
🌌 Langkah gontai perlahan memasuki ruangan 11 Ipa 1 yang temaram karena cahaya matahari ditutupi awan mendung. Sekitar jam tujuh kurang lima menit Orzie sudah masuk ke kelas. Maklum, dia murid teladan.
"Hooaamm..." ia menguap lebar, kemudian matanya melotot saat melihat sesosok manusia sedang tertidur di meja. "Eh bujug! Tuyul!" pekiknya kaget.
Gamaliel mengangkat wajahnya yang kusut.
"Eeeh, tumben amat lu Gam dateng cepat. Kerasukan setan neraka mana lo?" tanya Orzie menaruh tas di kursi.
"Oh..." Gamaliel mengorek-ngorek upilnya malas. Orzie mendengarkan dengan tampang serius.
"Bosen gue luluran di rumah mulu, yaudah gue bawa peralatan mandi di sekolah, biar seger dan nambah pengalaman baru."
"Waterpak!? Anying gue gak denger dah!" sewot Orzie sambil menggelengkan kepala takjub, dari kelas satu tingkah Gamaliel emang ajaib. Contohnya ketika dijemur di lapangan gara-gara tawuran, bukannya mendengar nasihat Pak Umar cowok itu malah meremas dedaunan kering lalu memasukkannya di dalam gelas air mineral. Buat main masakan ala-ala centini sama anak Legion.
Saat dihukum hormat bendera, Gamaliel malah joget goyang patah-patah, jurus nge-bor, goyang sundul, goyang patah jempol, nari nyembah pohon pun ada. Bisa habis satu buku kalau ngejelasin semua kelakuan bobrok dan ajaibnya.
"Lah? Ini ngapain ada sajadah segala?" tanya Orzie kebingungan melihat sajadah dilipat rapih di atas meja Gamaliel.
"Oh... Itu sekalian gue sholat shubuh di sini biar dapet feelnya."
"FEEL PALELO BURIQ! SEREM GAN!!! UDAH MANDI DI SINI, SHOLAT SHUBUH DI SINI?! OTAK LO DAPET DARI KINDER JOY APA GIMANA GAM?!!!"
Gamaliel menatap Orzie santai tanpa merasa aneh sedikit pun. Menggendikan bahu sambil lanjut ngupil.
"Emang lo bisa masuk sekolah gimana caranya Gam? Kan kunci gerbang sama satpam sekolah?"
"Iya sama satpam sekolahan."
"Jangan bilang lu curi?"
"Enak aja lo nuduh! Gue gak nyuri, gue ambil diam-diam!"
"Eh, sama aja itu semprul!" Orzie menatap cowok sableng itu dengan helaan napas berulang kali.
"Udah lo kembaliin tuh kuncinya?"
__ADS_1
"Udah. Gue taro di atap rumahnya, biar gak dicuri maling."
Keplak!
"Kampret bener elo Gam! Ada ya orang kek elo?" sekarang tatapan Orzie memburu menarik tangannya dari kepala Gama.
"Gue kan masyarakat yang berbakti pada nusa dan bangsa! Gak membiarkan fasilitas negara menganggur percuma!"
"Berbakti palelu gue putar gimana? Gam, lo bisa gak sih bertingkah normal gitu?"
Orzie jadi pening berputar-putar memerhatikan tingkah ajaib Gamaliel. Gak kalah ajaib daripada Galaksi!
"Maaf, anda siapa yah? Datang-datang main protes aja, emang situ pikir situ anggota tim sukses?"
"Males ah gue ngebacot ama anak tuyul, otaknya sisa cemilan dugong!"
"Eh si somplak!" cerca Gamaliel melempar buku ke Orzie, cewek itu memghindar eh malah ketimpuk di wajah. Hening sejenak, hingga Orzie memulai perkara baru.
"Muka lu bonyok amat sih Gam, udah kek orang kegaruk hansip," ejek Orzie walaupun tahu wajah cowok itu bonyok karena tawuran.
"Hahhaha!!" Orzie tertawa ngakak sejadi-jadinya sambil mengelus jidat Gamaliel.
"Lo pikir sendiri," ucap Orzie dengan sisa tawanya. "Kalo gue kasih masukan emang lo bakal berhenti tawuran?"
Gamaliel diam mencoba mencerna ucapan Orzie.
"Kayak yang lo bilang kemaren, Gam. Udah tugas lo memimpin anak-anak Legion supaya tetap membela sekolah kita... Walaupun yang elo bela malah menyalahkan kalian semua."
"Mungkin, kalo gak ada dendam antara anak Bhakty Jaya sama anak Taruna kita bakal damai, tapi semua udah terlanjur. Lo mundur kena gebuk, lo maju kena sabuk. Gue cuma berharap, lo masih ada pas hari kelulusan..."
"Omongan lu udah kek gue mau meninggal aja besok!" umpat Gamaliel hingga Orzie makin tertawa ngakak di hadapannya. Dalam hati, sebenarnya Gamaliel begitu percaya pada Orzie.
Cewek itu selalu membela, mendukung, dan berdiri di sebelahnya ketika disalahkan. Orzie memaklumi Gamaliel apa adanya, tanpa memandang wajah maupun harta seperti cewek-cewek kebanyakan. Bahkan, Orzie pernah makan nasi bungkus berempat dengan Gamaliel dan teman-temannya.
"Lo terlalu baik buat orang sebrengsek gue, Ji." nada bicara Gamaliel halus, gak ingin menyinggung Orzie seperti tempo lalu.
__ADS_1
Gamaliel selalu berpikiran buruk tentang dirinya sendiri, membenci dirinya setiap kali harus terjadi pertumpahan darah namun di saat bersamaan dia tetap gak bisa melakukan apapun selain bertahan dan bertahan.
Dia cuma manusia.
Yang melawan ketika keadaan rawan, dan memberontak ketika kawannya dilukai. Menjadikan dirinya benteng ketika sekolah diserang. Menawarkan tubuhnya pada senjata saat lawan menghadang.
Jadi, pilihan mana yang harus ia pilih saat melihat rombongan anak Taruna mengepung SMA Bhakty Jaya dengan jeritan para murid di dalamnya?
Tentu Gamaliel gak akan tinggal diam.
Dia yang mempertahankan, dia yang dibenci banyak orang. Ditinggal banyak cewek yang dulu memujanya bak seorang raja, menjadi bahan gosipan para siswi yang sibuk membandingkannya dengan Galaksi.
Dan satu lagi–menjadi sasaran kemarahan Elang.
"Sampai badan lo dibakar atau dirajam atau dibacok... Gam, gue sahabat lo. Hehe, anggap aja gue anggota tubuh lo, saat lo terluka gue bakal menangis. Dan kita bakal sama-sama sakit. Gue bakal nyembuhin lo kalo terluka."
Gamaliel tersentuh mendengar ucapannya.
"Sini dekat sama gue, biar gue sembuhin."
Gamaliel mendekatkan wajahnya ke depan, Orzie tersenyum lebar.
Plak!
"Itu gue sembuhin, huahahahahahha!!!"
Orzie tertawa terbahak-bahak meninggalkan Gamaliel di kelas.
Dia gak membenci Orzie yang sering kali mengerjainya, walau kadang Gamaliel marah-marah, kesal, sampai menghujat dengan kata kotor dia tetap saja meladeni cewek serampangan itu.
Dipegang pipinya pelan sambil mendengus kecil. Sifat cewek itu benar-benar membuatnya melupakan hal berat yang menantinya sepulang sekolah.
"Ji, jangan buat gue salah paham sama perlakuan lo..." lirihnya.
****
__ADS_1