
Galaksi menaruh tas di atas kasur sambil merebahkan tubuhnya lelah, dengan tangan dilipat di bawah kepala sambil menatap ke atas.
Di langit-langit kamar terdapat kertas serta tulisan arab yang besar. Galaksi yakin itu surah An-Nas yang sengaja cewek itu tempel agar dibacanya setiap pagi.
"Roh jahat ngapain baca surah Al-qur'an, nanti melepuh!" ejek Orzie kesal tanpa mengalihkan pandangannya dari buku cetak sejarah, tangannya sibuk menulis jawaban. Memang soal sejarah cuma satu baris doang, jawabannya sampai satu lembar!
Galaksi membalikkan posisinya menghadap Orzie yang sedang menulis di meja belajar tengah ruangan.
"Gal, lo beneran besok mau naik angkot? Gak salah oy?" Orzie mencoba mengutarakan pertanyaan yang daritadi menghantui kepalanya, pasalnya anak orang kaya seperti Galaksi mana sanggup berteman dengan debu dan bau gak sedap. Bahkan hidung cowok itu masih kelihatan merah sampai sekarang.
"Hm."
Orzie menghela napas lemah gak sanggup lagi meladeni sifat cowok itu, "Gue bilang aja, ya. Lo itu anak cowok. Di angkot bisa aja kita diacak sama anak Taruna yang kadang suka nongkrong depan taman raya."
"Ada lo."
"Gue bukan hulk woi!"
"Paling lo dihajar duluan, gue lari," kilah Galaksi makin membuat cewek itu sewot. "Yeh, untung di elo rugi di gue!"
Galaksi merubah posisi membelakanginya. Orzie paham betul, kalau cowok itu tidak mau berdebat lagi dengannya.
"Entahlah..." dengusnya sambil menyandarkan kepala di atas meja, perutnya keroncongan sejak siang dan sekarang jam hampir menunjuk angka empat.
"Nih tugas lo, pulang sono jangan gangguin atau ngutangin lagi!" peringat Orzie sambil melempar buku cokelat itu mengenai kepalanya.
"Ck!" decakan malas keluar dari mulut Galaksi, dia bangun sambil merapikan seragamnya yang kini kusut karena rebahan.
Cklek
Pintu kamar terbuka, terlihat Buk Endang mejeng di depan kamar dengan wajah terkejut. Matanya terbuka selebar-lebarnya ketika melihat Galaksi tengah memasang kancing baju atasnya.
"Ma-maaf mengganggu...."
Pintu ditutup pelan.
Dan sekarang Orzie jadi pengen nguburin Galaksi di kebun singkong Mak kost-an. Habis ini pasti bakal banyak omongan tetangga yang heboh menggosipinya dengan si roh jahat. Pasti mereka mengira Orzie bukan cewek baik-baik.
__ADS_1
Langkah kaki terdengar di belakang, Galaksi beranjak menuju pintu tanpa pamit. Antara lega dan kesal melihat cowok itu pergi dari kamarnya.
Matanya memandangi pop mie di atas meja. Rasanya mustahil Galaksi masih mengkhawatirkannya, apa dia tahu kalau Orzie sedang kelaparan?
Sip. Paling enggak cowok itu masih punya satu sisi baik. Menurut Orzie. Tangannya meraih pop mie pelan dengan senyum merekah.
Pintu dibuka tergesa-gesa, nampak Galaksi berjalan terburu-buru kemudian merampas pop mie yang bertengger manis di tangan Orzie.
Galaksi meninggalkannya tanpa sepatah katapun, mulut cewek itu terkatup rapat dengan kilat mata penuh emosi.
"DASAR ROH JAHAAAT! GAK ADA YANG BAGUSNYA DARI ELO, SUMPAAAAH!!!!" jeritnya sambil menendang pintu. Lalu menjerit kesakitan saat jempol kakinya tergelincir mengenai ujung pintu.
Sabar Ji, sabar.
∞ ∞ ∞
Selesai sholat maghrib Orzie kembali ke meja belajar menghapal rumus-rumus matematika yang besok akan diadakan ulangan. Berkali-kali matanya menyepet saking pusingnya lihat segala macam log dan rumus phytagoras. Pas buka buku catatan dia malah muntah.
Kembali menatapi soal dengan khusu' cewek itu menggeleng takjub.
"Ngeliat rumus matematika kek ngingat dosa. Bawaannya istigfar mulu..." dia mengelus dada sabar.
"Bambang, main yuk?" panggil seseorang di luar, cewek itu bangkit ogah-ogahan membuka pintu. "Apaan lo Lis?"
"Ichhh, kamu mulai sombong yah? Jahat! Lis gak mau temenan lagi sama kamu!" todongnya sambil membulatkan pipi.
Bukannya imut, Orzie jadi pengen muntah darah sebaskom.
Yang sedang bicara dengannya ini bukan Geulis, Lisa, Halis, ataupun yang ada sangkut pautnya dengan ujung nama feminin itu.
"Terus mau lu apa Lishardjo?"
Yap.
Dia cowok, setengahan tapi.
__ADS_1
"Kita beli roti bakar depan yuk? Laper ih..."
"Gue kagak ada duit, pulang sono lu gangguin ae orang nyari inspirasi," tolaknya mentah-mentah. Lis memasang wajah cemberut berat. "Ayuk ah!" paksanya.
"Kagak mau yah kagak gue! Kok elo ngotot sih?!!"
"Kok Oji jadi galak gini sih?" cowok itu memerhatikan wajah Orzie seksama, nampak jelas di raut wajah cewek itu sedang penuh tekanan batin.
"Uang gue habis! Mau makan mie instan aja kagak ada duit! Kalo gue ambil uang tabungan terus bayar uang kas pake apa? Pake daun mangga? Astagfirullah... Banyak banget dah beban jadi anak kost-an..." ringisnya mulai ngedrama, tentu buat satu tujuan.
"Yaudah, biar Lis bayarin beli rotinya," bujuk cowok itu melembut.
Yeeesss!!! Sorak Orzie dalam hati.
"Thankcu may prens!"
Sesampainya di tukang penjual roti bakar, Lis langsung memesan dua untuknya dan Orzie yang tengah duduk.
"Oji, kamu udah tau gak? Bakal ada cowok yang pindah ke kost-an kita?"
"Hah? Kok bisa? Bukannya semua udah penuh ya?" Orzie membalas antusias. Kebiasaannya ketika berdua dengan Lis yah ngegosip. Kalo ngedenger ceramah mah Orzie langsung diem. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Giliran ngeghibah masuk telinga kanan keluar lewat mulut dan ghibah terus berlanjut.
Dasar netijen negara berkembang, tololnya juga ikut berkembang.
"Kak Nisa kan udah pindah ke rumah suaminya!"
Bukannya Kak Nisa tetangga gue?
"Berarti..."
"Yah dia pindah ke samping kamar kamu, Ji! Katanya ganteng lho... Ih jadi gemes deh akika!"
Entah kenapa ribuan firasat buru menyergap Orzie saat itu juga, dengan refleks ia langsung membaca surah An-Nas.
<><><><>
__ADS_1