Galaksi

Galaksi
Episode 42 Chapter 42 | Ziarah


__ADS_3

Lima puluh pelajar yang baru pulang sekitaran jam tiga sore itu memenuhi bus-bus sekolah, tergambar wajah sendu dan rasa bersalah meradang di hati mereka. Jadwal pulang mereka diperlambat oleh pihak sekolah hampir setahun ini, mereka tidak boleh pulang jika masih jam dua karena resiko tawuran seperti 7 bulan yang lalu. Ketika salah satu siswa Bhakty Jaya menjadi korban dalam insiden tawuran.


"Doni pasti udah bahagia, yah." Orzie memulai topik walaupun tahu mengungkitnya justru membuat dia sakit hati. Gama merunduk penuh penyesalan, tidak peduli seberapa sakit dirinya hampir diusir dari rumah, jadi sasaran aparat kepolisian selama beberapa bulan hingga ditampar berulang kali oleb Pak Umar. Semua tidak ada rasanya. Hatinya jauh lebih remuk dari dalam.


"Sebentar lagi kita lulus," ujarnya sambil memasukkan oksigen dalam paru-parunya, "tapi Doni udah gak ada, padahal dia yang paling berambisi buat lulus, jadi anak UI."


"Lo masih ingat kan, Gam? Jangan pernah kalah dari musuh... atau dari mimpi-mimpi kita. Doni udah tenang, dia gak perlu ikut tawuran kayak dulu lagi."


"Lagian gue udah sadar, kita gak bisa terus kayak gini. Bener yang Doni bilang bro. Kita juga harus perjuangin cita-cita kita, walaupun banyak mata meremehkan kita," cowok berambut hitam bercampur merah itu menimbrungi, Afif. Ia tersenyum kecut saat Gama memandangnya.


Bus berhenti, menurunkan pelajar putih abu-abu itu di pemakaman. Bendera hitam tengkorak terkibar bersambut angin, bau bunga melati menguar bercampur bau tanah yang baru saja terkena hujan gerimis.


"Don... Gue bawa rombongan nih, kemaren-kemaren cuma beberapa yang datang. Yah, susah lah bro haha, kita kena cegat mulu sama Pakpol!" Gamaliel tertawa hambar, dadanya terasa semakin terhimpit. Susah payah menyembunyikan kesedihannya akhirnya Gama sesak karena kata-katanya sendiri.


"Seandainya waktu itu gue denger omongan lo Don... Lo pasti bakal ikutan sama kita pas hari kelulusan... Don, lo tahu? Legion udah dibubarin sama abang gue. Walaupun gue harus kena terjang sama Bang Raka... Kita gak bakal wara-wiri nyari musuh lagi kayak yang lu bilang."

__ADS_1


Oge tersenyum tipis. "Nyet... Gue bakal lanjutin mimpi-mimpi elu. Jadi pengusaha terkaya se-Indonesia, kan? Apaan! Gampang itu mah. Lo pasti udah ketemu Ibu lo, kan? Bilang sama beliau Don, temen-temen lu bakal ngeraih itu semua. Lo bakal ada, selalu, di hati kita."


Afif menebarkan bunga-bunga di makam Doni, perlahan masih teringat bayangan wajah kampret cowok itu. Ketika dia masih hebatnya bersenda gurau layaknya penerus Sule. Orzie berjongkok.


"Iya Don. Lu bakal ada di hati kita semua... Semoga lo bahagia di sana. Inget, Don! Kalo udah ketemu Bang Male Ijroil mata jangan jelalatan!"


Semua tertawa. Anak-anak kelas satu yang baru beberapa bulan memasuki geng Legion menghambur di daerah pemakaman.


"Don... Lo tahu? Tahun ini anak Legion nambah banyak, anak kelas satu juga pada semangat semua walaupun secara resmi kita udah bubar, jumlah kita sekarang lebih tujuh puluh tau, kalo lo masih ada kan bisa gue traktir lu mie ayam Buk Yani Don.." keluh Oge berubah lesu.


Afif membuka resleting tas, mengambil selembar kertas lusuh dengan coretan pulpen merah berbentuk 86 di sudut kertas. Meletakkannya di atas tanah.


Dalam suasana berkabung, anak kelas satu yang berdiri di ujung pemakaman berseberangan dengan jalan raya berteriak.


"Bang Gama! Bang Gama!" seru salah satu cowok. Gamailel menoleh bingung.

__ADS_1


Jantung cowok beriris cokelat itu berpacu cepat, melihat sang iblis Legion yang tersohor dengan sejarah berdarah mendatanginya. Bersama senior-senior yang lainnya. Orzie terkesiap menggeleng saat Gamaliel meliriknya.


"Gama," panggil Raka datar. Raut wajahnya menyimpan beribu ancaman.


"Sebelumnya gue udah bilang, Legion gak akan bubar karena omong kosong abang lo," tegasnya lagi, Kiran, temannya membuang puntung rokok sembarangan.


"Satu bulan lagi hari kelulusan. Gue kasih tahu ini ke elo supaya kalian waspada. STM 02 selalu jadi musuh kita bahkan lebih parah dari SMA Taruna." Raka mendekat kemudian menepuk bahu cowok itu.


"Kita bakal jadi sasaran empuk pas perayaan kelulusan. Pertama, sama STM 02 dan kedua SMA Taruna. Mereka bakal duel ngehancurin nama baik kita. Lo ingat itu baik-baik."


Bersamaan dengan perginya Raka salah satu temannya menambahkan.


"Lo gak akan bisa ngehindar. Taruhannya bukan nama sekolah lagi, tapi nyawa dan mental junior-junior lo ke depannya." ucapnya menunjuk pada anak kelas satu yang memasang wajah curiga.


Kelima cowok itu pergi menggunakan motor gede. Gamaliel diam beribu bahasa.

__ADS_1


"Don...bilang sama gue. Apa yang harus gue lakuin sekarang?" batinnya sembari mengepalkan tangan. Di kirinya, Orzie menepuk pundak cowok itu hangat.


"Semua bakal baik-baik aja."


__ADS_2