GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 23


__ADS_3

Alice berusaha menurunkan kakinya, dia ingin berjalan dan melatih kakinya yang luka agar terbiasa, dia tidak mau sakit terlalu lama, dia harus berusaha, waktunya hanya satu minggu agar orangtuanya tidak mengetahui tentang sakitnya. Kalau dalam waktu itu dia tidak sembuh, Deniz bisa berada dalam bahaya, ayahnya, Pramuja, pasti akan mengahajarnya.


Selain ingin berlatih jalan, Alice kebelet dan ingin pergi ke kamar kecil, Alice tidak mau mengganggu tidur Deniz. Hari sudah malam, pria itu pasti sangat kelelahan.


Setelah agak lama berusaha, Alice akhirnya bisa berdiri di atas kakinya sendiri, tapi rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba melanda dirinya, dengan susah payah dia menahan rintihan yang akan keluar dari mulutnya.


"Huft ... astaga ... sakit sekali ya Tuhan ... " gumamnya pelan. Keringat dingin membasahi dahinya, dia menggigit pelan bibirnya. Karna semakin lama semakin sakit, Alice berusaha mencari pegangan, karna tidak ada, hampir saja dia terjatuh. Untunglah sepasang tangan kekar segera menangkapnya.


"Alice?! Kau mau kemana?! Kenapa kau tidak membangunkanku?!" Seru Deniz, khawatir padanya. Pria itu langsung menggendong tubuhnya.


"A-aku mau ke kamar kecil, Kak, aku berusaha melatih kakiku tapi tidak bisa, rasanya sakit sekali, huft ... " rintihnya sambil memejamkan mata.


"Apapun alasannya kau tidak boleh bertindak semaunya, Alice. Kalau kau mau apa-apa, panggil dulu diriku! Aku akan membantumu." Ucap Deniz gelisah melihat wajahnya.


"Aku tidak mau dimanja, Kak. Aku harus cepat sembuh."


"Jangan membantah! Lukamu masih baru, harus banyak istirahat dulu. Melatih kaki ada saatnya. Tapi tidak sekarang. Kau dengar?!"


"I-iya, Kak. Ambilkan kursi roda saja. Aku akan pergi ke kamar kecil." Ucapnya membuat Deniz diam dan langsung mengantarkannya. "Eh, Kak Deniz! Aku bisa sendiri." Protes Alice membuat Deniz terus terdiam dan mulai membuka pakaian bawah yang di kenakannya. Alice malu melihat Deniz membuka pakaian dalamnya. "Kakak!" Serunya dengan wajah memerah karna malu.


"Aku calon suamimu, Alice. Tidak ada kursi roda, kalau kau mau apa-apa, panggil diriku. Dan sekarang, cepat selesaikan apa keinginanmu." Perintah Deniz membuat Alice salah tingkah. Masak iya dia buang air kecil di hadapannya? Di hadapan seorang Deniz Daniswara, orang yang dulu sangat di bencinya sekarang sangat di cintainya.


"Em ... aku ... "


"Tidak perlu malu. Aku harus tetap berada di sini buat menjagamu. Aku tidak mau kau jatuh gara-gara diriku." Sahut Deniz membuat Alice terdiam.


"Ba-baiklah ... " gumamnya pasrah.


Alice menundukkan kepalanya saat Deniz terus menatap dirinya, sungguh! Jika ada laut, Alice ingin tenggelam di dalamnya. Betapa pria itu sangat menjaganya, setelah Alice selesai membuang air kecilnya, Deniz membilas miliknya.

__ADS_1


"Kak!" Seru Alice, salah tingkah.


Ayah dan Ibunya saja tidak pernah membilas area pribadinya setelah buang air kecil, sementara pria ini? Dia membersihkan milik Alice tanpa rasa jijik.


"Diam saja, Sayangku, biarkan aku membersihkan milik calon istriku."


Astaga! Alice benar-benar malu dengan perlakuannya, darahnya berdesir saat jemari kekar itu mengusap miliknya, setelah di rasa bersih, Deniz mengeringkannya, Alice hanya bisa pura-pura bodoh dengan perhatiannya.


Hatinya berdebar-debar tidak karuan, tubuhnya melemas, seakan semua tenaga hilang dari dirinya. Rasa sakit yang tadi sempat dirasakannya tiba-tiba menghilang entah kemana? Rasa malu lebih besar dan mengalahkan rasa sakitnya. Seumur hidupnya baru kali ini dia diperlakukan seperti bayi.


"Apakah sudah selesai, Alice? Kau tidak ingin apa-apa lagi?" Tanya Deniz membuat Alice salah tingkah dan langsung memalingkan wajahnya.


"S-sudah, Kak." Jawabnya hampir tidak terdengar. Deniz kembali mengangkat badannya dan membaringkannya di ranjang.


"Katakan, bagian mana saja yang sakit?" Tanyanya perhatian.


"Ti-tidak ada, Kak. Su-sudah sembuh," gugupnya membuat Deniz gemas dan ingin sekali mencumbu dirinya, tapi sayang, semua itu harus dia tahan.


"Hem ... baiklah, aku akan tidur disampingmu, dengan begitu siapa tahu lukamu akan sembuh dengan usapan cintaku." Goda Deniz sambil mengusap luka-luka Alice dengan bibirnya.


Bagian tangan, cup. Bagian kaki, cup. Bagian paha, cup. Bagian ...


"Kak, Cukup! Bagian itu tidak perlu di cium!" Protesnya gemetar.


"Diam! Kau dengar, kan? Aku akan mengobati sakitmu dengan usapan bibirku. Dan ... sedikit hisapan boleh dong? Uh ... kulitmu sungguh indah, Sayang ... " desah Deniz dan langsung mencium selangkangannya, tepatnya pas di pinggir area sensitifnya.


"Cup, mmpphhh ... cepatlah sembuh, Sayang ... " cium Deniz membuat Alice terdiam, tubuhnya serasa beku, perasaan aneh merambat di seluruh tubuhnya.


"Uuh ... i-iya, Kak. Sudah cukup. Sekarang tidurlah." Pinta Alice, sambil meremas ujung baju tidurnya.

__ADS_1


"Tidak! Ini belum cukup, Sayang. Aku ingin mencium milikmu, boleh, kan?" Goda Deniz dan tangannya mulai menyingkap CD yang di kenakannya ke samping.


"Tidak! Tidak boleh. Aku akan mematukmu, Kak." Ancam Alice, gelisah hatinya.


"Astaga! Sayang sekali aku tidak takut, Nona manja ... " desah Deniz dan langsung melumat miliknya.


"Kakaaak ...! Oh ... " desah Alice, sambil meremas rambut kekasihnya.


"Mmmppphhhh ...., clap. Milikmu sangat enak, Sayang." Puji Deniz membuat Alice menggerakkan badannya, salah tingkah. Ini pertama kali miliknya di cumbu oleh seorang pria. Rasanya sangat nikmat, seakan ribuan bintang memancarkan sinar di sekelilingnya. "Aku mencintaimu, Alice. Berjanjilah, setelah sembuh jadilah istri kesayanganku. Aku janji tidak akan ada wanita lain lagi, Sayang. Sudah cukup kau saja. Gadis ularku yang manja." Ucap Deniz dan langsung mengakhiri ciuman di area pribadi Alice dengan hisapan yang kuat. Bahkan saking kuatnya cairan cinta Alice ikut terhisap olehnya, Deniz menyukainya. Sementara Alice lemah lunglai memejamkan matanya.


Pria di hadapannya benar-benar mampu membuatnya kalah. Dia pasrah dan hanya diam saja saat Deniz mulai bangun dan melumat mulutnya, lidahnya bersatu dengan lidah orang yang sangat di cintainya.


Bunyi decapan lidah mereka memenuhi ruangan kamar yang sunyi. Meski Alice mau menyerahkan kehormatannya, Deniz tidak mau menerimanya, dia sangat menghormati calon istrinya. Dia hanya akan bersatu dengan Alice setelah menikah.


"Sayang ... apa kau lelah? Apa perlakuanku barusan terlalu berlebihan?" Tanya Deniz, takut membuat Alice membencinya.


"Kau keterlaluan, kak Deniz. Aku tidak menyangka!" Serunya kecewa.


"Maafkan aku, Sayang. Tidak akan lagi."


"Maksudku masih kurang! Kenapa berhenti?! Ayo cium lagi!" Seru Alice membuat Deniz tertawa. Rupanya wanita cantik itu menggodanya.


"Alice ... kau ..."


"Sangat cantik, kan?"


"Iya, Sayang. Kau sangat cantik. I love you," bisik Deniz dan langsung meraih badan Alice dalam dekapannya. Pria itu kembali menciumnya, sampai puas.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


TBC.


__ADS_2