
Pesta di rumah Deniz Daniswara berlangsung sangat meriah, Dhana sangat bahagia melihat calon mama dan ayahnya selalu bersama, kadang menyalami para tamu, kadang berdansa, kadang bercanda di tempat yang agak sepi, dan kadang datang kepadanya dan mencium kedua sisi pipinya. Alice mencium sebelah kanan, sementara Deniz mencium bagian kiri pipi putranya, para media mengabadikan keakraban keluarga mereka. Sungguh! Malam ini merupakan malam yang paling membahagiakan bagi Dhana. Keinginan terakhir mama kandungnya, Dona, terkabul.
"Ma, lihatlah, Kak Alice dan Papa bersama, Meliza tidak akan bisa merebut posisi Mama. Hanya Kak Alice saja, wanita pilihan Mama. Mama baik-baik ya, di sana. Dhana, Kak Alice, dan Papa, akan selalu menyanyangi mama. Aku sangat mencintaimu, mama Dona, semoga masuk surga. Aamiin ... " bathin Dhana, dengan mata berkaca-kaca. Tak berapa lama kemudian, sebuah kecupan lagi-lagi mendarat di kedua sisi pipinya.
"Nak, apa kau bahagia?" Tanya Deniz, sambil mengusap kepala putranya, gemas.
"Kenapa matamu berkaca-kaca, Sayang? Apa kau baik-baik saja? Kau memikirkan sesuatu? Hem?" Racau Alice, lebih khawatir dari Deniz.
"Dhana hanya teringat sama mama Dona, pa, ma. Jangan khawatir. Dhana sangat bahagia," jelasnya membuat Deniz bangga sementara Alice menatap lembut pria kecil di hadapannya.
Setelah mengecup bibir mungil calon anaknya, Alice mengusap airmata dan memandang wajah pria tampan di hadapannya.
"Nak, kau tahu, kan? Betapa mama sangat mencintaimu. Bahkan cinta mama padamu jauh lebih besar jika dibandingkan dengan cinta mama pada papamu. Kau mengerti, kan? Jadi jangan bersedih. Ok, mama di sini hanya untukmu," jelas Alice membuat Dhana bahagia.
Dhana dan Deniz menatap Alice, sementara Alice hanya tersenyum dan balas menatap mereka dengan tatapan redup. Mata Alice semakin lama semakin sayu. Dhana jadi penasaran, apa sebenarnya yang sedang di alami oleh mama keduanya saat ini.
"Ma, jangan khawatirkan tentang keadaanku, tapi pikirkan keadaan mama. Mama baik-baik saja, kan?" Tanya Dhana, dan Deniz juga ikutan khawatir menatap gadis yang baru saja jadi tunangannya, setengah jam yang lalu.
"Ssssshhhhhhsssss ... " desisan Alice semakin lama membuat Dhana dan Deniz heran. Bahkan lidahnya sudah bercabang meskipun dalam wujud manusia, bola matanya berubah jadi warna hijau, Deniz segera memeluknya, tak akan dia biarkan tamu lain melihat wujud asli Alice.
"Alice! Jangan berubah, Sayang. Di sini sangat berbahaya, jika mereka tahu, mereka akan menyakitimu. Aku mohon, calon istriku, jangan berubah," pinta Deniz, mengusap kepalanya tunangannya. "Semua tamu menatap kita, Sayang. Aku mohon, jangan berubah," bisik Deniz, sekali lagi.
"A-aku tidak kuat, Deniz. Bawa aku pergi, sekarang juga. Ini malam bulan purnama, di malam seperti ini aku akan berubah jadi ular dan tidak bisa berubah jadi manusia, aahhh ... " rintih Alice membuat Deniz semakin cemas.
Dhana mendekati mamanya karna ada sisik di bagian kakinya. Dhana tidak mau tamu lain melihat fisik asli mamanya. Dia berusaha menutupinya dengan memeluk Alice dari belakang, sementara Deniz tetap memeluk Alice dari depan. "Ma, Dhana mohon, jangan berubah. Mama bisa celaka! Dhana tidak mau lagi membuat mama terluka," lirihnya dengan mata berkaca-kaca. "Pa, cepat bawa mama pergi dari sini, sisik mama mulai terlihat."
__ADS_1
"Apa?!" Seru Deniz dan mulai melihat kaki Alice, dan benar saja, ada sisik putih di kakinya. Deniz semakin bergetar hebat melihat perubahan kekasihnya.
"Sssshhhhhh," Alice kembali mendesis dan kali ini menarik perhatian para tamu.
"Apa kalian mendengar suara ular?" Tanya salah satu tamu pada tamu lainnya.
"Iya, tapi mana mungkin ada ular di pesta, Tuan Deniz?! Mungkin kita salah dengar."
"Kau benar, mungkin kita salah dengar," jawab salah satu tamu lainnya, membenarkan ucapannya, wajah mereka mulai gelisah.
Meliza senang melihat kegelisahan Alice, dia melihat kaki Alice dan melihat ada sisik putih di sana meskipun Dhana dan Deniz menutupinya. "Hallo, Tuan-tuan! Malam masih panjang! Sebagai sahabat Deniz, aku akan menghibur kalian! Oh ya! Apa kalian masih ingat film-film siluman ular di India?!" Tanya Meliza membuat para tamu menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja, itu film yang sangat fenomenal, tapi apa hubungannya film itu dengan, Anda?!" Tanya Albert, salah satu tamu yang sempat memuji Alice.
"Benarkah?! Pantas saja aku tadi mendengar suara desisan ular!" Seru salah satu tamu ketakutan.
"Aku juga, kalau benar dia adalah gadis ular! Kita harus membunuhnya," ucap salah satu tamu lainnya dan menarik pasangan pestanya, para pria berusaha melindungi kekasihnya.
"Sayang, aku takut," lirih tamu wanita, pada pasangan atau prianya.
"Tenang, Sayang. Aku akan melindungimu," jawab tamu pria dan memeluk kekasihnya.
Deniz membawa Alice ke tempat yang lebih gelap dan membiarkannya di sana, Dhana menjaganya, setelah itu Deniz menghampiri Meliza dan menatap tajam matanya. "Cukup Meliza!! Aku tahu kau jatuh cinta padaku dan aku menolakmu!! Tapi bukan berarti kau menjelek-jelekkan Tunanganku!!" Bentak Deniz, sambil menatap tajam mata Meliza, ingin rasanya Deniz mencekik lehernya saat itu juga tapi tidak bisa. "Apa kau tahu, Tuan Albert?! Kekasihku sangat cantik dan matanya memancarkan kasih sayang serta kelembutan yang sangat luar biasa, bahkan Anda sendiri yang mengatakannya, apa Anda percaya bahwa gadis selembut dia adalah gadis ular?!" Tanya Deniz membuat tamu lain menatap ke arahnya.
"Tentu saja tidak, Tuan Deniz! Ini zaman modern, kisah seperti itu hanya ada di masa lalu. Itupun entah nyata atau tidak! Aku juga tidak perduli," jawab Albert membuat Deniz puas, sementara beberapa tamu lainnya mentertawakan Meliza.
__ADS_1
"Astaga! Lihatlah dia! Kakinya cacat tapi otaknya juga cacat. Mana ada manusia bisa berubah jadi ular?! Ada-ada saja!" Ejek salah satu tamu wanita, menghinanya.
"Dengar-dengar, dia habis kecelakaan, mungkin saja kepalanya terbentur?! Makanya jadi gila seperti ini."
"Sudahlah! Mari kita nikmati pestanya! Jangan memperdulikan dia!" Seru tamu lainnya dan mulai menikmati pestanya, mereka tidak memperdulikan Meliza. Rasa takut yang tadi sempat melanda hilang seketika. Pemain musik mulai mengeraskan suaranya.
"Tunggu!! Aku tidak gila!! Kalian lihat saja!! Aku akan membuktikannya!!" Teriak Meliza sambil menarik seorang pria yang membawa seruling. Musik seketika berhenti, karna paksaan Meliza, pemain suling mulai memainkan serulingnya dan Alice semakin gelisah karnanya.
"Mama! Jangan pergi dari tempat gelap ini, Mama. Mama bisa dalam bahaya! Suara seruling itu pasti mengganggu mama!" Seru Dhana dan berusaha menolong Alice.
"Sssshhhhssssss .... mama tidak terganggu dengan seruling itu, Nak. Tapi dengan malam bulan purnama, malam ini mama tidak bisa berbuat apa-apa. Mama kesakitan, Sayang ... dan satu lagi! Ini saatnya mama mengalami proses ganti kulit. Di saat seperti ini mama tidak suka keributan, kebisingan, dan mama mudah sekali marah. Tolong panggil papamu, Nak. Mama tidak tahan, sudah saatnya mama berubah jadi ular. Lakukan sesuatu, Sayang, aahhhh ... ssssshhhhhssss .... " Alice terus mendesis membuat Dhana panik.Β Suara seruling makin keras terdengar dan lampu sorot mulai menyinari Alice. Dhana berlari meninggalkannya, Deniz ingin melindungi Alice tapi di cegah oleh Meliza.
"Lihatlah, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya! Alice gelisah mendengar suara seruling di pesta! Sebentar lagi dia pasti akan berubah jadi ular!" Teriaknya tertawa.
"Lepaskan tanganku!! Jalang sialan!! Aku akan menghabisimu!!" Ancam Deniz tidak main-main.
Meliza tidak memperdulikannya dan akan memperlihatkan wujud asli Alice di hadapan semua orang.
"Waktumu sudah habis, Alice. Selamat tinggal!" Seru Meliza, puas melihat kegelisahan Alice.
πππππππππ
DI VERSI LAIN SUDAH TAMAT, KALAU DI SINI MAU CEPAT, TEKAN LOVE DAN KOMEN YANG BANYAK YAAAπ€π€π€πππππ€£π€£π€£ BULAN DEPAN KARYA INI TERBIT JADI BUKU, JADI JANGAN HERAN KALAU AUTHOR BAKALAN LAMA BUAT UP, TAPI KALAU KALIAN SEMANGAT, AUTHOR AKAN LEBIH BERSEMANGAT, SATU LAGI, VERSI BUKU SAMA VERSI DI SEMUA LAPAK BEDA YAAA. SEE YOUUU
TBC.
__ADS_1