GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 28


__ADS_3

Dokter Verry sedang menyuntikkan obat yang bisa membuat gila pada Meliza, dia adalah Dokter yang dulu pernah dibayar Meliza buat menyakiti Dona. Tapi sayang, Deniz mengetahui kejahatannya. Sekarang adalah gilirannya, Deniz memaksa Dokter Verry agar mau melakukan hal yang sama pada Meliza. Yaitu, membuat Meliza gila sama seperti Dona.


Karna takut diancam, mau tidak mau pria berusia 46 tahun itu menurutinya, dia berada dibawah kendali seorang Deniz Daniswara, si pria gila yang akan melakukan apa saja demi melindungi kekasihnya, Alice. Deniz tidak mau Alice mengalami hal yang sama seperti Dona, Deniz akan melakukan apa saja demi keselamatannya.


Meliza hanya diam saja dan tidak berprasangka buruk pada Dokter pribadinya, Verry. Hanya Dokter itulah orang kepercayaannya, Dokter itu tahu semua kejahatannya, itulah sebabnya dia tidak mau di periksa Dokter lain kecuali dirinya.


"Maaf, Nona Meliza, aku telah menyuntikkan obat yang bisa membuat gila pada Anda. Tuan Deniz tahu kejahatan kita yang pernah menyakiti mantan istrinya, aku tidak bisa berbuat apa-apa karna takut masuk penjara," bathin Verry, menatap kosong pada pasien di hadapannya.


"Apa kau sudah menyuntikkan obat buat kekasihku, Dokter?" Tanya Deniz sambil menatap tajam ke arah matanya.


"Eh, su-sudah, Tuan Deniz," jawab Dokter Verry, gugup.


"Pak Dokter, kenapa kau terlihat gelisah?" Meliza bertanya karna merasa heran.


"Aku baik-baik saja, Nona Meliza. Hanya sedikit tidak enak badan saja." Verry menjawab sambil mengusap keringat di dahinya.


"Baiklah, apa masih ada pemeriksaan lagi, Dokter? Jangan sampai suntikanmu tidak berhasil! Kalau itu terjadi! Kau yang akan tanggung akibatnya!" Deniz mengancam dengan senyuman manis di bibirnya. Dia tahu Dokter Verry mengerti apa arti ucapannya.


"Em ... ehem! suntikannya pasti akan berhasil, Tuan Deniz," jawab Verry gelisah.


"Baiklah, kau boleh pergi, Dokter," ucap Deniz sambil mendekat ke arah Meliza dan mengusap kepalanya.


"Terima kasih, Dokter," imbuh Meliza membuat Dokter Verry lega dan langsung meninggalkan kamarnya.


Setelah Dokter itu tidak ada, Meliza memeluk pinggang Deniz. Dia merajuk padanya dan sesekali menciumi lengan kekarnya. "Deniz, aku akan pergi ke kamar mandi, maukah kau menggendongku?" Meliza menatap manja ke arah pria yang saat ini mengusap kepalanya, tak akan dia biarkan Alice merebut kekasihnya.

__ADS_1


"Oh, tentu saja! Tapi ... "


"Selamat pagi, Meliza," sapa Alice yang tiba-tiba memasuki kamarnya.


"Alice?! Kau?!" Seru Meliza, tidak suka.


"Iya, ini aku, apa kabar?"


"Kau lihat sendiri, kan? Aku kecelakaan dan tidak bisa berjalan. Oh ya! Aku dengar kau juga habis kecelakaan, ya? Sayang sekali, kau seharusnya bisa membantu Deniz menjaga Dhana, tapi kenyataannya malah tidak bisa. Kasihan sekali!" Ejek Meliza sambil terus mendekap pinggang Deniz Daniswara.


"Itulah nasib manusia, Nona Meliza. Kita tidak bisa tahu kapan bahaya akan datang. Tapi sudahlah! Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Oh ya! Makanan sudah siap. Sebaiknya kita sarapan," ajak Alice, berusaha sabar.


"Kau pergi duluan saja! Aku akan mandi bersama kekasihku! Deniz Daniswara! Kau dengar, kan?" Ucap Meliza sambil menekankan kata kekasihku pada Alice.


"Oh, silahkan saja, tapi ... " ucap Alice ragu-ragu.


"Dhana tadi mencari Anda, Tuan Deniz." Jawab Alice, balas menatap tajam matanya.


"Benarkah? Maaf Meliza, sepertinya aku tidak bisa membantumu mandi. Jadi minta bantuan pada salah satu Suster saja. Kebetulan Suster yang merawat Alice ada dua," jelas Deniz dan langsung menjauh dari Meliza.


"Tidak perlu! Aku mandi sendiri saja," ucap Meliza, kesal dengan sikap mereka berdua.


Alice keluar dari kamar Meliza dan Deniz mengikuti di belakangnya. Setelah menutup pintunya, Deniz mengangkat badan Alice dan membawanya ke kamar.


"Eh, Kak! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku! Kekasihmu minta di mandikan! Pergi saja padanya dan terus peluk dirinya! Biar aku yang jadi pelayan buat kalian berdua! Aku sudah menyiapkan sarapan! Silahkan kau dan Nyonya Meliza makan!" Seru Alice, meronta dalam pelukan Deniz.

__ADS_1


"Um ... ular kecilku cemburu, mengertilah, Sayang. Hanya kaulah cintaku," jelas Deniz dan langsung mengunci pintu kamarnya. Dia menindih badan Alice di ranjang.


"Huh! Aku tidak cemburu! Kau dengar?!" Sahut Alice, kesal.


Deniz melumat bibir gadis yang saat ini berada di bawahnya, dia gemas dan tidak sabar jika tidak mencumbunya. Tapi tetap! Gadis bernama Alice itu sangat keras kepala, Deniz sudah melarangnya keluar dari kamar, tapi tetap, Alice keluar dan malah pergi menemui Meliza. Deniz tidak suka, Alice bisa kena pandangan buruknya. Deniz sangat marah saat Meliza bicara sinis pada kekasihnya.


"Katakan! Siapa yang menyuruhmu keluar dari kamar?! Siapa yang memperbolehkanmu masak dan pergi menemui Meliza?! Ingatlah, Sayang. Meliza sangat berbahaya, jangan bicara dengannya, mungkin fisiknya lumpuh, tapi orang-orang suruhannya bisa melakukan apa saja. Lagipula kau masih sakit, kalau kau masak dan pergi menemui Meliza lagi! Aku akan menghukummu! Aku akan lapor pada ayahmu bahwa aku telah gagal menjagamu, biarlah ayah tersayangmu itu menghabisi nyawaku!"


"TIDAK!! jangan, Kak Deniz! Aku tidak mau kau celaka. Papa benar-benar sangat berbahaya. Kau tahu sendiri, kan? Orangtua akan melakukan apa saja demi anaknya," cegah Alice, tidak mau membuat Deniz Daniswara berada dalam bahaya.


"Baiklah! Turuti perintahku. Jangan menemui Meliza dan jangan melakukan pekerjaan rumah. Sebentar lagi Dokter pribadiku akan datang buat memeriksa dirimu. Dengarkan aku, Sayang. Minum obatmu tepat waktu, jaga kesehatanmu, Dhana dan aku sangat membutuhkanmu, Sayang. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Oh ya! Persiapkan badanmu. Sebentar lagi pesta ulang tahunku. Aku ingin membawamu dan menunjukkan pada dunia bahwa kau adalah calon istriku, kau paham?" Ucap Deniz membuat Alice langsung balas melumat bibirnya.


"Aku paham, Kak Deniz. Tapi maaf, aku tidak bisa memberikan hadiah kepadamu, aku ... "


"Kau setujui saja keinginanku, Sayang. Jadilah istri kesayanganku dan terimalah aku jadi suamimu, maka itu adalah hadiah terindah dalam hidupku, kau mau kan?" Rayu Deniz, penuh kasih sayang.


"Astaga! Ucapanmu semanis madu, Kak Deniz, tapi ya, aku mau jadi istrimu. Meskipun tua, aku akan menerimamu jadi suamiku."


"Astaga, Alice! Panggilan itu lagi?!" Seru Deniz tidak suka.


Alice tertawa. "Maaf, Kak. Aku hanya bercanda."


"Awas, kau ya!"


"Astaga, Kak Deniz, apa yang kau lakukan?! Aahh ... "

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


TBC.


__ADS_2