
πππππππππ
Dhana menarik badan Alice yang baru saja lepas dari pelukan Ayahnya. Deniz salah tingkah, sementara Alice menatap tajam kearah matanya.
"Jangan lakukan hal seperti ini lagi, Pak Deniz! Aku tidak suka. Seharusnya orang dewasa seperti Anda bisa menjaga perasaan Nyonya Dona. Lagipula bukankah dirumah ini juga ada Nona Meliza? Kekasih Anda?! Bagaimana kalau mereka berdua tidak suka? Dasar lelaki buaya." Marah Alice, tidak suka pada Deniz yang tiba-tiba saja memeluk tubuhnya.
"Saya tidak perduli pada mereka, ini rumah Saya, jadi apa yang Saya lakukan, mereka harus terima." Bantah Deniz, tidak suka dengan ucapan Alice.
"Ck! Dasar ...,"
"Sudah cukup Pa, Kau membuat Kak Alice merasa tidak nyaman saja." Sela Dhana, agar Alice tidak marah, dan mau makan dirumahnya.
"Apa? Kau memanggilku dengan sebutan, Papa?!" Seru Deniz, heran melihat perubahan pada putranya. Biasanya Dhana selalu sinis dengannya, anak itu selalu memanggil ayahnya dengan sebutan Tuan. Tapi kali ini?! Deniz benar-benar dibuat kaget olehnya.
"Tentu saja, Kau adalah Papa-ku. Apa Aku salah jika memanggilmu dengan sebutan, Papa?" Kata Dhana, berusaha berkata lembut kepadanya. Sebenarnya Dhana masih membenci ayahnya. Pria itu selalu membela Meliza. Tapi kalau itu malah bisa membuat Meliza puas, maka Dhana akan merubah sikapnya. Dia menuruti perkataan Ibunya.
πflasback onπ
"Dhana," panggil Dona, pelan.
"Iya, Ma," jawab Dhana, penuh kasih sayang.
"Apa Kau sangat membenci Meliza?"
"Tentu saja, Ma. Dhana sangat membencinya. Itulah sebabnya Dhana juga sangat membenci Papa. Pria tidak berperasaan itu selalu membelanya." Marah Dhana, penuh dengan kekesalan dihatinya.
"Sekarang turuti kata Mama, Sayang. Bersikaplah lembut pada Meliza, minta maaf-lah pada Papa. Jangan membuat masalah lagi dengan mereka, terutama Papamu." Perintah Dona, yang sama sekali tidak di pedulikan oleh Dhana. "Sayang, Kau dengar perkataan, Mama. Kan?" Ulang Dona, mulai kesal.
"Tapi, Ma ...,"
"Dhana ..., Meliza sangat bahagia jika Kau bisa bertengkar dengan papamu. Dia ingin Kau terlihat buruk di mata Papamu. Dia ingin menunjukkan pada Papamu betapa buruknya Mama mendidikmu. Dengan begitu Papa akan selalu membecimu dan selalu mendukung sikap pura-pura baik Meliza." Jelas Dona, membuat Dhana terdiam, dan mulai mencerna kata-katanya.
__ADS_1
"Begitu ya, Ma?" Gumamnya pelan.
"Iya, Sayang. Kak Alice yang menunjukkan rencananya pada Kita."Β Jawab Dona, penuh kasih sayang.
"Jadi ini semua ide, Kak Alice?" Girang Dhana, bahagia.
"Iya, Nak. Ini semua atas perintah darinya."
"Baiklah, Dhana akan melakukannya. Yang penting, Mama bisa bahagia." Ucap Dhana dan langsung memeluk ibunya.
"Mama sangat mencintaimu, Nak."
"Dhana juga, Mama."
πflashback offπ
Dhana bahagia jika mengingat kata-kata Mamanya, sekarang ada Alice di hidupnya. Wanita itu akan selalu mendukung apapun yang dilakukannya.
"Kak, Alice." Singkat Dhana, membuat Meliza semakin terbakar amarah di hatinya.
"Alice?! Gadis manja itu?!" Seru Deniz, tidak percaya.
"Jaga ucapanmu, Pak Tua. Aku tidak manja," sela Alice, tidak terima.
"Iya, Pa. Kak Alice. Saat melihat dia bersikap hormat pada orangtuanya, Dhana mengaguminya. Dhana ingin punya Mama sepertinya," puji Dhana membuat Meliza kesal dan langsung mendekat kearah mereka bertiga. Sementara Alice, dia gelisah mendengar ucapan Dhana, Deniz tersenyum sambil menatap nakal ke arah mata tamunya.
Sementara Meliza, dia melangkahkan kakinya kesusahan, pinggangnya masih terasa sakit. Jatuh dikamar Dona tadi malam benar-benar membuatnya kesakitan.
"Aduh! Ah .., hallo Alice, kapan Kau datang. Tumben sekali," tanya Meliza, berusaha mengalihkan perhatian Deniz dari wanita mungil di hadapannya. Sudah susah payah dia menyingkirkan Moza, mantan kekasihnya, dan saat ini Dona. Belum berhasil, sekarang bertambah lagi, Alice. Meliza geram karnanya, wanita itu tidak akan membiarkan Deniz jatuh cinta kepada anak rekan kerjanya. Deniz hanyalah miliknya.
"Oh, baru saja, Nona Meliza. Ngomong-ngomong, ada apa dengan, Anda? Sepertinya kesakitan?" Tanya Alice, pura-pura simpati padanya. Padahal, dia yang sudah membuat Meliza seperti itu, tadi malam.
__ADS_1
"Di dorong oleh Dhana, tapi ya sudahlah, tidak apa-apa. Namanya juga anak kecil." Jawab Meliza, membuat Dhana geram dan langsung menatap tajam kearah matanya. Tapi tak berapa lama kemudian, berubah lembut.
"Maaf, Nona Meliza. Dhana tadi malam tidak sengaja. Papa marah besar gara-gara Saya mendorong Nona Meliza. Dhana memang tidak berguna. Maafkan Dhana, Pa, Nona Meliza." Ucap Dhana, sambil menciumi tangan mereka berdua. Alice dibuat tersenyum geli oleh perlakuannya, rupanya Dhana mau menuruti kata-katanya.
"Sama-sama, Nak." Jawab Deniz, mencair hatinya. Baru kali ini dia melihat kelembutan sikap putranya. Biasanya anak itu selalu kasar, apalagi kepada kekasihnya, Meliza.
"Ya sudah. Ayo makan, Alice." Ajak Meliza, membuat Dhana puas, karna mimik wajah Meliza tampak gelisah.
"Em ..., tidak perlu Nona Meliza. Saya pulang saja." Kata Alice, masih sakit hati dengan perlakuan Deniz.
"Alice, saat ini hatiku sedang bahagia, jadi Kau jangan merusaknya dengan cara marah seperti ini. Ayo makan!" Seru Deniz dan karna tidak sabar, langsung menggendong tubuh Alice dari depan.
Hati Alice berdebar-debar tidak karuan. Perlakuan Deniz benar-benar membuatnya kesal, tapi sekaligus juga gemetar. Dhana mengikutinya dengan senang dari belakang, sementara Meliza, dia lagi-lagi terbakar api cemburu. Dona menatap Dhana, Alice dalam gendongan suaminya, Meliza yang tidak di perdulikan oleh suaminya, semua itu merupakan pemandangan yang sangat indah di matanya, dia berharap, setelah kematiannya, mereka bertiga bisa bahagia.
"Turunkan Aku, Pak Tua! Hargai perasaan istri Anda. Dasar gila!" Seru Alice, meronta-ronta dalam gendongannya. Karna sudah sampai di meja makan, Deniz menurunkan tamu mungilnya.
"S-se-lamat, p-pagi, Alice." Ucap Dona, pura-pura gagap dihadapan keluarganya.
"Selamat pagi, Nona Dona," jawab Alice dan langsung mencium pipi kirinya.
Dona memeluk tubuh sahabatnya dan langsung membisikkan sesuatu di telinganya. "Sangat bagus, Sayang. Kau dan Deniz sangat serasi."
Mendengar kata itu, Alice langsung melepaskan pelukannya dan duduk di meja makan, tanpa disuruh Alice langsung makan apapun yang ada di hadapannya. Alice kesal dengan Dona. Bagaimana mungkin wanita itu menjodohkan dia dengan suaminya.
"Dasar aneh, kalian semua ..." Bathinnya, kesal.
πππππππππππ
Terima kasih ya, sudah mau baca.
Jangan lp bahagia. Tekan love dan jempolnya
__ADS_1
TBC.