
Jari-jari putih menari di atas keyboard, berhenti kemudian kembali menghapus kalimat yang ia rangkai untuk keenam kalinya. Galaksi menggaruk telinga sembari menukikkan alis kesal. Entah kenapa, biasanya nilai Bahasa Indonesianya sampai 98, tapi kenapa dalam hal sepele kayak gini dia malah jadi seperti orang bodoh?
Gw tunggu di perpus skrg, jgn telat!
Setelah agak lama berpikir Galaksi menekan tombol kirim. Menunggu reaksi Orzie yang duduk di tongkrongan, masih dapat dipantau Galaksi. Dapat dilihatnya wajah cewek itu mendongkol, sebuah senyum kecil menghiasi wajah tampannya tanpa sadar. Mengundang mata-mata kekurangan asupan cogan melirik penuh ketertakjuban.
Ruangan perpus nampak sepi, Galaksi menatap pantulan dirinya di jendela besar. Merapikan rambutnya lalu menggerutu kesal dengan apa yang barusan dia lakukan.
"Gue kenapa sih?"
Suara derap kaki melangkah memasuki ruangan, Galaksi menatap langit-langit perpus, bertanya-tanya kapan itu akan runtuh.
Kegugupannya tak berlangsung lama setelah dilihatnya malah Gisel yang datang menghampiri. Galaksi melotot kesal.
"Gal, ayo, lo harus perform hari ini. Kan udah janji bakal nyanyiin lagu buat gue?" tagih Gisel, Galaksi kelihatan malas.
"Gue lagi ada urusan."
"Loh kok gitu, orang-orang udah pada nungguin lo tahu," protesnya lagi. Kembali Galaksi memasang wajah kesal. Hingga dengan cepat Gisel menarik lengannya. "Ayo! Gue gak mau lo berurusan lagi sama dia!"
Galaksi menyahut tak terima. "Bukan urusan lo, ck!"
"Ayooo, Gal!!" paksa Gisel menarik lengannya susah payah, Galaksi menguatkan pijakannya hingga tubuh Gisel doyong dan terjatuh membuat Galaksi juga ikut terjatuh.
Brukh
Galaksi melebarkan netra matanya saat sadar Gisel meringis di bawahnya, cowok itu bergegas bangkit. Merasakan seseorang menatapnya, dan benar saja. Orzie memasang wajah pundung di pintu.
"Kalo cuma mau nampakin gue yang begituan..." Ujarnya terputus, Orzie segera meninggalkan perpustakaan tanpa melanjutkan kalimatnya. Galaksi menyusul langkahnya dari belakang.
"Ji!"
Pertama kali dalam hidupnya.
Mengkhawatirkan seseorang.
Memerhatikannya tanpa berniat berhenti.
__ADS_1
Merasa telah memilikinya.
Tidak. Hanya sebatas keegoisannya saja.
"Ji!" panggil Galaksi berulang kali, langkah Orzie memelan hingga berhenti memutar tubuhnya.
Seketika itu pula angin panas berdesir menguapkan keringat yang muncul di pelipis Galaksi. Mendadak Orzie menjulurkan tangan ketika Galaksi hanya berjarak dua meter darinya.
Galaksi menatap tangannya enggan.
"Gue cuma mau bilang. Gue minta maaf. Entah apapun salah yang selama ini gue lakukan sampai lo bisa sebenci itu," katanya dalam satu tarikan napas.
Galaksi terdiam. Apa Orzie mengira bahwa dia membencinya?
Apa sebenarnya semua hanya kesalahpahaman?
Galaksi menatap tangan yang kembali Orzie tarik karena urung disambut. Hendak menjelaskan namun bibirnya kelu.
"Dan pertanyaan lo tempo lalu... Maaf, gue gak punya rasa apapun sama Gamaliel. Dia sahabat gue, kalau lo membenci gue karena selama ini gue mendukung Legion... It's okay," ucapnya.
"Gue gak mau ini semua berakhir buruk."
Gue gak mau ini semua berakhir buruk.
"Gal!!" Teriak Gisel dari kejauhan, Galaksi tidak meliriknya. Tatapan cowok itu masih terkunci di satu titik, Orzie.
"Ji–"
"GALAKSI!" teriak Gisel lagi, Galaksi mengepalkan tangannya ketika cewek itu sampai. Mulut Gisel manyun dengan sikap kekanakan. "Ayo nyanyi.. Ngapain sih elo urusin nih cewek?"
"Dan Lo, Gisel," ujar Orzie mendadak. Sejurus Gisel memalingkan tatapannya ke arahnya sinis.
"Jangan urus urusan orang lain."
"Apa maksud lo hah?!" balas Gisel tersulut emosi, ia mendobrak bahu cewek itu hingga jatuh terjerembab seperti beberapa waktu yang lalu. Namun berbeda, kali ini Orzie membalas.
Brukh
__ADS_1
"Berani lo ngelawan gue hah? Lo itu orang miskin! Gak ada tempat yang pas buat orang kayak lo. Lo tahu, Lo lebih pantes mati di kandang ****!"
Plaaakkk!
Tamparan telak mengenai pipi berbedak Gisel. Cewek itu nampak terbakar api kemurkaan, sorot matanya semakin berkilat kobaran emosi.
"GUE GAK SEHINA ITU, ANJEENG!!" maki Orzie mengeratkan kepalan tangan hingga kesepuluh jarinya memutih. "EMANG MUKA KEK BENCONG GITU BAGUS BANGET, HAH?! BAGUSAN PANTAT GUE KALEE!!!!"
Gisel mendidih di tempat. "LO PIKIR CEWEK MISKIN, JELEK, BAU KAYAK LO BISA NGEDAPETIN GALAKSI, IYAA?! NGACA MBAK, NGACAAA!!!"
Kini berganti Gisel yang menampar Orzie, ia menjambak rambut cewek itu kasar hingga helai rambut tersangkut di jarinya.
Orzie membalas sengit. Mereka menjadi tontonan seru bagi murid-murid yang lainnya, Galaksi tak bergeming di tempatnya berpijak dengan wajah kebingungan.
Cowok itu menyingkirkan Gisel, membuat lawannya melepas dengan badan huyung. Orzie menatap kedua bola mata Galaksi lama dengan pandangan memburam. Tatapan yang tidak pernah dilihat Galaksi sekalipun. Tatapan yang membuat hatinya menjadi rapuh, seperti semalam. Ketika tiba-tiba bayangan cewek itu hadir di alam bawah sadarnya.
Keramaian di koridor kelas seakan tenggelam dalam tatapan cewek itu, hingga mulut Orzie bergerak mengucapkan sesuatu.
"... .... .... Lo."
Seakan puluhan siswa yang lalu lalang di hadapannya tidak ada, Galaksi terdiam dengan pikiran berkecamuk di dalam kepalanya. Cewek itu menghilang di tengah keramaian, memaksa Galaksi melongok ke sana-sini mencarinya.
Ia yakin Orzie mengatakan sesuatu yang penting.
Galaksi berlari mencari cewek itu di sepanjang kelas, tidak ada dia di mana-mana. Bahkan cowok itu sampai mendobrak WC perempuan di lantai satu hingga para cewek menjerit-jerit.
"Gue gak punya rasa apapun sama Gamaliel."
"Bodoh!!" umpat Galaksi dalam hati. Tidak menemukan orang yang dicarinya di lantai kedua cowok itu kembali ke kelas berharap Orzie datang ke sana.
Tapi tebakannya salah lagi. Dia tidak ada di mana-mana, napas berat cowok itu semakin terdengar jelas akibat terlalu lama berlari. Galaksi menatap ke luar jendela melihat kengerian di luar sana.
Enam puluh–bukan, hampir tujuh puluh pelajar belasan tahun membanjiri jalan di depan gerbang SMA Bhakti Jaya, angin badai berhembus kencang menggoyangkan pohon-pohon di pinggir jalan.
Suasana mendung semakin menambah kengeriandi sana hingga cowok itu sadar, di barisan depan terlihat seorang cewek menenteng klewang siap menyambut musuh.
Pasukan STM 02 dengan baju yang dicoreng sana-sini ditambah para setan-setan Taruna memenuhi kedua ruas jalan. Gemuruh bersahutan di atas mereka siap mengamuk kala hujan gerimis membasahi jalan aspal.
__ADS_1
"Sialan, tuh cewek ngapain sih?!" maki Galaksi mengumpat serapah. Seumur-umur ia tidak pernah sekacau ini melihat orang lain dalam bahaya.
<><>