GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB 33


__ADS_3

Deniz mondar mandir mencari putranya, sejak kejadian di pesta, Deniz lebih memikirkan Alice dan sampai melupakan putranya, dia takut sesuatu yang buruk terjadi padanya, semua pelayan di rumahnya dia tanyai tapi tidak satupun orang yang tahu, Deniz murka dan memarahi mereka, disaat sedang cemas-cemasnya, panggilan anak kecil mendinginkan amarahnya.


"Papa," panggilan Dhana membuat Deniz lega.


"Nak! Darimana saja, kau?!" Seru Deniz khawatir.


"Dari tempat pemadaman lampu, Pa. apa mama baik-baik saja?" Tanya Dhana, cemas memikirkan ibunya.


"Mamamu tadi sempat berubah, Nak. Untunglah lampunya padam, apa kau yang melakukannya?"


"Iya, Pa. Dhana yang melakukannya, kakek Pramuja yang menyuruh Dhana," jelas Dhana membuat Deniz bangga.


"Astaga! Kau sangat hebat, Nak. Papa bangga padamu, masih kecil sudah bisa melindungi ibumu, kau yang terbaik," puji Deniz dan langsung memeluk putranya.


"Bagaimana dengan mama, pa?" Ulang Dhana memastikan kondisi ibunya, dia benar-benar takut jika ibunya celaka untuk yang kedua kalinya.


"Dia ... "


"Aaakkhhhh!!" Teriakan Alice membuat Dhana dan Deniz panik.


"Alice?!" Seru Deniz dan langsung menghampirinya bersama Dhana.


"Aaaakkkhhh!! Sakitttt!!" Alice kembali berteriak sambil mengguling-gulingkan badannya. Badan setengah ularnya membuat Deniz cemas dan langsung mengunci pintu kamarnya.


"Mama!! Mama kenapa?!" Tanya Dhana, khawatir.


"Keluar!! Pergi Dhana!! Mama baik-baik saja!" Jawab Alice, sambil menarik rambut di kepalanya. Tubuhnya bagai ditusuk ribuan jarum, proses ganti kulit kali ini benar-benar menyiksanya.


"Alice! Aku akan panggil dokter, Sayang."


"Tidak!! Jangan panggil dokter! Bawa Dhana keluar, kak Deniz!! Cepat!!" Bentak Alice, tidak mau melihat Dhana takut dengan perubahannya.


"Tapi, Ma."


"Dhana! keluar!!" Usir Alice, membuat Dhana meneteskan airmata.


Deniz panik dan membawa Dhana keluar dari kamar, karna bingung harus berbuat apa? Deniz menghubungi Pramuja.

__ADS_1


"Hallo, Pa. Alice kesakitan, Pa! Apa yang harus aku lakukan?!" Tanya Deniz setelah Pramuja mengangkat telponnya.


"Biarkan saja, Deniz. Alice sudah biasa merasakannya, dia gadis ular, dan ular manapun pasti akan kesakitan jika mengalami proses ganti kulit. Jangan ganggu dia, di saat seperti ini dia mudah sekali marah, dia tidak suka keramaian, hatinya selalu gelisah. Tapi percayalah, setelah melewati semua ini dia akan bertambah kuat dan semakin cantik," jelas Pramuja membuat Deniz tegang sekaligus cemas mendengarnya.


"Aku tidak butuh dia cantik, Pa. Aku tidak tega melihat dia kesakitan," ucap Deniz, gelisah memikirkan kekasihnya.


"Mau bagaimana lagi, Deniz? Itu sudah menjadi takdir hidupnya, Alice menanggung dosa nenek moyangnya, kau bersabarlah, hibur dirinya dan untuk saat ini jangan ganggu dia."


"Baik, Pa. Terima kasih, percayalah, aku pasti akan menjaga Alice."


"Aku percayakan putriku kepadamu, Deniz, jaga dia dan jangan sakiti hatinya."


"Aku bersumpah tidak akan menyakiti hatinya, Pa," janji Deniz dan langsung menutup telponnya.


Dhana memeluk papanya, dia cemas memikirkan ibunya. "Pa, apa mama akan baik-baik saja?" Lirih Dhana, tidak tega pada ibunya.


"Mamamu akan baik-baik saja, Nak. Untuk saat ini jangan ganggu dia."


"Baiklah, Dhana tidak akan mengganggunya, Papa jaga mama, ya."


๐ŸBeberapa hari kemudian ... ๐Ÿ


Alice terbaring lemah diranjangnya, Deniz tidur di sisi kanannya, sementara Dhana tidur di sisi kirinya. Alice masih berbentuk ular, sebagian kulitnya sudah terlepas, Deniz menciuminya tanpa ada rasa jijik sedikitpun meski wujud Alice berbentuk hewan, demikian juga dengan Dhana, kadang dia mengelus kepala ular ibunya dan sesekali menciumnya.


"Pa, kapan mama akan berubah jadi manusia?" Tanya Dhana, tidak sabar melihat ibunya diam saja.


"Kemungkinan nanti malam, Nak. Kakekmu Pramuja bilang ini sudah saatnya mamamu berubah jadi manusia," hibur Deniz, menenangkan putranya.


"Ck, lama sekali," gerutu Dhana, tidak sabar.


Alice mendengar ucapan Dhana dan sedikit demi sedikit berusaha melepaskan sisa kulit lama di tubuhnya. Benar kata Pramuja, kulit Alice jadi lebih cerah dan bersinar dari sebelumnya. Dhana bahagia melihat ibunya bergerak.


"Pa! Mama bangun, Pa!" Seru Dhana bahagia.


Setelah kulit lamanya terlepas semua, Alice merubah dirinya jadi manusia hingga membuat Deniz dan Dhana terpana, Alice jadi semakin cantik dan tampak lebih muda. Deniz bahagia melihatnya dan ingin langsung melumat bibir kekasihnya tapi Alice menghindar.


"Tunggu," kata Alice membuat Deniz heran.

__ADS_1


"Aku sangat merindukanmu, Sayang, jangan menghalangiku buat mencium bibirmu," protes Deniz, pelan.


"Tidak ada yang boleh menciumku sebelum Dhana, aku adalah ibunya, dan ibu manapun akan lebih mengutamakan putranya," ucap Alice membuat Dhana terharu dan langsung menciumi wajah ibunya. Matanya tampak berkaca-kaca, demikian juga dengan Alice. Dia terharu melihat Dhana begitu sangat mencintainya.


"Mama, aku sangat mencintaimu, Ma. Apa mama baik-baik saja?" Tanya Dhana, dalam dekapan ibunya.


"Kalau anaknya sebaik dan sepintar Dhana, bagaimana mama bisa terluka, Sayang. Aku baik-baik saja, maafkan mama ya, Nak. Mama sempat membentak Dhana, hukum mama," sesal Alice, dan terus menciumi wajah putranya. Dia masih teringat dengan jelas, betapa Dhana terluka saat Alice meyuruhnya keluar dari kamarnya. Dia tidak mau Dhana melihat dirinya menderita.


"Mama tidak bersalah, Ma. Tapi kalau mama meminta hukuman, baiklah! Cepat menikah dengan papa dan jadilah mama yang sesungguhnya buat Dhana, itu hukuman yang pantas buat mama," ucap Dhana membuat Alice dan Deniz tertawa.


"Mama sangat setuju, Sayang. Tapi bagaimana dengan papamu? Apa dia mau menikah dengan gadis ular seperti mama?" Goda Alice, menatap nakal mata kekasihnya, karna gemas, Deniz segera meraih badan Alice dan menciuminya sampai puas.


"Mmmpphhh, lepaskan aku, kak Deniz. Ada Dhana."


"Biarkan saja, Dhana sangat bahagia melihat papa dan mamanya bersama."


"Em ... Dhana akan keluar dan main bersama para pelayan saja, papa di sini dan rayu mama agar cepat mau menikah dengan papa, ok," ucap Dhana dan langsung meninggalkan mereka berdua. Alice tertawa melihat tingkahnya, demikian pula dengan Deniz.


"Sudah tidak ada lagi penghalang, Sayang. Meliza gila dan menunggu masuk penjara, Dona mengharapkan kita cepat menikah lantas mengapa kau suka menundanya, Sayang? Ayo kita menikah," paksa Deniz membuat Alice tersenyum bahagia.


"Baiklah, ayo kita menikah, lalu bagaimana dengan papa dan mama?" Tanya Alice karna kepulangannya ke rumah di tunda.


"Mereka akan menikahkan kita di sana, Sayang. Tapi sebelum kita pulang kesana, kita menikah disini terlebih dahulu."


"Jadi kita nikah dua kali dong?"


"Iya, apa kau keberatan?"


"Tentu saja, tidak. Ayo kita menikah, kapan?"


"Besok kita beli baju pengantin dan lusanya menikah, ok."


"Ok," setuju Alice dan langsung sembunyi dalam pelukannya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


TBC.

__ADS_1


__ADS_2