
Pemilik butik yang dulu merancang pakaian pengantin Deniz dan Dona, kini tersenyum kembali melihat Deniz Daniswara datang ke tokonya, dia tersenyum ramah melihat Alice dan mengulurkan tangan kanannya mengajak kenalan. "Hallo, namaku Niken, langganan Tuan Deniz, senang bisa berkenalan dengan, Anda," sapa Niken, bahagia.
Dengan balas tersenyum ramah pula, Alice membalas uluran tangannya. "Oh, hallo juga, aku Alice," jawabnya pelan.
Niken senang melihat senyuman Alice, benar kata media, selain baik, Alice sangat cantik.
"Bagaimana kabarmu, Niken?" Tanya Deniz, terlihat akrab dengannya.
"Aku baik-baik saja, Tuan Deniz. Calon istri Anda sangat cantik, silahkan melihat-lihat baju pengantinnya," ucap Niken mempersilahkan mereka berdua.
"Tentu saja, ayo, Sayang," ajak Deniz, menggandeng tangan kekasihnya.
Deniz membawa Alice ke ruangan yang isinya baju pengantin semua, Alice terpesona melihatnya, berbagai baju indah nan mewah terpampang di hadapannya, seumur hidup, baru kali ini dia melihat keindahan dunia, orangtuanya dulu selalu mengurungnya, mereka tidak mau Alice keluar terlalu lama. Jangankan jalan-jalan ke toko pakaian, keluar rumah sebentar saja sudah dicari.
"Hem ... " helanya saat mengingat kejadian seperti itu.
"Kenapa, Sayang?"
"Eh! Tidak apa-apa, kak Deniz. Hanya saja, semua gaunnya sangat indah. Aku bingung harus pilih yang mana?" jawab Alice, terpana melihat keindahannya.
"Apakah kau menyukainya, Sayang? Kau ingin aku membeli semuanya? Hem? Katakan saja, aku akan memborong semua bajunya," ucap Deniz membuat Alice tertawa.
"Tidak! Tentu saja tidak, satu saja sudah cukup, kak Deniz," jawab Alice gembira.
Deniz mengecup keningnya, dia tersenyum geli melihat tingkah lucu kekasihnya, Deniz duduk di sofa dan melihat gerak gerik calon istrinya, Niken datang dan membawa Alice ke tempat yang lebih ke dalam lagi. Deniz hanya diam saja saat Niken membawa kekasihnya memilih pakaian.
"Eh, kenapa kau membawaku kesini?" Tanya Alice, penasaran.
"Aku ada gaun yang dulunya di pesan Tuan Deniz tapi tidak jadi, Nona Alice. Siapa tahu saja Anda suka," jelas Niken membuat Alice tidak sabar ingin melihatnya.
"Memangnya kenapa? Kok tidak jadi?" Tanya Alice, ingin tahu alasannya.
__ADS_1
"Dulu gaun ini adalah pesanan Nona Moza, cinta pertama Tuan Deniz, berhubung dia menghilang, maka gaun ini tidak jadi di beli," jawab Niken sambil menunjuk kearah gaun berwarna putih tulang, perpaduan dengan warna emas di bagian pinggangnya, Alice semakin melebarkan kedua matanya tidak percaya, gaunnya sangat indah, Deniz pasti sangat mencintai kekasih pertamanya.
"Astaga! Indah sekali!" Seru Alice, geleng-geleng kepala. "Kenapa tidak kau jual saja, toh Moza tidak jadi memakainya," ucap Alice membuat Niken bungkam.
Alice heran melihat wajah pucatnya, Niken seperti menyembunyikan sesuatu darinya, karna semakin penasaran, Alice kembali bertanya. "Hei, kenapa diam saja? Katakanlah, aku mohon," ucap Alice, penuh harap.
"Tu-tuan Deniz telah membelinya, jadi aku tidak bisa menjualnya, dia bilang jika Moza kembali, maka gaun itu akan jadi miliknya. Tapi entahlah! Sampai sekarang dia menghilang," jawab Niken dan tiba-tiba saja hati Alice terluka.
Deniz sudah mempunyai gaun pengantin buat Moza, kenapa dia sibuk membeli baju pengantin baru untuknya?! Bukankah kedudukan Moza sudah digantikan olehnya? Alice jadi sakit hati saat memikirkannya, demi menguji cintanya, Alice ingin melakukan sesuatu padanya.
"Ya sudah, aku memilih baju ini buat hari pernikahanku," ucap Alice, memantapkan pilihannya. Niken memucat mendengar ucapannya.
"Ta-tapi jangan bilang padanya, jika aku memberitahumu tentang gaun ini ya, Nona," ucap Niken, merasa gelisah.
"Kau tenang saja, aku tidak akan memberitahu dia," jawab Alice, menenangkan orang yang baru saja dikenalnya.
"Baiklah, terima kasih, Nona Alice," lirih Niken, tidak enak hati.
Tak berapa lama kemudian, Deniz datang dan memeluk Alice dari belakang. "Bagaimana? Apa kau sudah memilih bajunya?" Tanya Deniz, lembut pada kekasihnya.
"Benarkah? Yang mana?" Tanya Deniz, tidak sabar.
"Yang itu," tunjuk Alice pada gaun yang kata Niken adalah milik Moza.
"Apa?!" Deniz terkejut dengan pilihannya, dia membawa Alice jauh dari tempat itu dan menatap matanya.
"Kau tidak akan memakai baju pengantin itu, Alice!" Seru Deniz, tidak suka.
"Kenapa?!" Tanya Alice, bisa menebak pikirannya, Deniz melarangnya pasti karna baju itu adalah milik Moza.
"Kau tidak cocok memakainya, silahkan pilih baju yang lain saja!" Seru Deniz membuat Alice terluka.
__ADS_1
"Tapi aku mau baju yang itu, kak Deniz," protes Alice, memaksa.
"Sekali tidak tetap tidak Alice. Jangan keras kepala," ucap Deniz, tidak mau dibantah.
"Ya sudah! Kau pilihkan baju untukku saja!" Seru Alice dan langsung menghindar darinya.
Alice mengecek harga yang tertera di gaun pengantin milik Moza, harganya sangat fantastis, pantas saja Deniz melarangnya, baju itu pasti tidak pantas dipakai olehnya, Alice terluka dengan perlakuannya.
"Alice! Kemarilah, Sayang. Lihatlah! Gaun ini sangat cocok untukmu," panggil Deniz dan Alice langsung mendekat ke arahnya.
Gaun pengantin berwarna pink muda berada ditangannya, dengan malas Alice memeriksanya, tanpa sengaja Alice melihat harga yang tertera dibelakangnya, lebih murah dari baju pesanan Moza, Alice meneteskan airmata tidak terima.
"Kenapa kau tidak peka sekali kak Deniz?! Apa cintamu pada Moza masih ada?! Keterlaluan!" Bathin Alice, meremas kuat gaun pilihan calon suaminya.
"Kenapa? Apa kau tidak suka, Sayang? Kita bisa pilih yang lain," hibur Deniz sambil mengusap kepalanya.
"Tidak! Yang ini saja, aku sangat menyukainya," ucap Alice membuat Niken merasa bersalah kepadanya. Tidak seharusnya dia memberitahu Alice, perihal baju Moza.
"Baiklah, bungkus yang ini saja, Niken."
"Iya, Tuan Deniz, tunggu sebentar," ucap Niken dan langsung menjalankan perintahnya.
Alice menundukkan kepalanya, hatinya terluka, pikirannya resah, Deniz meraih dagu kekasihnya dan mencium bibirnya.
"Maafkan aku, Sayang, tidak seharusnya aku memarahimu tadi," sesal Deniz, di sela-sela ciumannya.
"Tidak masalah, pilihan orang bisa beda-beda bukan?" Jawab Alice, muram.
Setelah membayar gaun pengantinnya, Deniz membawa Alice ke toko perhiasan dan membelikan satu set buat Alice. Rasa bahagia yang tadi sempat melanda hati Alice tiba-tiba hilang begitu saja. Ingatan baju pengantin Moza masih membekas kuat di ingatannya. Dia terluka karna Deniz melarang Alice memakai baju pengantin milik cinta pertamanya. Itu berarti Deniz masih mengharapkan kehadirannya.
"Ya Tuhan ... apa hamba terlalu berlebihan?" Bathin Alice, resah hatinya.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
TBC.