GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 8


__ADS_3

Dona membangunkan putranya, yang kini tengah terlelap di ranjangnya, airmatanya jatuh menetes, betapa Dhana selama ini telah menderita gara-gara dirinya, di tambah lagi Deniz tidak memperdulikannya, semakin membuat Dona nekat dan ingin membuat Alice menikah dengan suaminya, Deniz Daniswara. Dona tidak mau Dhana di siksa oleh Meliza setelah kepergiannya. Wanita itu benar-benar bisa melakukan apa saja.



Salah satunya dengan memfitnah dirinya, dan mencelakai Dhana, Alice adalah gadis yang tangguh untuk melawannya, wanita itu meskipun manusia ular, jiwanya benar-benar tulus mengalahkan jiwa tulusnya Meliza. Selain cantik, hatinya juga sangat baik.



"Dhana ..., bangunlah, Sayang. Sudah pagi," ucap Dona, sambil mengguncang pelan bahu putranya. Tidak seharusnya anak sekecil dia berpikiran dewasa gara-gara ulah Meliza.



"Eum ..., Dhana masih mengantuk, Mama." Protes Dhana dan terus memejamkan matanya.



"Sayang, penolongmu ada di depan, Kau bukakan pintu untuknya, Sayang, calon Mamamu kelaparan." Ucap Dona membuat Dhana terbangun dan langsung membuka lebar kedua matanya.



"Calon Mama?! Maksud, Mama?!" Seru Dhana, heran dengan ucapan ibunya.



"Sayang ..., semua manusia bakalan meninggal, dan kalau Mama meninggal, Dhana harus mencari Mama baru. Apa Kau mengerti, Sayang?"



"Aku mengerti, Mama. Tapi Dhana tidak suka sama Meliza," guman Dhana dengan mata berkaca-kaca.



"Siapa bilang, calon Mamamu itu adalah Meliza? Kau salah, Sayang. Calon mamamu itu adalah kak Alice, ingat! Kau harus turuti semua kata-katanya dan bersikap baiklah padanya. Kalau Meliza menyakitimu. Adukan saja padanya. Kau tahu kan? Kak Alice sangatlah hebat." Jelas Dona membuat Dhana semangat.



"Iya, Ma! Kak Alice sangat hebat! Dia berubah menjadi ular. Dhana suka melihatnya!" Serunya girang.



"Ssstttt ..., jangan keras-keras, Sayang. Nanti ada orang yang dengar. Kita harus merahasiakan pada semua orang bahwa kak Alice adalah manusia ular, Sayang. Kalau ketahuan, dia bisa dihajar." Ingat Dona, membuat Dhana menegang.



"Tentu saja, Ma. Dhana akan merahasiakannya. Dhana harus bisa melindungi calon Mama Dhana." ucap Dhana, penuh dengan keseriusan di matanya.



"Anak pintar ..., ya sudah! Dhana mandi dulu gih. Nanti calon mama Dhana diluar kelaparan."



"Owh, tentu saja, Ma. Dhana akan segera menemuinya." Girang Dhana, membuat mata Dona berkaca-kaca.



"Alice, Kau tahu sendiri kan? Dhana hanya akan aman bersamamu, kau yang lebih pantas jadi istri suamiku. Semua akan Aku lakukan demi Putraku. Aku akan memaksamu. Waktuku tidak banyak, Sayang ...," bathin Dona, penuh dengan tekad di hatinya. Dia akan membuat Alice dan Deniz bersatu. Dengan cara apapun. Dia akan bangkit. Karna Dhana bisa dipastikan aman. Dona akan melakukan segalanya sebelum tiada.



🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁



Alice menuruti ucapan Dona. Dia berdiri di depan pagar rumah Dona dan seolah-olah ingin bertamu ke rumahnya. Padahal semalaman dia tidur di kamar Dona tanpa sepengetahuan Deniz dan Meliza.



Alice hanya ingin membongkar kejahatan Meliza. Dia ingin agar Deniz tahu bahwa wanita itu jahat dan bisa menyakiti Dhana dan Dona, kapan saja. Wanita itu memang sengaja ingin menghancurkan rumah tangganya bersama Dona. Alice tidak akan membiarkannya.


__ADS_1


"Permisi!" Seru Alice sambil menekan bel di rumah Deniz. Dia tersenyum geli mengingat kejadian semalam, melemparkan badan Meliza yang akan menyakiti Dhana, serta mematuk bibir Deniz karna sudah berciuman dengan Meliza. Pria itu sama sekali tidak memperhatikan istrinya. Ya ..., meskipun sikap tidak peduli Deniz itu ada alasannya.



Pria itu sakit hati karna mengganggap Dona telah berselingkuh di belakangnya. Padahal fakta sebenarnya adalah tidak.



Semua itu akibat ulah Meliza. Tapi tetap saja, semua itu tidak bisa membuat Deniz percaya. Padahal itu bukan kesalahan Dona, dia di jebak oleh Meliza. Andai wanita jahat itu tidak membuat Dona bercinta dengan orang suruhannya, pastilah keluarga Deniz akan baik-baik saja.



Drap, drap, drap ...



Ceklek.



"Selamat pagi, Nona Alice, tumben sekali Anda datang kemari?" Tanya pak satpam, yang membukakan pintu pagar untuknya.



"Em ..., Saya habis jalan-jalan pagi, Pak. Jadi sekalian mampir."



"Oh, silahkan masuk," ramah pak Satpam, membuat Alice tersenyum.



"Terima kasih." Alice memasuki rumah Deniz sambil mencari-cari keberadaan Dhana dan Dona. Alice terus melangkahkan kakinya kedalam.



"Astaga! Dimana kak Dona? Katanya mau menyambut? Kalau masuk sendiri begini kan, jadi malu. Masih pagi pula. Huft ...," bathih Alice, mulai gelisah.




"Eh, selamat pagi juga, Pak."



"Kau masih saja, bandel ya? Jangan panggil Aku Bapak." Protes Deniz dan langsung menghampirinya. Entah kenapa? Setelah kejadian buruk semalam, hatinya kembali tenang gara-gara melihat gadis mungil di hadapannya.



"Tapi ..., Bapak kan ..., sudah tua!" Seru Alice, mulai tidak suka.



"Umur kita hanya beda sepuluh tahun, Alice. Aku tiga puluh, sementara Kau, baru dua puluh. Tidak terlalu jauh, Aku, rasa." Bantah Deniz sambil mendekat terus ke arahnya.



"Ini orang kalau dibiarkan lama-lama kurang ajar juga! Sialan," bathin Alice, geram.



"Baiklah. Saya ingin menemui Dhana. Dimana dia? Saya lapar!" Ucap Alice, membuat Deniz menatapnya heran.



"Lapar?"



"Eum ..., maksudku ..., Aku ingin mengunjungi Dhana dan sekalian numpang makan pagi bersama, boleh kan?" Gugup Alice, pelan.

__ADS_1



"Tidak bisa di percaya, orang kaya seperti Alice, numpang makan di rumah orang," goda Deniz semakin membuat Alice kesal dan ingin mematuk lagi mulutnya.



"Kenapa tidak?! Nona Meliza juga numpang makan di rumah, Anda. Kenapa Aku tidak?!" Protes Alice mulai memanas hatinya.



"Itu beda, Sayangku. Meliza kekasihku, sementara kau?!"



"Rekan kerjamu!!" Potong Alice, kesal.



"Oh, Nona manja ini bisa marah juga rupanya. Baiklah, mari kita makan pagi bersama," hibur Deniz sambil menatap geli, gadis mungil di hadapannya.



"Tidak usah! Aku pulang saja! Orangtuaku masih sanggup memberiku makan!" Gertak Alice, dan langsung berjalan kearah pintu buat pulang. Tapi belum sempat Alice keluar, Deniz sudah lebih dulu menggenggam tangannya.



"Aku hanya bercanda, Alice. Jangan marah," ucap Deniz, pelan.



"Tidak mau! Dasar tua! Lepaskan tanganku!" Seru Alice, terus meronta.



"Tidak! Kau harus makan!"



"Tidak mau! Lepaskan Pak Tua, uh ...," Ronta Alice sambil terus memukul-mukul dadanya.



Karna tidak sabar, Deniz dengan cepat langsung memeluk tubuhnya.



"Sudah cukup, Alice. Cukup! Maafkan, Aku." Ucap Deniz, bergetar hatinya. Entah kenapa pelukan Alice mampu membekukan hatinya. Saat memeluk Dona dan Meliza, dia tidak pernah tenang seperti ini.



"Astaga! Apa ini? Kenapa gadis kecil ini mampu membuatku bahagia seperti ini? Tubuhnya terasa hangat, bau badannya mampu membuatku mabuk kepayang. Astaga! Tidak!! Aku tidak boleh tergoda padanya." Bathin Deniz, gemetar jiwanya.



Alice terus meronta di dalam pelukannya, tapi Deniz tidak menyadarinya. Sementara di tempat lain, Dona bahagia melihat kedekatan mereka, Dhana juga tersenyum sambil memeluk ibunya. Sementara Meliza, dia mengepalkan kedua tangannya tidak terima.



"Penghalang jalanku tambah lagi ..., Kau juga harus celaka di tanganku, gadis muda." Desis Meliza, tidak suka.




🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁



Ayoooo vote and komennya mana? Ditunggu ya ...😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_1



TBC.


__ADS_2