GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 13


__ADS_3

Alice mencari keberadaan Dhana, tapi anak kecil itu menghilang entah kemana. Deniz ingin ikut bersamanya dan mencari keberadaan Putranya, tapi dengan kasar Alice langsung menolaknya.


"Pergilah, Tuan Deniz Daniwara!! biar Aku sendiri yang mencari Dhana." Tolak Alice, menghadang langkahnya.


"Akan lebih baik kalau Kita cari sama-sama, Nona Manja." Bantah Deniz, tidak memperdulikan omelannya.


"Kau bercinta saja dengan Nona Meliza, Tuan Deniz! Soal Dhana biar Aku sendiri yang mencarinya! Apa Kau dengar?!" Ulang Alice, geram melihat sikapnya.


"Meliza sedang mengawasi para pekerja, Nona Manja. Ini saatnya Aku bermain dengan Dhana."


"Heh, lucu sekali. Belum jadi istri tapi sudah menguasai. Nona Meliza memang hebat, Tuan. Selain bisa merebutmu dari Kak Dona, dia juga memisahkanmu dari Dhana."


"Diam, Alice! Kau belum tahu tentang Meliza. Jadi diam saja!" Serunya mulai kesal dengan ucapan Alice.


"Baiklah! Maaf. Tapi Papa dan Suami yang baik tidak akan mengabaikan keluarganya. Anda sangat kaya Tuan Deniz Daniswara! Apapun bisa Anda dapatkan! Tapi harta yang paling berharga adalah keluarga. Sayang sekali, Anda tidak memilikinya. Keluarga Anda telah terpecah belah. Dan itupun karna Nona Meliza." Cela Alice dan langsung berlari meninggalkannya.


Deniz mengejar di belakangnya, dia mulai gelisah memikirkan ucapannya. "Alice, tunggu!" Teriaknya sambil berusaha mendekati Alice.


"Dhana ..., dimana, Kau?" Bathin Alice, khawatir.


Alice terus mencari Dhana kesisi yang jauh dari lokasi syuting. Tempatnya gelap dan hampir mendekati jurang, samar-samar Dia mendengar suara seorang anak kecil sedang berteriak.


"Tolong ...! Papa ...! Tolong!" Teriaknya seperti kesakitan.


"Heh!! Diam!! Semakin Kau melawan, semakin cepat pula nyawamu melayang!" Bentak seorang Pria sedang mencengkeram bahu anak kecil dihadapannya.


Dengan dugaan yang kuat, Alice langsung mendekatinya. Deniz menyusul dibelakangnya. Rupanya Dhana yang sedang disiksa oleh mereka. Alice membulatkan kedua mata tidak percaya, sementara Deniz murka melihat anaknya dianiaya.


"Berhenti!! Apa yang sedang kalian lakukan?! Lepaskan anak itu!" Teriak Alice, gemetar tangannya. Amarah menyelimuti dirinya.


Dua orang itu panik saat melihat Alice dan Deniz datang. Mereka memucat di tengah kegelapan malam. Salah satu diantaranya ketakutan.


"Astaga! Ada yang datang! Cepat lempar anak ini ke jurang!" Seru salah satu pria itu gemetar.


"Berani melempar Dhana ke jurang!! Maka berakhir pula kehidupan kalian!! Bajingan!! Kalau mau tetap hidup! Lepaskan anakku!" Sinis Deniz, menggeretakkan giginya.


Dua pria besar itu semakin ketakutan. Karna panik, mereka lari dan tanpa sengaja mendorong tubuh Dhana hingga terlempar ke jurang.


"Papa!!"


"Dhana!!" Teriak Alice dan Deniz secara bersamaan.


Deniz bergetar seluruh jiwanya, dia serasa mati melihat anaknya celaka di depan matanya, tangannya terkepal dengan sempurna sementara rahangnya mengetat karna amarah. Dia berlari sekuat tenaga buat menolong Dhana tapi percuma, anak itu sudah hampir sampai dibawah dan menghantam bebatuan tajam.


Tanpa berpikir panjang, Alice merubah dirinya jadi ular raksasa dan menolong Dhana. Ekornya dia lilitkan di pohon sementara kepala berbentuk manusianya turun ke dasar jurang dan menggapai Dhana.

__ADS_1


Sett!


"Sayang! Kau tidak apa-apa?!" Seru Alice, setelah Dhana tertangkap oleh tangannya.


"Dhana takut, Kak. Dhana hampir tiada. Hikss, Mama!" Serunya sambil memeluk tubuh Alice. Tangannya gemetar, dengan lembut Alice mengusap kepalanya.


"Hei ..., Kak Alice datang, Sayang. Kau tidak akan kenapa-kenapa. Ayo naik, Sayang," rayu Alice sambil terus menciumi wajahnya.


"Dhana takut, Kak ...,"


"Bertahanlah, Sayang. Kakak akan menyelamatkanmu!" Bisik Alice dan langsung menaikkan badan Dhana.


Deniz terpaku melihatnya, jantungnya serasa mau lepas, yang pertama takut saat melihat putranya akan tiada, dan yang kedua terkejut melihat badan setengah ular Alice yang kini telah menyelamatkan putranya.


"Dhana! Kau tidak apa-apa, Nak?! Astaga! Maafkan Papa, Sayang! Papa mencintaimu! Sangat mencintaimu!" Seru Deniz, saat Dhana sudah ada di pelukannya.


"Jaga Dhana sebentar, Tuan Deniz, Aku akan mengejar mereka." Ucap Alice dan langsung menghilang dari hadapannya. Deniz gelisah memikirkamnya. Dia takut Alice kenapa-kenapa.


🍁🍁🍁


"Hei! Mau kemana, Kalian?! Ikut denganku!!" Seru Alice dan langsung melilit badan kedua pria yang tadi sempat menyakiti Dhana.


"M-maafkan, Kami. Kami di suruh oleh seseorang ..." gugupnya ketakutan.


Alice mendekatkan kepalanya ke arah mereka dan menampar keras wajah mereka.


"Meski Kalian di suruh seseorang!! Tidak seharusnya Kalian membunuh orang!!" Seru Alice dan ingin rasanya mencekik leher mereka andai saja tidak bersumpah pada Ayahnya bahwa dia tidak akan membunuh siapapun dengan kekuatannya.


Alice menyeret badan mereka berdua kehadapan Deniz. Deniz murka dan ingin menghajar mereka tapi Alice melarangnya.


"Tunggu, Tuan Deniz! Mereka di bayar oleh seseorang! Sebelum menghajarnya, Kita harus tahu siapa orang yang berani menyuruh mereka buat mencelakai Dhana!" Ucap Alice sambil menatapnya.


Dengan mata memerah karna amarah, Deniz menyetujui ucapannya.


"Baiklah ...," desis Deniz, murka.


Dengan erat Alice melilit badan kedua pria yang tadi menyakiti Dhana. Alice mengangkat badan keduanya dan seakan-akan ingin di jatuhkan ke jurang. Mereka ketakutan, wajahnya memucat.


"T-tolong maafkan, Kami. Jangan sakiti Kami."


"Kalian minta tolong?! Heh?! Kemana hati kalian saat Dhana meminta pengampunan?! Hah! Katakan!! Siapa yang menyuruh Kalian?! Kalau tidak mau jawab! Jangan salahkan Aku jika Kalian Aku lepaskan dan jatuh kedasar jurang," ancam Alice sambil merenggangkan lilitannya.


"Kami akan Jawab!!" Teriak mereka berdua ketakutan.


"Bagus, katakan. Siapa yang membayar, Kalian?" Tanya Alice, untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


"Meliza!! Nona Meliza yang menyuruh Kita berdua. Dia menyuruh Kita menghabisi Dhana. Dia bilang Anak itu bisa jadi penghalang diantara hubungannya dengan Tuan Deniz. Dia juga yang telah membuat Nyonya Dona bercinta dengan seorang pria yang berpenyakitan, selain agar Nyonya Dona di benci oleh Tuan Deniz, dia ingin Nyonya Dona meninggal dunia, sekarang istri Anda sedang sakit parah Tuan. Dia berhubungan badan dengan pria yang terjangkit penyakit HIV AIDS. Dan satu lagi! Meliza juga yang membuat istri Anda celaka." Jelas mereka berdua semakin membuat Deniz Daniswara murka.


"Lepaskan, Mereka!" Perintah Deniz, membuat mereka berdua ketakutan.


"Tidak, Tuan Deniz, mereka sudah berkata jujur. Kalau Kita sakiti mereka, apa bedanya Kita dengan mereka, Kita jadi sama-sama jahat." Bantah Alice dan langsung menyuruh pergi mereka berdua.


Alice merubah dirinya jadi manusia sepenuhnya dan menghampiri Dhana.


"Mereka tahu bahwa Kau bukan manusia seutuhnya, Alice. Bagaimana kalau mereka berdua menyebarkan tentang dirimu!" Cemas Deniz sambil menatap dirinya.


"Kau juga sudah tahu tentang Diriku, Tuan Deniz, apa pendapatmu?" Tanya Alice, gelisah menatap dirinya.


Dengan cepat Deniz langsung memeluknya, tanpa sadar dia ciumi wajah Alice hingga gadis itu meronta didalam pelukannya.


Clapp


Β Β  Clapp


Β  Β  Β Β  Clapp


"Oh ..., Tuan. Apa yang sedang Kau lakukan?" Tanya Alice membuat Deniz gemas dan semakin mencumbu dirinya. Dhana hanya tersenyum dan ikut menciumi wajah Alice.


"Terima kasih, Kak Alice. Mama benar. Kau memang pantas jadi istri kedua Papa." Ucap Dhana membuat Alice semakin gelisah hatinya.


"Tidak, Sayang. Papa kamu hanyalah milik, Mama Dona. Hentikan kelakuan kalian dan bersikaplah seolah tidak terjadi apa-apa. Kita harus kembali ke lokasi syuting. Masalah Meliza, biar Kau saja yang atasi Tuan Deniz." Ucap Alice sambil menghentikan ciuman Deniz dengan tangannya. "Ingatlah! Ini terakhir kalinya Kau menciumku. Ingatlah istrimu dan jadilah Papa yang baik buat anakmu!" Nasehat Alice dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Dhana, maafkan Papa, Nak."


"Papa sudah tahu kebenarannya. Itu semua sudah cukup bagi Dhana. Tinggalkan Nona Meliza, Pa."


"Bukan hanya meninggalkannya, Nak. Papa akan membalas semua perbuatannya."


"Tapi, Pa. Mama punya satu keinginan." Ucap Dhana sambil memeluk Papanya.


"Keinginan apa, Nak?"


"Mama ingin Papa menikah dengan Alice. Mama bilang hidupnya tidak akan lama lagi. Apa Kita bisa mewujudkan keinginannya, Pa?" Tanya Dhana, gelisah memikirkan keinginan Mamanya.


"Bisa, Nak. Sekarang Kita fokus pada keinginan Mama-mu dulu."


"Caranya, Pa? Kak Alice sepertinya benci dengan Papa."


"Serahkan semua pada Papa, Nak. Papa pasti bisa memaksanya agar mau jadi istri Papa." Yakin Deniz dan langsung menggendong badan anaknya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


TBC.


__ADS_2