GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 17


__ADS_3

Deniz membawa jenazah Dona ke kota. Deniz ingin Dona di makamkan oleh keluarga besarnya. Dhana terus menangis dan tidak mau lepas dari Ibunya. Alice berusaha merayunya dan menenangkan hatinya, setelah berusaha cukup lama, akhirnya Alice berhasil dan anak kecil itu menangis di dalam dekapannya. Deniz selalu mengusap wajah Dona dan menciumi keningnya. Matanya tampak memerah dan kesedihan teramat sangat nampak di wajah tampannya.


Alice sesekali mengusap tangannya, dia ingin berusaha menenangkan hatinya, tapi Deniz terus bersedih dan menatap Dona dengan penuh kasih sayang.


"Apa kau tahu, Alice? Meski kita menikah bukan karna cinta, Dona selalu ada jika aku membutuhkannya, dia adalah wanita yang sangat luar biasa. Mungkin bagimu aku selalu mencintai Meliza, padahal fakta sebenarnya adalah, aku hanya ingin mencari mama yang tepat buat Dhana. Dihadapanku, Meliza adalah gadis yang baik, dia dengan tulus mau merawat Dona dan selalu bersikap manis pada Dhana, tapi siapa yang sangka, dia benar-benar wanita yang pandai menyembunyikan sifat jahatnya. Aku menyesal telah mempercayainya. Seharusnya aku lebih memperhatikannya, tapi tidak! Aku justru sibuk dengan pekerjaan dunia dan tidak tahu tentang kelakuan buruknya pada Dona dan Dhana. Aku kira Dona dan Dhana aman di tangan Meliza, tapi ..." sesal Deniz dan langsung dihentikan oleh Alice.


"Sudah cukup, Tuan Deniz, lupakan masa lalu. Manusia tidak ada yang sempurna. Bisa saja suatu saat nanti aku juga bersikap jahat sama seperti Meliza. Tapi apapun itu, jangan sampai Dhana menderita karna ulahku." ucap Alice dan Deniz langsung terdiam dengan ucapannya. Dia kembali mengecup kening Dona dan meraih tangan Dona dalam pelukannya.


"Terima kasih, Alice. Kau sudah bersedia ikut dengan kita ke kota. Kau mau membantuku mengurus jenazah Dona, kau berusaha jadi ibu yang baik buat Dhana. Percayalah, setelah Dona di makamkan, kita akan kembali kesini dan memulai hidup yang baru." Jelas Deniz membuat Alice terdiam dan menganggukkan kepalanya. Dia sendiri bingung dengan pikirannya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Alice dan Deniz sampai di kota tengah malam, rekan kerja Deniz pada berdatangan dan mengucapkan turut berduka cita. Semua keluarga beruraian airmata memakamkan Dona. Dhana terus terisak dalam dekapan calon Ibunya.


Setelah selesai memakamkan jenazah Dona di rumah keluarganya, Deniz membawa Alice dan Dhana pulang ke rumahnya. Karna kelelahan, Alice dan Dhana terlelap dalam perjalanan.


Deniz menghentikan mobilnya di depan pintu rumahnya, semua pelayan pada berdatangan dan menyambut kedatangan Tuannya. Tapi dengan isyarat jari, Deniz menyuruh mereka semua buat tenang. Dia tidak mau Alice dan Dhana terbangun karna kegaduhan mereka.

__ADS_1


Setelah menggendong tubuh Dhana ke kamarnya, Deniz kembali lagi dan mengangkat Alice dalam dekapannya. Semua pelayan terdiam dan heran melihat wanita yang saat ini ada di dalam pelukan atasannya.


"Maaf, Nak. Tapi siapa gadis cantik ini?" Bisik salah satu pelayan tua yang sudah menganggap Deniz seperti anak kandungnya sendiri.


"Calon mamanya Dhana, Nek. Tenanglah ... nanti dia terbangun," jawab Deniz, sambil berbisik pula.


Semua pelayan terkagum dengan kecantikannya. Deniz membawanya ke kamar utama dan membaringkan Alice sendirian disana. Setelah mengecup keningnya, Deniz pergi ke ruangan Dona dan mengenang saat-saat indah bersama istrinya disana. Dia berdoa demi ketenangan arwah Dona di alam yang berbeda.


Sepucuk surat terlipat di saku kemejanya, Dona menyuruhnya memberikan surat itu pada mantan kekasihnya, tapi karna hari sudah malam, Deniz menyimpannya dan akan di berikan pada kekasih Dona besok pagi saja.


Tak lama setelah dia menenangkan hatinya, ponselnya berbunyi, dengan cepat Deniz langsung mengangkatnya.


"Hallo, Tuan. Turut berduka cita atas meninggalkan istri, Tuan." Ucap penelpon itu membuka percakapan.


"Iya, terima kasih. Bagaimana kabar, Meliza?!" Seru Deniz, penasaran dengan nasibnya.


"Dia masih pingsan, Tuan. Kata Dokter kakinya bakalan susah buat berjalan, lukanya memang tidak terlalu parah, tapi kakinya ... sesuai dengan keinginan, Anda. Dia lumpuh." Jelas pria itu membuat Deniz, mengepalkan kedua tangan tidak terima.

__ADS_1


"Baguslah, kau jaga saja dirinya, jika ada kabar apa-apa. Jangan ragu untuk memberitahukan padaku." Perintah Deniz dan langsung mematikan ponselnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Alice membuka kedua matanya, suasana yang asing membuatnya terkejut dan langsung bangkit dari tempat tidurnya.


"Astaga! Ini dimana?!" Serunya melebarkan kedua mata, tidak percaya.


Kamar yang mewah, dekorasi yang indah, dan pemandangan penuh pesona di luar jendela benar-benar membuatnya kagum dan betah buat melihatnya. Dia mondar-mandir mengagumi seisi pemandangan di kamarnya. Saat sedang asik-asiknya melihat, pintu kamarnya terbuka dan seorang pelayan masuk sambil membawa pakaian untuknya.


"Selamat pagi, Nona. Anda sudah bangun? Oh ya! Ini pakaian buat, Anda. Maaf kalau sedikit terbuka, Tuan belum sempat membelikan pakaian ganti buat Anda. Selain datang malam, Tuan masih sedih mengingat kematian istrinya. Jadi pakaian bekas Nona Dona ini, Anda bisa memakainya." Jelas pelayan itu membuat Alice tersenyum.


"Baiklah, tidak apa-apa, di layani dengan baik saja, saya sudah bahagia. Saya akan segera memakainya." Jawab Alice dan pelayan ramah itu langsung meninggalkan kamarnya.


Alice membersihkan dirinya, setelah selesai, dia mengenakan pakaian bekas Dona. Alice merasa tidak nyaman, bukan karna pakaiannya bekas Dona, tapi bagian dadanya sangat terbuka. Rupanya Dona suka memakai pakaian seksi semasa hidupnya. Dengan gelisah Alice merias wajahnya, setelah dirasa cukup, dia keluar dari kamar dan kembali di buat terpesona oleh pemandangan seisi rumah besar Deniz Daniswara.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


TBC.


__ADS_2