jangan heran, mungkin Ending di MANGGATOON beda sama Ending di buku. Versi buku lebih lengkap karna partnya lebih panjang dan tentunya ... hot ... π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£
Ampuni saya yang koplak dan mesum ini.π€π€π€π€π€
Happy reading ...
Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β πππππ
Alice membuka matanya, hari sudah pagi, sepasang tangan kekar memeluk tubuhnya, rupanya Deniz memeluknya semalaman, bibirnya terasa bengkak dan sedikit ngilu, dia tidak menyangka jika Deniz terus mencium bibirnya tanpa henti.Β Hangat nafas yang keluar dari hidungnya, membuat Alice salah tingkah dan melihat kearahnya. Ya, Deniz sedang menghirup aroma tubuhnya, Alice jadi geli dengan perlakuannya.
"Eh, apa yang sedang kau lakukan, Kak Deniz?!" Seru Alice, sambil memalingkan wajahnya.
"Menghirup aroma tubuhmu, Sayang. Aku heran, meskipun ular kau sangat wangi."
"Apa kau mengharap aroma amis?" Kata Alice, tertawa dengan perlakuannya.
"Tidak, Sayang. Tapi memang, baumu sangat harum." Bisik Deniz, tepat di lubang telinga kekasihnya.
"Bohong! Bangunlah!" Seru Alice tidak percaya.
"Aku serius, Sayang."
"Ya, ya. Aku percaya. Apa kau puas?"
"Belum puas sebelum kau mencoba gaun itu, Sayang." Deniz menunjuk sebuah gaun yang tergantung di pintu lemari.
"Gaun?! Tumben sekali kau memberikan aku gaun, Kak Deniz?"
"Besok adalah hari ulang tahunku, Sayang. Akan ada pesta jam tujuh malam. Aku ingin kau mengenakan pakaian itu. Dan satu lagi, kau harus pakai perhiasan ini. Ini perhiasan milik keluarga secara turun temurun." Jelas Deniz sambil membuka kotak yang berisikan perhiasan cantik dan indah.
__ADS_1
"Tapi, Kak. Kak Dona baru saja tiada. Apa pantas kita mengadakan pesta?"
"Bagi sebagian orang memang tidak pantas, Sayang. Tapi bagi seorang ayah yang ingin melihat putranya bahagia. Semua bisa menjadi pantas."
"Jadi, pesta ini buat Dhana?" Tebak Alice, menatap lekat mata jernihnya.
"Iya, tapi ada hal lain juga dan kau akan mengetahuinya. Tunggu saja," jawab Deniz, balas menatap lekat mata kekasihnya.
"Bagaimana dengan keluargamu?" Tanya Alice, heran karna sejak dia datang ke rumah Deniz, tidak ada kabar mengenai orangtuanya.
"Ibuku sudah lama tiada, Alice. Beliau sakit. Sementara ayah! Dia menikah lagi dan persetan dengannya!! Aku tidak peduli. Dia mengkhianati ibuku dengan bercinta dengan wanita lain. Gara-gara dia ibuku tiada." Geram Deniz, mengetatkan kedua rahangnya tanda dia marah.
"Ssstttt ... sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Tapi apa boleh aku tanya satu hal, kak?" Tanya Alice, agak ragu dengan apa yang akan dia katakan.
"Tanyakan saja, aku siap menjawabnya."
"Kau tahu betapa sakitnya ibumu saat ayahmu mengkhianatinya. Tapi kenapa kau selingkuh dengan Meliza saat kak Dona masih ada? Maaf, bukannya mengungkit masa lalu. Hanya saja ... aku heran dengan sikapmu." Ucap Alice sambil meremas kesepuluh jarinya salah tingkah, dia takut membuat Deniz marah.
"Mmmmpphhh ... satu hal lagi, kak. Ini sangat penting. Apa aku boleh bertanya lagi?" Alice berusaha lepas dari ciuman bibirnya.
"Kau terlalu banyak bertanya, ular kecilku. Baiklah, pria tua ini akan menjawabnya. Katakanlah."
"Selama bersama dengan Meliza, apa kalian pernah ... " Alice ragu-ragu dengan ucapannya.
"Pernah apa? Katakan, ular kecil."
"Pernah ... berhubungan intim?" Lanjut Alice sambil berusaha menangkan degub jantungnya. Dia berusaha siap dengan jawaban yang akan di berikan oleh calon suaminya.
"Menurutmu?" Goda Deniz membuat Alice marah.
__ADS_1
"Entahlah! Kalau tidak mau menjawab juga tidak apa-apa. Aku mau mandi. Sebaiknya kau juga! Keluarlah!! Meliza sedang menunggumu di kamarnya. Siapa tahu dia minta dimandikan. Kau cek saja kekamarnya!" Seru Alice dan langsung bangkit dari ranjangnya. Dia kesal dengan ucapan kekasihnya.
Deniz tersenyum melihat kemarahan gadis mungilnya, sebelum Alice pergi ke kamar mandi, dia menariknya hingga membuat Alice terkejut dan jatuh menimpa badan kekarnya.
"Ah! Kak Deniz, apa yang kau lakukan?" Gugup Alice karna badannya melekat pada badan calon suaminya. Deniz mengeratkan pelukannya dan kakinya mengunci kaki gadis yang berada di atas tubuhnya, Deniz menekan wajah Alice ke bawah hingga bibirnya kembali bersatu dengan bibir kekasihnya.
"Aku bersumpah, Sayang. Aku tidak pernah berhubungan intim dengan Meliza. Hanya Dona saja, itupun karna sebuah kesalahan, aku marah dengan Moza. Wanita itu meninggalkanku tepat di hari pernikahanku. Dona menggantikan posisinya, aku mabuk berat dan akhirnya bercinta dengannya. Setelah itu tidak ada lagi, Alice. Aku benar-benar mencintaimu. Apa aku perlu membuktikannya kepadamu? Hem?" Jelas Deniz di sela-sela ciumannya.
"Ti-tidak perlu. Hanya saja ... aku iri dengan Moza. Gadis itu pasti beruntung banget karna mendapatkan cintamu."
"Sudahlah! Jangan bicarakan dia, apa kau suka pada gaunnya? Hem? Sayangku ... " Deniz menolehkan wajah Alice pada gaun yang tergantung di pintu lemari.
"Aku suka sih, hanya saja ... pakaiannya sangat tertutup. Aku ingin gaun yang bagian dadanya terbuka dan bagian paha mulusku kelihatan. Sayang sekali, gaun itu kuno sekali." Canda Alice membuat Deniz gemas dan kembali menciumi bibirnya, wajahnya, lehernya, dan bagian intim lainnya.
"Kalau kau ingin gaun seperti itu. Lebih baik kau telanjang di hadapanku! Mengerti? Hanya aku yang boleh menikmati tubuh indahmu. Ingat! Aku memegang rahasiamu," ancam Deniz membuat Alice tertawa.
"Kau ingin membongkar identitasku? Heh? Kau mengancamku."
"Mau bagaimana lagi? Pria tampan ini tidak akan membiarkan pria manapun melihat tubuh yang hanya akan jadi miliknya. Dan kau, kau milikku sayang. Tak akan kubiarkan milikku di lihat oleh mata jahat di luaran sana." Jawab Deniz, memberi bekas ciuman di mana-mana.
"Astaga! Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Baiklah! Aku menyukai gaunnya, biarpun tertutup, aku akan tetap memakainya. Pria tampan di bawahku ini mengancamku." Cumbu Alice membuat Deniz bangun dan langsung membawanya ke kamar mandi.
"Itu tadi hanya bercanda, Sayang. Jangan dimasukkan ke hati. Sekarang diamlah! Kita akan mandi."
"Apa?! Kak! Aku tidak mau!" Seru Alice, malu.
"Kau harus mau, aku calon suamimu."
"Astaga! Dhanaaaaa." Alice meminta bantuan pada putranya tapi percuma, Dhana memejamkan matanya, bahkan lebih lelap.
__ADS_1
ππππππππππ
TBC.