
Meliza menghampiri Deniz yang kini tengah bercanda bersama Dhana. Wanita itu benar-benar heran melihat perubahan sikap Dhana pada ayahnya. Begitupula dengan Deniz, pria yang dulunya tidak pernah memperdulikan anaknya itu sekarang justru bercanda dengannya. Mereka terlihat akrab lebih dari biasanya.
"Deniz," panggil Meliza membuat Deniz yang sedang menggelitiki badan anaknya, Dhana. Menghentikan tingkah lakunya.
"Oh, hai Meliza, apa Kau sudah menyuapi makan pada, Dona?" Tanya Deniz, membuat Meliza tidak suka.
"Tumben Kau memperhatikannya Deniz, apa Kau masih mencintai Dona?" Sinisnya, tidak terima.
"Apa Kau gila, Meliza?! Tentu saja Aku memperhatikannya. Dia mamanya Dhana. Aku suaminya! Dia istriku. Apa Aku salah, jika memperhatikan Dona?" Tegas Deniz dan Meliza langsung terdiam dengan pertanyaannya.
"Em ..., tentu saja tidak. Hehehehe, Aku hanya bercanda. Maafkan Aku Deniz."
"Baiklah, apa para Artis yang akan memerankan film di perusahan Kita, sudah tiba?" Deniz langsung saja pada intinya. Dia tidak memperdulikan kecemburuan Meliza.
"Sudah, Deniz, mereka langsung menuju hotel, nanti malam baru akan di mulai Syuting filmnya."
"Baiklah, Kau boleh pergi Meliza." Perintah Deniz membuat Meliza geram oleh sikapnya.
"Em, tentu saja ..., Aku pergi Deniz."
"Meliza!" Seru Deniz menghentikan langkah Meliza.
"Iya, Deniz," jawab Meliza, datar.
"Jangan cemburu pada Dona. Aku mencintaimu," ucapnya membuat Meliza langsung tersenyum bahagia.
"Aku tahu, terima kasih, Sayang." Ucap Meliza dan langsung pergi meninggalkannya.
Dhana yang mendengarkan itu, jadi bermuram durja memikirkan Ibunya. Dia tidak terima ayahnya mencintai wanita lain selain Ibunya. Alice Pramuja lebih pantas dibandingkan Meliza, wanita itu sangat mencintai Ibunya. Begitu juga dengan dirinya.
__ADS_1
"Dhana, ayo kita lanjutkan main Kita, Nak." Ajak Deniz membuat Dhana murka, tapi demi menuruti perintah Alice, Dhana pura-pura baik pada ayahnya.
"Dhana lelah, Pa. Sebaiknya Dhana pergi kekamar Mama saja. Kasihan Mama. Mama pasti sering kesepian. Papa terlalu banyak memperhatikan Nona Meliza tanpa peduli pada wanita yang sudah melahirkan Dhana." Ucap Dhana dan langsung pergi meninggalkan Deniz.
Deniz yang bisa melihat betapa sangat kecewa putranya, pergi menyusul putranya dan menghampiri kamar Dona.
"Mama!!" Histeris Dhana membuat Deniz yang ada di belakang tubuhnya terkejut. "Mama kenapa?! Bangunlah, Ma. Jangan pingsan." Isak Dhana sambil mengguncang-guncang bahu ibunya.
"Dona!" Seru Deniz khawatir. Bagaimana bisa wanita yang tidak bisa berjalan itu tiba-tiba pingsan di depan cermin kamarnya.
"Ada apa, Deniz?! Kenapa Dhana teriak?!" Seru Meliza yang tiba-tiba datang, penasaran.
"Dona pingsan, Meliza. Panggil dokter." Perintah Deniz, sambil mengangkat badan Dona dan menaruhnya di ranjang.
"T-tidak per-lu, Deniz. Ak-ku hanya s-sakit biasa saja." Larang Dona tatkala sadar dari pingsannya. Dia tidak mau penyakitnya di ketahui oleh keluarganya.
"T-tidak, apa-apa, Nak." Jawab Dona, lemah.
"Apa Mama tadi sudah makan?" Tanya Dhana, memastikan. Tapi sebelum Dona sempat menjawab pertanyaannya, Meliza menyela.
"Sudah, Dhana. Aku yang menyuapinya. Iya kan, Dona?" Tekan Meliza, sambil menatap tajam kearah wanita yang telah menjadi istri kekasihnya.
"S-sudah." Jawab Dona, tidak mau membongkar kejahatan Meliza. Wanita itu sama sekali tidak memberinya makan. Hanya pagi saja saat Alice ada dirumahnya dan makan bareng bersamanya. Meliza mencari muka dihadapan mereka, khususnya dihadapan Alice dan Deniz. Dia pura-pura baik dengan menyuapkan makanan ke mulut Dona. Tapi setelah itu selesai, sampai saat ini Dona belum dikasih makan, Dona tidak perdaya, penyakitnya semakin hari semakin parah. Jangankan mengambil makanan, berjalan saja dia sudah sangat susah. Meliza sengaja mengajaknya keluar dengan alasan jalan-jalan. Padahal fakta sebenarnya adalah, Meliza mengancam Dona dengan alasan akan membunuh Dhana jika sampai Alice tahu semua kebusukannya.
🍁flasback on🍁
"Deniz!" Panggil Meliza pelan.
"Iya, ada apa, Meliza?" Tanya Deniz, penasaran.
__ADS_1
"Alice sudah pulang, apa boleh Aku mengajak Dona jalan-jalan?" Izinnya sopan.
"Oh, tentu saja. Udara luar sangat baik buat kesembuhan Dona. Pergilah." Perintah Deniz dan langsung disetujui oleh Meliza.
Dona yang diajak keluar oleh Meliza hanya diam saja karna terpaksa, dia merasa lega asalkan Dhana tetap dirumah bersama Ayahnya. Kalau Dhana ikut, Dona takut Meliza akan menyakiti anaknya.
Setelah jauh dari rumah dan keluarga Dona, Meliza mendorong kursi rodanya hingga menghantam pepohonan di pinggir jalan.
Brakk!!
"Aduh!" Seru Dona, gelisah hatinya.
"Kenapa?! Apa Kau kesakitan?! Hah! Bukankah ini yang Kau minta, Dona?! Kau akrab dengan Alice Pramuja dan ingin mengadukan semua kejahatanku padanya?! Jangan mimpi Wanita cacat!!" Bentak Meliza, sambil menjambak kuat rambut Dona hingga wajah pucat itu tampak kesakitan.
"M-maaf-kan, Ak-ku Meli-za!" Seru Dona, sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
"Maaf, katamu?! Jangan harap Dona! Aku akan menyakiti anakmu, Dhana. Aku akan membunuhnya, Aku akan menyiksanya, Dia harus merasakan hukuman akibat ulah Mama tidak warasnya. Apa Kau tahu?! Akulah yang mencelakaimu hingga Kau tidak bisa berjalan. Akulah yang menyuntikkan obat aneh kepadamu agar Kau terlihat gila dihadapan keluarga, dan Akulah yang menyuruh orang berpenyakitan itu buat menyetubuhimu agar Deniz membencimu! Dan sekarang! Kau ingin menjodohkan Deniz dengan Alice Pramuja?! Hahahaha, jangan bodoh Dona!! Aku akan menghabisi siapa saja yang berani mendekati Tuan besar Deniz Daniswara. Dia hanyalah milikku! Jangankan Alice, Putramu saja, Aku bisa menyingkirkannya!" Ancam Meliza, membuat Dona gemetaran seluruh badannya.
🍁flashback off🍁
"Kalau Kau sudah makan, kenapa bisa pingsan, Dona?" Tanya Deniz, khawatir dengan kesehatannya, bagaimanapun juga, Dona adalah Ibu dari anaknya.
"A-aku hanya s-sakit bi-biasa saja, Deniz. Ti-tidak apa-apa." Lirih Dona, lemah karna penyakitnya.
"Baiklah, Kau istirahatlah, Dona. Para pelayan akan berjaga. Aku dan Meliza harus pergi buat mengawasi pembuatan syuting film di pekerbunan teh Tuan Pramuja. Setelah selesai, kami akan segera pulang. Dhana juga akan ikutan. Aku tidak mau dia membebanimu." Terang Deniz dan tak lama kemudian meninggalkan kamar Dona. Dia bersama Dhana dan Meliza berangkat buat melihat proses pembuatan film miliknya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
TBC.
__ADS_1