GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB 32


__ADS_3

Zahra menjatuhkan gelas di tangannya, pikirannya tidak enak, dia merasakan firasat yang buruk akan menimpa putri kesayangannya, Alice. Sudah beberapa hari ini Alice tidak menghubunginya, kadang Zahra menyesal karna telah mengizinkan Alice jauh darinya. Pramuja sering menghiburnya, tapi tetap saja, hati seorang ibu jadi lemah jika jauh dari anaknya.


Karna penasaran, Siska menghampirinya dan menanyakan tentang keadaannya. "Zahra! Ada apa?! Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya khawatir.


"Aku tidak baik-baik saja, Siska. Aku merasa sesuatu yang buruk sedang menimpa putriku! Cepat ambilkan ponselku dan hubungi dia!" Perintah Zahra membuat Siska pergi dan mengambil ponsel sahabat sekaligus majikannya.


"Zahra! Ada apa, Sayang?" Tanya Pramuja, heran. Dia baru saja datang dari perkebunan karna memeriksa pekerjaannya sekaligus mengawasi proses syuting film milik Deniz Daniswara.


"Putri kita, kak Pram! Aku merasa sesuatu yang buruk sedang menimpanya, kita harus menolongnya," jawab Zahra, gelisah.


"Ssstttt ... tenanglah, Sayangku. Alice akan baik-baik saja. Deniz ada bersamanya, pria itu sangat mencintainya, jika ada apa-apa, dia pasti akan mengabari kita," hibur Pramuja, menenangkan istrinya.


"Tidak, kak Pram! Kali ini hatiku bergetar, aku yakin Alice sedang berada dalam masalah."


"Tenanglah, Sayang. Biarkan putri kita belajar menjaga dirinya, kalau ada apa-apa, aku bersumpah akan menghabisi siapapun yang menyulitkannya. Sekarang tidurlah," ucap Pramuja dan mengangkat tubuh wanita yang sangat di cintainya.


"Zahra, ini ponselnya," ucap Siska sambil menatapnya.


"Tidak perlu, Siska. Kembalikan ponsel itu ke tempat semula," perintah Pramuja dan langsung di turuti oleh Siska. Pramuja tidak mau Zahra gelisah gara-gara memikirkan putrinya. Biarkan dia sendiri yang akan memastikannya, apalagi Pramuja tahu, ini saatnya Alice mengalami proses ganti kulit, dan di malam bulan purnama, kekuatannya akan melemah, mungkin itulah sebabnya Alice sengaja tidak menghubungi ibunya, Alice tidak mau Zahra mendengar rintihannya saat kesakitan, Pramuja mengerti hidup putrinya, dia pasti akan sering merasakan kesakitan karna ular muda biasanya mengalami proses ganti kulit dua atau tiga kali dalam setahun. Beda dengan Pramuja yang sudah jarang mengalaminya, meskipun kesakitan, dia bisa menahannya, dia memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, tidak seperti putrinya.


Andai nenek moyangnya tidak membuat perjanjian dengan siluman ular, pasti dia dan putrinya tidak perlu mengalami siksaan seperti ini.


Dulu nenek moyang Pramuja melakukan pesugihan, semua anak keturunannya akan meninggal di usia muda, Raja ular menjadikannya tumbal, cara satu-satunya buat memutuskan kutukan itu adalah, dengan memasuki alam ghaib dan membunuh raja ular disana serta meminum darahnya, Pramuja telah berhasil melakukannya, kakek Zahra yang membantunya, tapi sayang, setelah Raja Ular tiada, kutukannya memang hilang, tapi sebagai karmanya, Pramuja jadi Jelmaan ular jantan untuk selama-lamanya dan kembali ke alam manusia.

__ADS_1


Demikian pula dengan putrinya, dia menerima karma dari dosa nenek moyangnya, tapi setidaknya, mereka akan memiliki umur yang panjang dan tidak pendek seperti keluarganya terdahulu, meninggal di usia muda.


Apapun keadaannya, melakukan pesugihan diharamkan bagi manusia, jangan tertipu dengan kenikmatan sementara, akan ada hukuman pada waktunya, selain dosa, nyawa anak cucu kita menjadi taruhannya, ada murka Tuhan bersama mereka yang suka melakukan dosa. Ingatlah! Meminta bantuan pada Syaitan, sama dengan menyembahnya, Tuhan tidak akan mengampuni kita bahkan setelah bangkit dari alam kubur.


Setelah Zahra berada di dalam kamar, Siska menghampiri Pramuja dan menyerahkan ponsel padanya. "Cepat hubungi Deniz, Pram. Aku tidak akan menerima jika pria itu tidak bisa menjaganya, kalau Alice kenapa-kenapa! Jangankan dia! Aku akan membunuhmu juga! Alice juga putriku! Firasat seorang ibu biasanya selalu benar. Cepat hubungi Deniz dan tanyakan keadaan Alice! Cepat!" Paksa Siska dan Pramuja langsung mengambil ponselnya. Pramuja menghubungi nomor telepon Deniz tapi pria itu tidak mengangkatnya.


Karna tidak ada jalan lain, Pramuja menghubungi nomor ponsel Alice dan ada yang mengangkatnya. "Hallo, Nak. Apa kau baik-baik saja?!" Tanya Pramuja, setelah telponnya diangkat oleh seseorang.


"Hallo, Kakek, ini Dhana! Mama berada dalam bahaya, Kakek? Meliza ingin menunjukkan wujud asli mama dihadapan semua orang, sekarang Mama sedang gelisah, Kakek!" Seru Dhana, ketakutan. Dia menjelaskan semua masalahnya pada Pramuja.


Pramuja tercekat mendengarnya, demikian pula dengan Siska. "Dhana, dengarkan aku anak pintar, pergi ke bagian saklar lampu dan matikan semuanya, dengan begitu semua tamu tidak akan bisa melihat perubahan wujud asli Alice karna gelap. Setelah ituΒ  serahkan semua pada papamu, lakukan sesuai perintahku, Nak!" Seru Pramuja dan Dhana langsung menutup telponnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Pemain seruling terus memainkan serulingnya hingga membuat Deniz murka dan berusaha lepas dari cekalan Meliza, dia berusaha sopan karna di hadapan para tamu.


Berhubung tindakan Meliza sudah keterlaluan, Deniz menendang kuat kursi rodanya hingga Meliza jatuh kebelakang. "Sudah aku katakan Meliza, jangan buat sedih calon istriku, aku tahu kau frustasi karna aku sudah menolak cintamu! Tapi bukan berarti kau bisa menghina tunanganku! Apalagi mengatainya gadis ular!! Keterlaluan!!" Sinis Deniz, sambil menatap tajam mata Meliza.


"Tapi, Deniz! Gadis itu benar-benar..."


"DIAM!! Hentikan semua ucapan tidak masuk akalmu itu!! Aku menyesal telah menampungmu di rumahku, sekarang!! Pergi kau dari hadapanku!" Seru Deniz memotong ucapan Meliza. Karna tidak tahu harus berkata apa, Meliza tiba-tiba tertawa sambil terus mengacak-acak rambutnya. Semua tamu jadi heran melihat perubahannya.


"Hahahahahaha ... ketipu!! Kalian semua ketipu!! Hahahahahahaha! Alice adalah siluman ular!! Kalian harus percaya!! Dan aku ... aku adalah tuan putri!! Aku calon istrinya Deniz! Kalian dengar?! Akulah Nyonya Meliza Deniz Daniswara!! Dan bukan Alice! Hiks ... kalian semua jahat! Tidak ada yang mau percaya padaku! Tapi tidak apa-apa! Setidaknya aku bisa membunuh Dona dan akan mencelakai Dhana! Apa kalian tahu?! Aku pernah membayar orang buat melempar anak itu jatuh ke dasar jurang!! Tapi Alice! Gadis itu merusak rencanaku! Dia menyelamatkan anak yang akan membebani hidupku, hiks, Dhana harus tiada! Alice juga! Aku akan menghabisi mereka! Dan kemudian, menikah dengan Deniz!! Ye!! Hahahahahahaha! Aku hebat kan?!" Seru Meliza, tidak sadar dengan apa yang sudah di ucapkannya. Deniz tersenyum lega melihat dirinya, obat yang dia berikan pada Meliza sudah mulai bekerja, dengan begini semua tamu akan menganggapnya gila dan tidak ada yang mau percaya dengan ucapannya. Terutama soal identitas asli Alice.

__ADS_1


Pemain seruling menghentikan tiupannya, dia menatap Deniz ketakutan. "Maaf, Tuan. Saya dibayar, tidak ada maksud buat menghina atau mengatai tunangan, Anda, gadis ular."


"Pergilah! Kau tidak bersalah! Dan ya! Ini bayaran untukmu!" Ucap Deniz dan pemain seruling itu langsung meninggalkan lokasi.


"Maaf, Tuan. Kami akan pulang, Meliza telah membuat pesta Anda berantakan. Kami juga tidak menyangka jika dia tega menghabisi nyawa, Nyonya Dona. Anda harus menghukumnya," ucap salah satu tamu simpati kepadanya.


"Tentu saja, terima kasih buat sarannya," jawab Deniz, tersenyum ramah kearahnya.


"Kurang ajar! Ternyata gadis bernama Meliza itu gila! Pantas saja omongannya ngelantur!" Seru tamu lainnya benci melihatnya.


"Selain gila di juga licik, kejam, tidak berperasaan, ingin rasanya aku mencekik lehernya."


"Jangan! Biar Tuan Deniz yang mengatasinya. Kita berdoa saja, semoga setelah kejadian ini semua keluarganya baik-baik saja," timpal tamu lainnya dan mulai meninggalkan pesta Deniz satu persatu.


Para penjaga membawa Meliza keluar dan memulangkannya kerumah keluarganya, setelah dia sembuh nanti, polisi akan memenjarakan dirinya, karna kasus kecelakaan Dona kembali di buka dan dua orang suruhan Meliza buat mencelakai Dhana sudah tertangkap. Para tamu tahu bahwa dalang dibalik semua peristiwa itu adalah Meliza.


Deniz mendekap badan Alice dan menghujani wajahnya dengan ciuman. "Semua sudah baik-baik saja, Sayang. Aku akan membawamu ke kamar," ucap Deniz membuat Alice tidak tahan dan langsung berubah wujud jadi manusia setengah ular. Dari pinggang ke atas berwujud manusia sementara dari pinggang ke bawah berbentuk ekor ular yang panjang.


Deniz terkejut bukan main dibuatnya, semua tamu disana masih ada yang belum pulang sepenuhnya, mereka sibuk berbicara dengan tamu lainnya, terlebih para pelayan, mereka masih berlalu lalang di rumahnya, Deniz cemas dengan perubahan kekasihnya, tapi disaat yang bersamaan, lampu dirumahnya padam. Deniz menghela nafas lega dan langsung membawa Alice ke kamar.


"Terima kasih, ya Tuhan, kau melindungi nyawa calon istriku, aku berjanji akan selalu taat kepadamu," lirih Deniz dan tanpa sengaja menitikkan airmata. Dia merasa lega karna identitas kekasihnya masih aman.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


TBC.


__ADS_2