GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 29


__ADS_3

Alice merasa gelisah, gaun yang di berikan oleh Deniz sangat pas dan cantik di tubuhnya, demikian juga dengan perhiasannya, dia bak seorang putri yang siap menghadiri pesta pangerannya. Tapi sayang, ini adalah malam bulan purnama, di malam itu kekuatan fisiknya akan melemah, dia gampang sekali berubah jadi ular dan tidak bisa kembali menjadi manusia jika belum waktunya. Alice merasa bimbang, haruskah dia menghadiri pesta ulang tahun kekasihnya dengan resiko akan ketahuan oleh orang jika berubah jadi ular, atau tidak.


Sementara Deniz, dia memasuki kamar Meliza dan meminumkan obat yang bisa membuat gila kepadanya, meskipun perbuatannya tidak benar, Deniz terpaksa melakukannya, Meliza tahu wujud asli Alice. Deniz berjaga-jaga jika suatu saat Meliza membongkar identitas asli Alice, orang tidak akan percaya.


"Sayang, kau perhatian sekali, tadi pagi aku disuntik dan sekarang minum obat lagi, kau takut aku tidak sembuh, ya? Percayalah, Deniz. Meliza-mu ini tidak apa-apa," ucap Meliza sambil menatap lembut ke arah pria yang dicintainya.


"Aku mencintaimu, Meliza. Tentu saja aku memperhatikanmu. Dan ya, kau sangat cantik malam ini. Kita tinggal menunggu Alice dan berangkat bersama ke pesta ulang tahunku yang akan dirayakan di rumah utama. Alice sudah sembuh dan kau baik-baik saja, sudah waktunya kita kembali ke sana," jelas Deniz membuat Meliza marah dan memalingkan wajahnya.


"Apa Alice akan tinggal bersama kita?! Wanita itu sudah mirip benalu saja! Tidak berguna dan hanya bisa menempel saja!!" Meliza menghina Alice membuat Deniz murka tapi pura-pura tersenyum di hadapannya.


"Kau tenanglah, Sayang. Setelah ini Alice tidak akan mengganggu kita. Dia akan pergi ke rumah orangtuanya, Aku dan Dhana akan mengantarkannya," Hibur Deniz, membuat Meliza gemas dan memeluk erat pinggang pria-nya.


"Terima kasih, Deniz, aku mencintaimu, aaahh ... " rintih Meliza tiba-tiba memegangi kepalanya.


"Meliza?! Kau kenapa?! Apa kau terluka?!" Seru Deniz, pura-pura perhatian kepadanya, padahal dalam hatinya Deniz merasa lega, obat yang dia berikan pada Meliza mulai bekerja.


"Aku tidak apa-apa, Deniz, hanya saja ... tiba-tiba kepalaku terasa sakit dan pusing," jawab Meliza, heran dengan penyakitnya.


"Mungkin kau kurang istirahat, apa kita batalkan saja acara buat pergi ke pesta?!" Tawar Deniz dan Meliza langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Ini pesta ulang tahunmu, ini acara penting bagimu, aku harus datang. Lagipula, banyak rekan kerjamu di sana, kau harus tunjukkan pada mereka bahwa kau punyaΒ  kekasih bernama Meliza."

__ADS_1


"Ya, aku akan tunjukkan pada mereka bahwa kekasihku adalah Meliza, apa kau puas?" Tekan Deniz sambil menatap tajam mata Meliza.


"Sangat puas, terima kasih, Deniz."


"Sama-sama, Meliza. Tunggulah di mobil, aku akan memanggil Alice dan Dhana," ucap Deniz dan langsung meninggalkannya.


Deniz memasuki kamar Alice, sejenak dia terpesona pada kecantikan kekasihnya, gaun panjang berwarna biru muda, perhiasan cantik dari keluarganya, dan rambut hitam yang terurai panjang membuatnya mirip seperti bidadari dari surga.


Sungguh! Semua itu membuat Deniz terpana, dia sudah tidak sabar ingin memperistri dirinya, gadis ularnya, kekasihnya, tapi sayang. Alice selalu menolak dengan alasan Dona baru saja tiada.


Deniz mendekatinya, bau harum yang keluar dari tubuh kekasihnya, membuatnya tidak sabar dan langsung memeluknya. "Hem ... kau sangat cantik, calon istriku. Aku sangat mencintaimu," ucap Deniz membuat Alice bergetar dan memejamkan matanya.


"Aku juga mencintaimu, pria tampan. Selamat ulang tahun."


"Iya, sama-sama, calon suamiku, astaga! Aku malu memanggilmu dengan sebutan itu," lirih Alice, menundukkan wajahnya.


Deniz tersenyum geli melihat tingkahnya. Karna gemas, Deniz langsung melumat habis bibirnya, lidahnya masuk dan memainkan lidah Alice, lengguhan nikmat keluar dari bibir kekasihnya, Deniz tidak membiarkannya, ciumannya semakin dalam dan penuh dengan tuntutan.


"Ah ... kenapa haru malu, Sayang? Aku memang akan jadi suamimu. Aku milikmu dan kau adalah milikku, mmmpphhh, aku sangat mencintaimu, gadis ularku."


"Mmmpppphhh, sayang. Kalau kau menciumku seperti ini terus, kau akan terlambat datang ke pesta. Ayo berangkat, Sayang," gumam Alice, setelah lepas dari ciuman bibir Deniz.

__ADS_1


"Apa kau siap, Sayang. Aku akan melamarmu di sana," ucap Deniz membuat Alice melebarkan kedua matanya tidak percaya.


"Melamarku?! Di pesta ulang tahunmu?! Haruskan aku pergi kesana?! Sekarang?!" Seru Alice sambil menatap bulan purnama di balik jendela kamarnya. Tangan satunya sesekali meremas gaun yang dipakainya.


"Iya, Alice. Tentu saja, apa ada masalah? Kenapa kau terlihat gelisah, Sayang?" Tanya Deniz, sambil menatap lembut mata gadisnya. Denis heran dengan perubahan sikapnya.


"Tentu saja ada masalah, Sayang. Ini adalah malam bulan purnama, aku takut berubah jadi ular di sana. Malam seperti ini sangat berbahaya bagi gadis ular seperti diriku. Aku bisa berubah kapan saja. Apa aku bisa menahannya?! Apa yang harus aku lakukan, Deniz?! Kalau aku memberitahumu, kau pasti akan membubarkan pestamu. Aku tidak mau gara-gara diriku, kau dan Dhana tidak bahagia," bathin Alice, penuh dengan kecemasan di hatinya. Wajahnya memucat.


"Sayang, kau kenapa? Apa kau keberatan karna aku akan melamarmu?" Tanya Deniz, khawatir melihat wajah pucat kekasihnya.


"Oh, ti-tidak! Aku sangat bahagia, Sayang. Aku hanya terlalu terkejut. Baiklah, mari kita berangkat ke pesta dan bahagia di sana. Oh ya! Apakah Dhana sudah siap?" Gugup Alice, salah tingkah.


"Dia sudah siap, Alice Sayang. Mari kita berangkat."


"Ayo," turut Alice dan keluar dari kamarnya, Dhana menghampirinya dan menggandeng lembut tangan Alice dan ayahnya.


"Ya Tuhan, lindungi hambamu ini. Jangan biarkan aku berubah jadi ular di hadapan orang. Aamiin," doa Alice, dalam hatinya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


**TEKAN LOVE AND KOMEN YAAAA

__ADS_1


THANK,S**


TBC.


__ADS_2