
Polisi baru saja datang beberapa menit yang lalu meminta keterangan pihak sekolah atas kejadian tawuran kemarin. Pak Osep menjelaskan akan memberi hukuman setimpal pada murid-muridnya nanti. Tongkrongan nampak ramai dengan obrolan yang seru.
"Gimana sama Pak Umar, Gam? Lo semua gak jadi ditangkep?" Orzie memulai topik pembicaraan, Gama menangkat wajah kalem sambil memperhatikan lapangan bola.
"Tau dia. Gak usah dibahas sekarang deh, males." Gamaliel membalas ketus tanpa menoleh sedikit pun.
"Woi! Yang beli makanan mana nih, lama banget?!" cecar Teuku mencari-cari adik kelas dari tongkrongan, kelihatan mereka sedang menggoda anak cewek di sana.
"Setaan! Disuruh beli malah mejeng lu! Lah mending kalo laku!" ejeknya emosi, kedua junior itu menyengir bodoh menghampirinya.
"Nih, bang. Jangan marah-marah ae ntar galaknya ngalahin Mak gue."
"Jawab lagi lu!" seru Teuku menoyor kepala mereka, "Ngantri makanan udah kek ngantri beras raskin aje lu!"
"Hehehe, biasa juga gue yng disuruh ngantri ama Emak beli sembako murah," curhat anak itu.
Teuku terdiam. "Kenapa bang?"
"Lagi istigfar sebelum mengumpat!"
"Hahahahaha!!" tawa berderai seisi tongkrongan. Teuku kembali ke tempat duduknya mengambil cireng dan gorengan di dalam plastik.
"Galaksi tumben dua hari ini gak gabung?"
"OSIS dia nyet, kek gak tau aja lu," dengus Orzie membuat Mahesa refleks melempar pilus kacang garuda ke arahnya. Mahesa emang tiap hari ngemilnya kacang, terbiasa dikacangin mah. Mulai dari gantungan kunci, gambar kaos dan motif sempaknya menyerupai kacang semua.
"Cie tahu."
"Biasa ae lu duyung, gue jemur kering lu."
"Emangnya gue sejenis jemuran gitu?"
"Kan elu sejenis duyung Mahesa! Oge aja tergila-gila sama kecantikan lo!" Orzie membalas dengan tangan melemparkan kulit kacang, cowok itu meringis kesal.
"Ji, rokok kita mana?" sahut Doni di sebelahnya.
Orzie memang jadi tempat penitipan barang, karena ketika dirazia sama Pak Osep pasti tuh anak cuma diliatin doang, apalagi dia termasuk tangan kanan Pak Kepsek.
Orzie sewot sendiri sama mereka, kenapa dari sekian banyaknya orang mereka selalu mengandalkan cewek kayak dia? Bahkan setiap melakukan hal-hal ekstrim selalu imbasnya pada dirinya. Seperti yang selalu dialami Orzie sejak mereka menyeretnya dalam kerasnya hidup anak Legion.
"Ji! Ji lompatin pagar pat, biar gue jaga!"
"Ji, lo takutin tuh junior songong bat mukanya!"
"Ji! Ji! Simpen rokok kita nih!"
__ADS_1
Ji, Ji, Ji!
"KENAPA SIH KALIAN NYURUH GUE MULU!!"
"Eh ngegad si nyet, kan kau yang lagaknya sangar betul hahaha!"
"IYE GUE MULU DISURUH INI ITU, GUE CEWEK WOI! CEWEEEEK!!!"
Mereka diam saling memandang dengan tampang terkejut.
"Nyet, kok gue baru ngeh ya dia cewek?" ujar Oge pada temannya.
"Anju! Beneran cewek bray!"
"Cewek... Godain abang dong!!! Huhuy!"
"Kampreet!" Seru Orzie melempar botol mineral ke arah mereka.
"ANYEEENG!!!"
"Gak usah terpesona dulu ma Oji! Dia cowok cantik bray! Homo lu-lu pada kalo sampe suka sama dia!"
"Bacot lu Ki!" marah Orzie sambil menendang tulang kering Zaki hingga anak itu menjerit-jerit meminta pertolongan, bukannya dapat pertolongan Zaki malah kena tampol sana-sini.
"Gama, lo dipanggil Kepsek."
Tidak ada tanggapan dari Gamaliel, cowok itu sibuk memerhatikan para siswa yang heboh bermain sepak bola.
"Gama! Gue bicara!" tegas Galaksi dengan raut yang makin berubah menyeramkan. Namun Gamaliel tetap tidak mendegarkan malah sibuk bersenda gurau dengan temannya.
Hingga akhirnya Galaksi muak, mendekat pada Gamaliel memukul kepala saudaranya.
Plakk!
"Kenapa lo pukul gue, hah?!!!" amuk Gamaliel mencengkram kerah Galaksi tinggi-tinggi, sorot matanya terbakar letupan api amarah.
Galaksi menepis tangan cowok itu dengan sekali hentak, membalas sengit. "Gue manggil lo dari tadi!"
Suasana yang sempat memanas coba dilerai oleh Afif dan Mahesa namun Gamaliel justru jadi lebih agresif.
"Sengaja lo, bikin gue susah? Iya?!"
Semua terdiam mendengar suara lantang dan keras itu. Galaksi tetap tak beriak, raut dinginnya masih sama.
"Lo sengaja ngasih tau Papa supaya dia makin membenci gue, dan lo semakin dipuji, kan?!!"
__ADS_1
Darah terasa naik ke kepala Galaksi, matanya membesar dengan wajah penuh kemurkaan. Lalu berbalik menarik kerah Gama.
"Gue gak punya niat sebusuk itu!!"
"Berarti lo sengaja ngasih tau Papa! Biar gue kena pukul, biar gue dikunci di rumah! Setan lo ternyata!!"
Lagi-lagi banyak anak cowok yang berusaha melerai namun seakan tidak peduli kini Gamaliel mengepal erat kedua tangannya hendak menumbuk wajah Galaksi.
Buagh!
Satu bogem mentah menghantam telak di pipinya, Galaksi menggeram kesal.
"Gue bilang ke Papa supaya lo sadar diri! Supaya lo berubah, setan!" teriak Galaksi naik pitam, pandangannya menggelap tanpa memandang siapa yang hendak di pukulnya.
Buagh! Buagh! Buagh!
Aksi saling membalas terjadi, dengan cepat Teuku menahan Gamaliel sedangkan Galaksi kini dihentikan Erlan susah payah.
Semua orang melihat pertengkaran GG Brothers yang biasanya akrab dan kompak itu. Walaupun jarang bicara namun mereka tetap bersama. Orzie menatap gak percaya, tidak tahu harus melakukan apa selain berdiri mematung. Hingga akhirnya dia membuka suara
"Gama... Ada baiknya lo ketemu Kepsek..." ucapnya takut. Gama menatap nyalang ke arahnya.
"Palingan gue diskorsing! Atau gak di depak dari sekolah! Puas lo?!"
Sekarang Orzie sadar. Tidak mudah mencairkan otak besi Gamaliel, egonya terlalu kuat dengan tempramen dangkal. Bisa saja Galaksi dihantamnya lebih keras lagi kalau dia gak ingat Galaksi masih saudaranya.
Darah segar keluar di sudut bibir Galaksi, matanya masih mengawasi Gama di hadapannya.
"Udah, udah masalah keluarga gak baik dibawa-bawa. Lo Gal ke UKS, Gama biar gue anter ke ruang Kepsek."
Situasi mulai mencair, walaupun Gama ogah-ogahan diseret Orzie menuju ruang Kepala Sekolah. Seakan gak terima ia terus mengumpat-umpat kesetanan, kadang ngeri kadang juga tertawa melihat cowok itu kesal.
"Lo kenapa sih Gam, ribut udah kek ayam mau betelor."
"Nanya lagi lo!" makinya menyambar kepala Orzie dengan tangan. "Yeh, gue bilang mah betul! Lo ngomel gitu, gak denger lagi adzan? Dosa euy!"
"Au ah!" ketus Gamaliel akhirnya.
"Eh gue mau nanya, di masjid ada setan gak sih?" tanya Orzie bodoh sedangkan Gama menjawab malas. "Yah gak ada lah, kambeng!"
"Pantes ana tidak melihat antum di masjid," ujar Orzie lempeng, Gama terdiam menatapinya. "Kenapa lo Gam?"
"Baca bismillah sebelum nabok orang!"
"Gue serius Gam, lo kenapa sama Galaksi?"
__ADS_1
Gamaliel mendengus kasar.
<><><>