
Alice salah tingkah saat Deniz menatapnya dengan seksama, dia tidak biasa dipandang oleh seorang pria, terlebih lagi saat ini dia tinggal di rumahnya. Rasa cemas menggelitik hatinya, semua pelayan juga pergi meninggalkan dia dan Deniz berdua. Dengan canggung, Alice mendekatinya, dia berusaha setenang mungkin dan seolah biasa saja meski baju yang dipakainya sangat terbuka, terutama di bagian dada.
"Em ... apa Dhana sudah bangun?" Tanya Alice, salah tingkah.
"Dia masih tidur, biarkan saja, semalam dia terbangun dan mengajakku jalan-jalan." Jawab Deniz dengan suara seraknya yang khas.
"Apa dia sudah makan?" Cemas Alice membuat Deniz tersenyum geli ke arahnya.
"Dia sudah makan, Alice. Tenanglah. Sekarang duduklah di sini dan gantian kau yang makan, aku tidak mau membuat orangtuamu marah dan menuduhku tidak memberimu makan." Goda Deniz semakin membuat Alice gelisah.
"Aku akan makan, tapi ... soal pernikahan ..."
"Kenapa soal pernikahan? Apa kau keberatan?" Selidik Deniz membuat Alice salah tingkah.
"Tuan ... kau tahu sendiri kan ... aku ..."
"Wanita yang bisa berubah jadi ular. Iya kan? Lalu apa masalahnya?" Sela Deniz, seakan tahu kecemasan hati Alice.
"Kak Dona ... memaksa kita buat menikah, kalau kau keberatan sebaiknya jangan dilakukan. Aku akan tetap jadi mamanya Dhana meski tidak harus menikah, kau ... carilah wanita yang sempurna. Jangan seperti diriku. Aku adalah ... manusia setengah binatang." Jelas Alice dengan tubuh gemetar. Dia benar-benar tidak mau membuat orang di sekitarnya susah gara-gara dirinya.
Deniz bangkit dari tempat duduknya, dia menghampiri Alice dan langsung memeluknya. "Alice ... jangan pikirkan tentang nasib hidupmu. Kadang ... ada juga manusia sempurna yang kelakuannya bejat melebihi sifat binatang. Yang terpenting, lakukan apa yang menurutmu benar, jangan merugikan orang lain, aku yakin, dibalik sikap kuatmu ini, kau adalah wanita yang lembut. Sekarang katakan padaku, berapa temanmu saat sekolah?" Goda Deniz sengaja membuatnya semangat.
"Tidak ada."
"Astaga! Benarkah?! Bagaimana bisa?" Heran Deniz sambil mengusap lembut rambutnya. Dia paham, wanita seperti Alice hidupnya pasti sangat menderita, mungkin diluar dia sangat bahagia, tapi di dalam hatinya? Dia pasti terluka dan merasa kesepian.
"Papa dan Mama melarangku agar tidak berteman dengan manusia. Dia takut aku berubah jadi ular di hadapan mereka, Mama tidak ingin aku di hajar oleh warga, itulah sebabnya aku tidak keluar rumah kalau bukan karna terpaksa. Kadang meskipun keluar rumah, mata tajam Papa selalu mengawasiku. Ini pertama kalinya aku pergi jauh dari rumah dan bebas dari mata tajam, Papa." Jelas Alice membuat Deniz terdiam. Meski dia manusia setengah ular, Deniz sama sekali tidak mempermasalahkannya, justru dia bangga karna selain orangtua Alice dan putranya, dia tahu wujud Alice yang sesungguhnya. Deniz akan menjaganya, tak akan dia biarkan orang lain menyakiti dirinya.
"Hem ... ya sudah. Tapi sekarang kau punya teman, kan? Aku akan menjagamu Alice." Ucap Deniz membuat Alice langsung menjauh dari pelukannya
"Kau merayuku, ya? Aku tidak mau menikah denganmu, Pak Tua!" Seru Alice kesal.
__ADS_1
"Aku akan memaksamu." Goda Deniz sambil terus menatap matanya.
"Aku tidak takut."
"Kalau bagitu aku akan membongkar rahasiamu."
"Kau berani melakukan itu?! Bongkar saja!" Sungutnya semakin kesal.
"Kalau kau tidak takut dengan ancamanku, maka aku akan memperkosamu," ucap Deniz dan kali ini sukses membuat Alice bungkam.
Deniz tertawa geli melihat tingkahnya, betapa Alice bisa membuatnya gembira. Selama ini hanya ibunya dan Moza yang bisa membuatnya bahagia, tapi sekarang! Gadis mungil di hadapannya bisa membuatnya tertawa.
"Kenapa diam? Kau takut dengan ancamanku? Hem?" Ucap Deniz sambil terus menatap matanya.
"A-aku sama sekali tidak takut. Aku wanita yang bisa berubah jadi ular. Kalau kau macam-macam, aku akan membuatmu menderita. Aku akan membunuhmu. Taringku sangat tajam dan bisaku sangat mematikan. Jadi ... jangan macam-macan dengan gadis ular bernama Alice Pramuja, Tuan." Ancam Alice membuat Deniz semakin gemas dan mendekat kearahnya. Diraihnya badan Alice dan langsung dia angkat kedalam dekapannya, bibirnya yang merah menggoda jadi sasaran bibir tebalnya. Deniz menciumnya, Alice hanya pasrah di dalam cumbuannya.
"Mmmpphhh ... aku sangat takut Alice, tapi di balik ketakutanku itu, aku sangat menginginkanmu, bagaimana dong?" Rayu Deniz, semakin menekan badan Alice agar merapat pada badannya.
"Sayang ... umurku baru tiga puluh tahun. Aku masih sangat kuat dan muda. Sementara kau! Umurmu baru dua puluh tahun. Sangat kecil dan manja. Kita hanya beda sepuluh tahun anak manis. Jadi ... apa kau yakin tidak mau menikah dengan duda kaya, muda, dan tampan ini?" Godanya semakin membuat Alice gelisah.
"Apa kau ingin aku berubah jadi ular dan mencekik lehermu?!" Seru Alice membuat Deniz langsung melepaskan pelukannya. Dia tidak takut dengan ancamannya, tapi dia takut jika orang lain tahu tentang dirinya. Semua pelayan di rumahnya pasti akan menyakitinya. Deniz tidak mau membuatnya terluka.
"Astaga! Aku sangat takut, Alice. Cekikan ularmu pasti sangat kuat. Astaga ... aku takut sekali. Bisa-bisa aku mati. Ya sudah, makanlah, silahkan," Deniz pura-pura gugup hingga membuat Alice tertawa.
"Aku tidak mengira pria tua seperti, Anda, takut pada gadis manja." Ucapnya membuat Deniz gemas dan ingin sekali lagi memberikan ciuman pada bibirnya. Tapi tidak, Deniz harus menahannya, dia tidak mau Alice tidak nyaman gara-gara dirinya.
Deniz menyiapkan piring dan gelas Alice agar gadis itu segera makan. Deniz langsung duduk di sampingnya dan makan pagi bersamanya.
"Hem ... ini enak sekali, Tuan Deniz. Pelayan Anda, sangat luar biasa!" Seru Alice, menikmati makanannya.
"Habiskan semua kalau kau suka."
__ADS_1
"Wah ...! Benarkah?! Uhuk!"
"Pelan-pelan Alice. Kau bisa tersedak," ucap Deniz dan langsung menepuk-nepuk pelan punggungnya
"Iya, terima kasih, Tuan."
"Alice ... "
"Iya," jawab Alice sambil makan.
"Bisakah kau memanggilku dengan sebutan nama saja? Jangan terlalu formal."
"Tapi itu tidak pantas."
"Baiklah. Bagaimana kalau, Sayang saja?" Ide cemerlang Deniz membuat Alice melebarkan kedua mata tidak terima.
"Kak Deniz saja. Ok." Usul Alice membuatnya tertawa.
"Baiklah, panggil aku Kak Deniz, ular kecil ... "
"Apa?!"
"Iya, ular kecil."
"Kak Deniz! Kau?!"
"Habiskan makananmu."
πππππππππππππ
TBC.
__ADS_1