GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 25


__ADS_3

Alice merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dia percaya dengan orang seperti Deniz Daniswara?! Dona yang sejatinya adalah istri sah-nya saja dia abaikan, bagaimana dengan dirinya?! Dalam hidup Deniz hanya ada Meliza. Nama Dona dan Alice hanya sebagai mainan untuknya.


"Kurang ajar," geram Alice dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimana bisa kau bermesraan dengan Meliza, Deniz!! Kau bahkan mengajaknya memasuki kamar! Saat aku mengintai kalian dalam wujud ular kecil, apa yang kalian rencanakan?! Kalian ingin menghabisiku?! Kau menuduhku telah menghabisi istrimu! Keterlaluan! Bahkan kau bilang hanya demi Dhana kau membawaku kesini. Kurang ajar! Papa ... " lirih Alice, terluka hatinya.


"Mama, buka pintunya, bukankah kau baru saja keluar dari kamar, Papa? Kenapa kau masuk lagi ke kamarmu dan diam saja. Mama!" Seru Dhana yang sama sekali tidak diperdulikan oleh Alice.


Mendengar keributan di luar, Deniz merebahkan badan Meliza di kamar, dan setelah itu, dia keluar. Dia heran melihat Dhana menggedor kamar Alice.


"Ada apa, Nak?" Tanya Deniz sambil menatap wajah putranya yang pucat.


"Mama, Pa! Dia marah melihat Papa mencium Nona Meliza. Setelah Papa membawa Nona Meliza ke kamar, tak lama kemudian mama keluar dalam bentuk ular dan memasuki kamar papa dan Nona Meliza. Setelah keluar dari kamar papa, entah kenapa mama mengurung diri di kamar," jelas Dhana membuat Deniz terkejut tapi tetap tenang.


"Benarkah?!"


"Iya, Pa. Memangnya apa yang papa bicarakan dengan Nona Meliza? Mama marah besar, Pa. Meski dalam wujud ular, Dhana tahu kalau sinar matanya memancarkan kesedihan." Ucap Dhana, membuat Deniz tersenyum menenangkan hati anaknya.


"Ya sudah, kau istirahat saja, Nak. Mama tidak akan kenapa-kenapa. Papa bersumpah! Biar Papa yang bicara sama mama, ok."


"Iya, pa," jawab Dhana dan langsung memasuki kamarnya.


Setelah semua tidak ada, Deniz menghubungi dokter yang dulu sering dibayar Meliza untuk menyakiti Dona, Meliza sering memesan obat yang bisa membuat orang jadi gila, kepadanya.


Sekarang! Demi melindungi calon istrinya, Deniz akan melakukan apa saja. Termasuk membuat Meliza jadi gila. Jika suatu saat dia membongkar rahasia Alice yang sejatinya adalah gadis ular, orang tidak akan percaya. Ini hukuman karna dia sudah mencelakai Dona dan Alice, calon istrinya.


"Hallo, Dokter. Kau ingin aku memaafkanmu, kan?" Tanya Deniz, penuh penekanan.


"Iya, Tuan, tentu saja, katakan! Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Dokter itu, girang.


"Berikan aku obat yang dulu sering di gunakan Meliza untuk menyakiti Dona."


"Obat?!"

__ADS_1


"Iya! Kau mengerti kan?" Tekan Deniz tajam.


"Tapi ... obat itu bisa membuat orang jadi gila, Tuan." Protesnya ketakutan.


"Kalau sudah tahu kenapa kau membuatnya?! Hah! Gara-gara minum obat itu, mantan istriku Dona tampak seperti orang gila, aku tidak mempercayai setiap ucapannya. Dan sekarang! Kau keberatan?!" Bentak Deniz menjauh dari kamar calon istrinya.


"Ba-baiklah, Tuan. Aku akan membuatnya, Anda bisa mengambilnya kapan saja." Ucapnya menyerah.


"Bagus! Kau tenanglah! Aku tidak akan membuat Meliza gila untuk selamanya. Hanya sebentar saja, aku ingin membuktikan pada media bahwa apapun yang dia katakan tentang calon istriku itu tidak benar. Kau paham?" Tegas Deniz dan langsung mematikan ponselnya.


Deniz mondar mandir memikirkan nasib kekasihnya, bagaimana kalau dia gagal melindunginya, dia akan menyesal seumur hidupnya. Alice adalah cintanya.


"Tenanglah, Sayangku ... aku akan melindungimu, aku sudah mengira bahwa dua orang suruhannya yang tempo hari ingin menghabisi Dhana, telah mengadu padanya. Seharusnya aku membungkam mulut mereka, gara-gara mereka, Meliza tahu kalau kau adalah gadis ular, Alice ...Β  tapi tenanglah, aku akan memperbaiki semuanya. Bukan hanya untukmu, tapi buat Dona, Dhana, dan kebahagiaan kita." Janji Deniz, sepenuh hatinya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Alice merenungi nasibnya dikamar, ucapan Deniz akan menghabisinya, masih membekas kuat di ingatannya. Benar kata ibunya, manusia kadang tidak bisa dipercaya, semua harus menanggung akibat yang sudah di buat karna mempercayainya, Alice saat ini merasakannya. Betapa dia sangat menyesal telah mempercayai Deniz Daniswara.


"Alice, buka pintunya, Sayang."


Karna terlalu lama tidak dibuka, Deniz mengambil kunci cadangan dan membuka pintunya. Alice melotot tajam kearahnya, dia berubah jadi manusia setengah ular dan melilit dirinya. "Sayang, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Deniz, heran melihat sikapnya.


"Membunuhmu!" Seru Alice tajam.


"Tutup pintunya dulu, Sayang. Setelah itu kau bisa membunuhku." Ucap Deniz, takut wujud asli kekasihnya di ketahui oleh Meliza. Meski Meliza tidak bisa berjalan, Deniz tetap tidak mempercayainya, bisa saja wanita itu hanya pura-pura, dia tidak mau Meliza merekam kejadian saat Alice berubah wujud menjadi manusia setengah ular. Semua akan jadi berantakan.


Karna Alice tidak mau menutup pintu, Deniz berusaha menggapai pintu dan menguncinya. Setelah dikunci rapat, Deniz pasrah dengan kemarahan kekasihnya.


"Lakukanlah, Sayang."


"Najis! Jangan memanggilku sayang dengan mulut kotormu itu. Kau mau menghabisiku?! Hah?! Sebelum kau menghabisiku, aku yang akan lebih dulu merenggut nyawamu." Geram Alice semakin kuat melilit tubuhnya. Deniz hanya diam saja menghadapi kemarahan kekasihnya, dia tarik badan ular Alice dan langsung melumat bibirnya.

__ADS_1


"Mmmpphhhh ... lepaskan aku, pria tua!" Seru Alice, meronta dari pelukannya. Niat Alice ingin membelit tubuhnya, tapi siapa sangka Deniz menahan dan mendekap kuat badan ularnya. Selama ini tidak ada yang bisa lolos dari lilitannya, kecuali ayahnya.


Sementara Deniz?! Alice malah kesusahan saat akan lepas dari pelukannya.


"Lepaskan," desis Alice, geram.


"Katanya mau menghabisiku, mana? Aku tidak apa-apa," goda Deniz membuatnya murka.


"Ssshhhhssss ... aku akan mematukmu."


"Dengan wujud kepala manusiamu itu?"


"Tidak! Dengan wujud kepala ularku! Aku akan berubah."


"Oh ya? Aku sangat mendambakannya, ayo, Sayang. Patuk diriku." Ucap Deniz sambil tertawa.


"Ck, kau! Kau tidak takut?!"


"Aku rela mati di tanganmu, Sayang. Aku mencintaimu."


"Aku tidak percaya!"


"Kau harus percaya, sayangku ... calon mamanya Dhana." Rayu Deniz dan kembali melumat bibirnya.


"Mmmpphhh, lepaskan! Dasar pria tua! Mmmpphhh ..."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Mulai slow up date yaaa


Wkwkwkwkwkwkwkwk

__ADS_1


Peace.


TBC.


__ADS_2