
Deniz menatap geli pada seorang gadis yang kini tengah menyembunyikan wajahnya di balik selimut, hati Deniz menghangat, betapa gadis yang membuatnya gemas selama beberapa hari ini mengucapkan cinta kepadanya. Dia merasa sangat bahagia, tapi di balik itu semua, kekhawatiran akan keadaan tubuhnya yang penuh luka kembali membuatnya tegang.
Dia langsung bangkit dari ranjang dan menghubungi Dokter. "Hallo, Dokter? Kenapa Anda belum datang?! gadis saya terluka, cepatlah sedikit!" Serunya cemas. Sejak tadi Alice hanya di tangani oleh Dokter hewan, saat berubah jadi manusia, luka di beberapa bagian tubuhnya melebar.
"Sebentar lagi sampai, Tuan Deniz, bersabarlah," jawab Dokter itu membuat Deniz lega.
"Baiklah, cepat sedikit, Dokter."
"Tentu." Ucap Dokter itu dan langsung mematikan ponselnya.
Deniz menangkupkan kedua tangannya dan meletakkannya di wajah, dia gelisah jika bagian tubuh Alice ada yang terluka parah. Tak berapa lama kemudian, Ponsel Deniz kembali berdering, kali ini orangtua Alice yang menghubunginya, Deniz bingung harus berkata apa? Disisi lain dia sudah bersumpah akan menjaga Alice dan di sisi yang lainnya lagi, Alice terluka gara-gara dia lalai menjaganya.
"Astaga ... "desahnya frustasi.
Seperti tahu akan kegelisahan Deniz, Alice membuka selimutnya. "Siapa?" Tanyanya cemas.
"Em ... orangtuamu," jawab Deniz, pelan.
"Sini, biar aku yang mengangkatnya," pinta Alice sambil mengulurkan tangannya.
"Tidak, Alice. Aku bukan pengecut, aku siap menghadapi kemarahan orangtuamu. Aku akan berkata jujur padanya." Bantah Deniz dan akan mengangkat telponnya.
"Tunggu! Aku tahu kau bukan pengecut. Tapi jika orangtuaku tahu keadaanku. Mereka bakalan jatuh sakit. Mana! Akh ... " paksa Alice membuat luka di tubuhnya terasa sakit.
"Alice!" Seru Deniz, khawatir. Karna tidak mau membuat luka di tubuh Alice semakin parah, Deniz memberikan ponselnya. "Baiklah, ini." Ucapnya mengalah. Tatapan kecewa tersirat di mata jernihnya.
"Maaf, Kak Deniz, kalau sampai Papa tahu keadaanku, dia bisa menghabisimu. Racun Papa sangat berbisa, aku tidak mau kau tiada gara-gara kemarahannya." Bathinnya lega.
Setelah menerima ponsel darinya, Alice mengangkat telpon dari orangtuanya. "Hallo, Pa, Ma!" Serunya bahagia.
"Alice! Kemana saja kau?! Kenapa ponselmu mati?! Apa yang terjadi?! Di mana Deniz?! Apa Pria itu bisa menjagamu?! Kalau terjadi sesuatu, maka cepat katakan padaku! Alice?! Kenapa kau diam saja?! Hah?!" Racau Zahra, membuat Alice tertawa.
"Mama, bagaimana Alice bisa menjawabnya. Mama dari tadi terus bicara." Ucapnya sambil tertawa.
__ADS_1
"Ya sudah, bagaimana keadaanmu di sana, Nak? Apa pria itu menjagamu dengan baik, kapan kalian akan kembali ke sini? hem?" Tanya Pramuja membuat Alice langsung menjawab pertanyaannya, dia tidak mau ayahnya tahu keadaannya.
"Pa, Alice sangat bahagia tinggal di sini, orangnya baik-baik, Kak Deniz juga menjagaku dengan baik, dan satu lagi, Dhana, dia sangat bahagia aku tinggal di rumahnya. Biarkan Alice tinggal beberapa hari lagi ya, Pa? Alice mohon, Pa. Selama ini Alice belum pernah menikmati keindahan dunia, Alice selalu Mama dan Papa kurung di rumah, saat mengantar Jenazah Kak Dona, Alice terpesona dengan keindahan kota dan rumahnya. Jadi ... saat ini Alice belum ingin kembali. Boleh ya, Pa?" Pintanya mengharap.
"Tapi ... kau tidak apa-apa kan?" Selidik Pramuja, penuh penekanan.
"Alice baik-baik saja, Pa. Justru kalau Papa menyuruh Alice kembali kerumah, baru tidak baik-baik saja." Ucapnya muram.
"Baiklah, tapi ingat! Satu minggu saja, dan jaga dirimu baik-baik."
"Oh, tentu saja, Pa. Terima kasih ... " ucapnya bahagia. "Oh ya! Ma, jangan merindukan Alice, ya." Godanya membuat Zahra tertawa.
"Tentu saja, Nak. Aku tidak akan merindukanmu, bahagialah di sana, dan ingat! Satu minggu saja." Ucap Zahra dan langsung menutup telponnya. Deniz menatap penuh pesona di sebelahnya.
"Kenapa kau tidak jujur saja pada mereka, Alice?" Tanyanya penuh tekanan.
"Kan sudah aku jawab, aku tidak mau membuat mama dan papa jatuh sakit." Jawab Alice salah tingkah.
"Kau tidak ingin membuat mereka sakit atau tidak mau aku di sakiti oleh mereka, hem? Kalau kau jujur pada papamu, aku tidak apa-apa jika harus disiksa, Alice. Aku telah lalai menjagamu." Sesal Deniz, benar-benar merutuki kebodohannya. "Seharusnya aku membawamu ke kantor. Aku seharusnya tahu kalau kau sewaktu-waktu bisa berubah jadi ular, lagipula ... kau menderita seperti ini gara-gara ingin membuat Dhana bahagia, bukan? Maafkan aku, Alice." Ucap Deniz dan Alice langsung memegang tangannya.
"Ada."
"Oh ya? Apa?"
"Ucapanmu," jawab Deniz, sambil terus tersenyum ke arahnya.
"Kenapa dengan ucapanku?"
"Baru kali ini kau bicara lembut kepadaku, Alice, biasanya kau selalu ketus dan sering mengataiku, Pak Tua, Pria tidak berperasaan, suami tidak tahu diri, apa sekarang kau berubah?" Godanya membuat Alice gelisah.
"Ti-tidak. Aku masih tetap sama," sungutnya kesal.
"Oh ya? Apa katamu tadi?" Tanya Deniz berusaha menggodanya.
__ADS_1
"Ka-kata yang mana?" Tanya Alice salah tingkah, jantungnya berdebar-debar tidak karuan.
"Kata sebelum aku menelpon Dokter, kata yang setelah mengucapkannya kau bersembunyi di balik selimut." Jawab Deniz semakin membuat pipi Alice bersemu merah karna malu.
"A-aku lupa."
"Kau ingat, Alice. Ayo, katakan sekali lagi." Paksa Deniz sambil menciumi lehernya. Tubuh Alice gemetar.
"Ah ... a-aku mencintaimu, Kak Deniz," lirihnya hampir tidak terdengar.
"Ya ... kata itulah yang ingin aku dengar, Alice, aku juga mencintaimu. Bahkan saat baru pertama kali bertemu aku sudah jatuh hati kepadamu, aku tidak bisa mengucapkannya saat itu karna aku terlihat buruk di matamu, selain itu juga masih ada Dona dan Meliza di sebelahku. Tapi sekarang ... tidak ada Meliza, tidak ada Dona, yang ada hanya Alice saja. Kau mengerti, kan? Hem ...? Sayang ... " desah Deniz membuat Alice semakin bergetar.
"I-iya kak ... a-ku mengerti. Ah ... tapi ... kak Dona harus selalu ada di hati kita."
"Pasti, Sayang ... selamanya."
"Mmmppphhhh ... kak Deniz ... "
"Aku mencintaimu, Alice ... "
Ting tong!
Suara bel pintu menghentikan cumbuan Deniz, dengan kesal dia menjauh dari kekasihnya. "Sialan! Siapa pengganggu itu?!" Umpat Deniz, geram.
"Pak Dokter, apa kau lupa, Kak? Kau tadi yang memaksanya agar cepat datang." Jawab Alice sambil tersenyum geli melihat tingkahnya.
"Kau benar," gumam Deniz dengan wajah datar. Alice tertawa melihat tingkah lakunya.
ππππππππππ
Yang suka, vote dan komen yaaaa
ππππππ
__ADS_1
TBC.