GADIS ULAR

GADIS ULAR
BAB, 12


__ADS_3

Alice merebahkan dirinya di kamar. Setelah bermain bersama burung pipit membuatnya kelelahan. Ditambah lagi pikirannya kalut saat mengingat ucapan Dona, semakin membuatnya lemas karna rasa heran dan kasihan.


"Astaga! Bagaimana mungkin ada seorang wanita yang ingin menjodohkan suaminya?! Sampai mati pun Aku tidak akan mungkin menuruti permintaannya," bathin Alice, gelisah hatinya.


Tak berapa lama kemudian, Zahra masuk dan mengusap kepala putrinya.


"Apa Kau sudah mau tidur, Nak?" Tanya Zahra, pelan.


"Iya, Ma. Alice sangat kelelahan," jawab gadis itu sambil memejamkan mata.


"Lalu ..., bagaimana kabar sahabat barumu, Dhana dan Nona Dona?" Tanya Zahra dan terus mengusap kepala putrinya.


"Mereka baik-baik saja, Ma. Bukankah malam ini Deniz dan Meliza sedang ada di perkebunan teh milik Kita?" Ucap Alice kembali membuka mata.


"Kau tahu darimana?"


"Papa, Ma. Papa bilang Syuting filmnya dimulai malam ini. Itulah sebabnya Papa kesana dan ingin membantu mereka," jelas Alice lega.


"Oh ..., begitu. Tapi apa yang membuatmu merasa lega?" Tanya Zahra, heran melihat putrinya.


"Yang membuat Alice lega adalah, Kak Dona sama Dhana tidak akan di jahati oleh Meliza. Wanita itu sedang ada di pekerbunan teh milik, Kita." Jawab Alice dan langsung memeluk tangan Ibunya.


"Kau benar, ya sudah. Tidurlah, Nak." Suruh Zahra dan langsung meninggalkan kamar Putrinya, tak lupa Zahra mengecup keningnya.


"Iya, Ma." Gumam Alice, menarik selimutnya.


Alice memejamkan matanya, tapi belum sempat dia tertidur pulas, ponselnya berdering. Dengan cepat Alice langsung mengangkatnya. Rupanya Dona yang sedang menelponnya.


"Hallo, Kak Dona. Ada apa?" Tanya Alice, setelah mengangkat telponnya.


"Dhana, Alice ...," lirih Dona, kesusahan.


"Iya, ada apa, Kak?" Ulangnya penasaran. "Kakak baik-baik saja, kan?" Tekan Alice, khawatir pada Dona.

__ADS_1


"Buruk, Alice! Dhana ikut bersama Deniz dan Meliza ke perkebunan teh, tempat syuting film Kita! Aku mohon Alice, selamatkan Dhana, jaga dia, Meliza bisa melakukan apa saja!" Seru Dona, gelisah hatinya.


"Tenanglah, Kak Dona. Bukankah Tuan Deniz ada bersamanya?" Terang Alice agar Dona bisa menjadi lebih tenang.


"Pria itu kalau sudah bekerja, tidak memperdulikan Dhana, Alice. Lagi pula Meliza sangat pandai mengambil hatinya. Apa Kau, tahu?! Yang menyebabkan Aku sakit seperti ini adalah Meliza. Berulang kali Aku mengadu kepada Deniz, tapi Aku dianggap gila dan Deniz hanya percaya pada Meliza. Itu semua karna tipu daya Meliza. Aku tidak bisa berbuat apa-apa," terang Dona, gelisah memikirkan Putranya.


"Tapi Kak Dona baik-baik saja, kan?" Tanya Alice, khawatir mendengar deru nafasnya saat berbicara.


"Aku hanya akan baik-baik saja jika Dhana ada yang menjaga, Alice. Aku mohon, pergilah padanya dan jagalah Dhana. Demi Aku Alice. Aku tidak tahan. Tubuhku sudah mulai melemah, Aku kesakitan." Pinta Dona, berusaha meminta bantuan pada Alice. Bagi Dona, hanya Alice lah yang bisa menjaga Dhana.


"Ya sudah ..., Aku akan menjaga Dhana. Kau tenanglah Kak Dona." Ucap Alice. Kasihan padanya.


"Baiklah, terima kasih Alice, Aku sangat beruntung bisa menjadi sahabatmu. Dan Aku tetap berharap agar Kau mau menjadi Istri dari suamiku.


"Kak, Kau ...!"


Tut ... Tut ...


Dona langsung mematikan telponnya. Alice jadi semakin khawatir karnanya. "Kenapa Kau selalu saja membuatku merasa gelisah, Kak Dona. Aku memang akan membantumu, tapi bukan berarti harus jadi istri, suamimu. Ada-ada saja Kau ini." Gumam Alice dan langsung bangun dari tempat tidurnya.


"Eh, Alice, Kau mau kemana?" Tanya Zahra yang baru saja akan memasuki kamarnya.


"Kak Dona menyuruh Alice buat menjaga Dhana, Ma. Kasihan dia, saat ini pasti sedang gelisah memikirkan Putranya." Jawab Alice sambil mencium pipi Ibunya.


"Kau terlihat sangat memperdulikannya Alice. Mama heran, bagaimana bisa Kau menyayanginya? Kalian berdua baru kenal, Sayang." Heran Zahra membuat Alice tersenyum lembut menatapnya.


"Kak Dona dan Dhana tahu wujud ular Alice, Ma. Mereka menerimanya, mereka tidak mempermasalahkan wujud hewan Alice, haruskan orang seperti itu Alice tidak pantas buat menyayanginya?"


"Kau sangat pantas buat menyayangi mereka, Nak. Pergilah. Hati-hati dengan Meliza. Meski Kau manusia ular, Dia adalah manusia yang sempurna, apapun akan dia lakukan demi mencapai keinginannya. Tapi ingatlah! Kebenaran akan selalu menang," nasehat Zahra, yang langsung diangguki kepala oleh Putrinya.


"Alice akan selalu mengingatnya, Ma. Tenanglah."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Alice sampai di perkebunan teh milik keluarganya, berbagai orang dengan membawa peralatan pembuatan film lalu lalang di hadapannya. Dia terus berjalan dan mencari keberadaan Dhana. Tapi tidak ada. Karna khawatir, Alice mencari Deniz dan Meliza. Tapi kemanapun Alice mencari, mereka tetap tidak ada.


"Permisi, apakah Anda melihat Tuan Deniz Daniswara?" Tanya Alice pada salah satu pekerjanya.


"Oh, sepertinya Tuan tadi pergi kesana," jawab pekerja itu sambil menunjukkan tangannya. Alice heran karnanya. Bagaimana mungkin Deniz pergi ketempat yang tempatnya hampir dekat dengan perbukitan. Disana sangat sepi. Yang jadi pertanyaan di pikiran Alice, buat apa Deniz pergi kesana? Apakah Dhana ada bersamanya?


Karna penasaran, Alice menghampirinya, keadaan jadi sedikit lebih gelap. Saat sudah hampir dekat, Alice melihat dua bayangan orang sedang berciuman.


"Mmmmpphhhh, Aku sangat mencintaimu, Deniz ...," desah Meliza membuat Alice terkejut saat mendengarnya. Alice langsung mendekatinya, hatinya tiba-tiba memanas melihat percumbuan mereka.


"Aku juga mencintaimu, Meliza," jawab Deniz sambil membalas ciumannya.


Kesabaran Alice sudah menghilang, dia mendekat dan bertepuk tangan dengan keras.


Prokk


Prokk


Prokk


"Wah ..., pemandangan yang sangat indah, Tuan Deniz Daniswara! Disaat istri terbaring sakit di rumah, Suaminya disini, dan bercinta dengan wanita lain!! Hebat Tuan Deniz!! Seorang suami seperti Anda memang cocok bersanding dengan Nona Meliza!! Sementara Nona Dona! Kasihan dia, orang cantik dan baik seperti dia harus mendapatkan Suami yang brengsek seperti Anda! Sangat disayangkan!" Sinis Alice, mengejeknya.


"Jaga bicaramu, Nona Alice, Kami tidak seperti yang Kau kira." Bantah Meliza tidak suka.


"Maaf, Nona Meliza. Wanita terhormat seperti Anda seharusnya tahu, bercumbu dengan pria yang masih beristri itu adalah suatu dosa. Tapi apalah daya? Tuan Deniz pasti akan selalu membela Anda. Dimatanya Anda selalu benar. Maafkan, Aku. Iya kan, Tuan Deniz?" Tekan Alice sambil menatap tajam kearah matanya.


"Kau benar, Nona manja. Tapi gadis terhormat seperti Anda seharusnya tahu. Sangat tidak baik mencampuri urusan keluarga orang." Ejek balik Deniz membuat Alice murka. Dia mengepalkan kedua tangannya tidak terima.


Niat hati ingin membalas ucapannya, tapi yang dilakukan oleh Alice justru mentertawakannya.


"Hahahahaha, Anda benar, Tuan Deniz Daniswara. Tapi Nona manja ini dimintai tolong oleh istri Anda buat menjaga anak, Anda. Istri Anda pasti tahu bahwa suaminya akan melupakan anaknya saat bercumbu bersama seorang wanita. Apalagi ..., wanita itu adalah kekasihnya. Ck, ck, ck, lanjutkan. Biar Aku yang akan awasi Dhana." Decak Alice dan langsung meninggalkan mereka.


Meliza dan Deniz terpaku melihatnya, terutama Deniz, dia langsung memalingkan wajahnya dan mencari keberadaan Dhana. Tapi Dhana tidak ada dimanapun saat dia mencarinya. Kegelisahan mulai muncul dihatinya, yang pertama, mengingat ucapan Alice, dan yang kedua karna anaknya tidak ada.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


TBC.


__ADS_2