
Buaagh! Buaghh!!
Entah ke berapa kalinya tinju melayang menghantam perutnya, cowok itu meringis perih hingga seseorang dengan sorotan penuh kemurkaan itu menyepak tulang keringnya.
Draaakh!
Tubuhnya terpental menabrak dinding gudang, sekali lagi cowok dengan penampilan mengerikan itu melotot iblis ke arahnya.
"Apa-apaan lo dari tadi ngehalangin gue, setan?!!"
"Ma-maaf Tur...gue–"
"Lo punya hubungan apa sama tuh cewek hah?!! Jawab, anjeng!!!"
Bruukh!
Guntur kembali melayangkan tendangan menghantam tangan Benua yang kini dipakainya untuk menutup kepala. Benua tidak membalas. Dia tahu pasti, Guntur sangat marah sekarang. Bisa aja dia mati konyol di ruangan ini tanpa diketahui orangtuanya.
"Gue salah, Tur..."
"Mau gue mampusin elo di sini?!!"
Dada Guntur naik turun, masih setia dengan iris mata mengecam itu. Disepaknya Benua berkali-kali namun percuma, emosinya belum habis terbalaskan.
"Kalo lo gak ada tuh cewek udah mati gue bantai, jing!" marahnya lagi, anak buahnya diam mendengarkan di sudut ruangan sambil menghisap rokok sekalian menatap kasihan ke arah Benua.
"Pengkhianat lo, Ben! Padahal selama ini lo yang paling gue percaya di sini," ucap Guntur kecewa, tangan perlahan dikepalnya erat-erat. Benua mendongakkan kepala, dadanya berdebar ketakutan.
"Bilang lo ada hubungan apa sama tuh cewek?!! Lo gak temenan sama anak Bhakty Jaya, kan?"
Benua terdiam. Jika menjawab jujur dia akan dicap pengkhianat geng dan berakhir mati mengenaskan di ruangan pengap ini. "Enggak, Tur."
"Kalo enggak kenapa lo nyelamatin dia?!"
"Gue cuma teringat adek gue..."
"YAUDAH BIAR ADEK LO GUE MATIIN SEKARANG!!" serang Guntur dengan suara menggema keras. Benua tersentak kaget, menatap Guntur tak percaya hingga menggeleng cepat.
"Ja-jangan Tur! Jangan adek gue!" pinta Benua ketakutan, Viola–adik Benua tidak punya urusan apa-apa dengan masalah ini. Bisa panjang masalahnya kalau Viola ikut jadi sasaran Guntur.
"Hahahahaha!!"
__ADS_1
"Coba lo ngemis sama gue, barangkali adek lo bisa gue bacok ke depan sini."
"Plis jangan Tur..."
"Hahahahha!!" lagi-lagi tawa meledak dengan intonasi yang dibuat-buat, Benua tidak bisa berbuat apa-apa.
"Cepet ngemis sama gue!"
"Plis Tur...jangan adek gue..." pintanya lagi.
"Aah, basi amat gaya lo! Mending ke rumah dia aja nyok, bantai abis adeknya di sana!"
"GUNTUR! JANGAN!!" teriak Benua panik, Guntur mendeliknya emosi seraya mengepalkan tangan.
Buagh!
Lagi, Benua terpental menabrak dinding.
"Berani amat lo sama gue, hah??!"
"Guntur...plis, jangan adek gue..." mohonnya lagi, Guntur tersenyum picik seraya menyepak tangan cowok itu.
"Lo bakal gue ampunin, kalo berhasil bunuh cewek itu," ujarnya pelan.
"Atau adek lo?"
Cowok itu terdiam penuh tekanan, perlahan terdengar suara tertawaan lebar dari kanan dan kirinya.
"Lo kasihanin aja tuh cewek, Ben! Lama-lama nyawa lo kita ambil!" seru salah satunya. Benua tetap pada posisinya, menunduk.
"Oh, gue tahu!" celutuk cowok bertudung merah itu, Guntur menyahut tak suka. "Apanya?"
"Gimana kalo pertama-tama kita suruh dia bunuh anak Bhakty Jaya, abis itu baru ngebacok si Gama-L? Kan seru tuh!" usulnya lagi membuat Benua melotot cemas.
Sekejam itu?!
"Boleh juga nih usul lo, hahahah!!" tanggap Guntur tersenyum senang seraya bertos ria dengan di tudung merah. Tinggal Benua yang kini terdiam tanpa kata-kata.
"Tur... Lo nyuruh gue dikeroyok anak Bhakty Jaya atau masuk penjara aja boleh... Kenapa harus ngebunuh orang...?"
"Kalo bukan lo biar kita yang bunuh! Alaaah, pake sok alim lagi nih banci!"
__ADS_1
"Tapi kalian udah kelewat batas–"
Braakh!
"Berani lo nantangin gue?!!" marah Guntur berkali-kali lipat, meja terbalik karena disepaknya.
"Bukan gitu, Tur..."
"BUKAN GITU GIMANA, HAH?!"
Benua meneguk ludah kasar, menatap Guntur takut. "Lo udah terlalu buta sama kebencian, sampe tega ngebunuh anak orang. Bukannya kita tawuran buat rasa solidaritas? Kenapa malah jadi gini?"
"Alah!! Jancok! Mau gue telanjangin lu besok di depan sekolah?" celutuk teman-temannya ikut kesal.
"Kita tawuran buat balas dendam, bukan buat maen-maen! Lu inget tuh Bocil!" seru Guntur menoyor kening Benua dengan telunjuknya.
"Jadi pilihan lo cuma tiga..." ujar cowok bertudung merah itu.
"Kita bantai adek lo, bunuh cewek kemaren, atau bunuh dua orang anak Bhakty Jaya. Termasuk Gama-L." sebutnya mengecam, Gama-L atau kependekan dari Gama-Legion memang jadi incaran mereka dari dulu, wajar mereka ingin menghabisi nyawa anak itu bagaimana pun caranya.
"Bunuh gue aja."
"Yakin lo nyet? Lo mau mati?" sinis Guntur dengan senyum remeh. Benua mengangguk pelan. "Bunuh aja, jadi tangan gue gak akan kotor kena darah orang," ucapnya dengan mata kosong.
Benua sadar, Guntur gak pernah main-main dengan ucapannya. Mati ya mati, tawuran ya tawuran. Tidak ada penolakan, hal itulah yang membuat SMA Taruna bisa seimbang melawan Legion yang merupakan iblis bertempur di sepanjang jalan Malaka.
Pedang panjang ditariknya, mengulurkan ujung senjata di batang leher Benua tanpa pilih kasih. "Mati, lo."
Benua memejamkan matanya erat, keringat dingin mengucur deras membasahi tubuhnya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, entah keputusannya salah atau justru membuat Viola kehilangan dirinya.
Benua hanya tidak mau mencelakakan nyawa orang walaupun tanggungannya adalah nyawanya sendiri.
Traang!
Pedang terlempar kasar di lantai.
"Gue gak akan nyelakain nyawa kawan gue sendiri, kecuali buat darah musuh. Tapi lu inget nih nyet, bakal ada waktunya lo terpaksa ngambil darah anak Legion, demi adek lo sendiri."
Guntur meninggalkan gudang dengan langkah lebar, rombongan mengikutinya dari belakang menyisakan Benua yang kini terduduk dengan wajah lebam.
Mungkin hari ini belum ada nyawa yang dibidik, atau besok justru nasib menjemput nyawanya atau orang lain?
__ADS_1
***
Tanda2 kematian smakin dekat my prens 😈