
Badai angin berembus melewati perumahan, gemuruh mengamuk menciptakan suasana menyeramkan saat jam masih menunjukkan angka 5 sore. Gamaliel memarkirkan motor yang bernama Bang-ke di garasi membuat tetesan air jatuh di lantai. Seragam berwarna putih gading khas sekolahan kini basah kuyup dan lecek akibat terjatuh di becek karena dikejar petugas kepolisian.
"Dari mana kamu?" Elang menyenderkan bahunya di tembok memerhatikan Gamaliel dengan tajam.
"Sekolah."
"Sekolah apa tawuran?"
Mata Gamaliel menatap kesal pada Papanya. Dendam, amarah, benci seakan menguasai egonya saat ini. Kedua tangan dikepalnya erat, entah seberapa kesalnya ia pada Elang. Padahal sengaja Gamaliel tidak menyusul kawannya dan datang paling akhir agar tidak terlibat tawuran.
"Gama gak ikut tawuran, Pah!"
"Lihat baju kamu, jangan mengelak, memangnya jadi berandalan gitu hebat?! Iya?!"
"GAMA BUKANNYA SENANG JADI GINI PA!!" teriaknya lantang bersamaan dengan gemuruh yang ikut bersahutan di atasnya.
"Ngapain kamu tawuran, cuma buat kesolidaritasan sesama pelajar? Dendam? Sok keren? Atau mau jadi jagoan?" suara rendah milik Elang kembali mendengung di telinganya.
Anak itu bergeming di tempatnya berpijak, susah payah ia menyembunyikan diri saat dicari oleh Zero agar tidak ikut tawuran. Sekarang, harga diri Gama terasa dipijak. Egonya meletup-letup hebat menguasai otak, membuat rahangnya mengeras dengan mata nyalang.
"Memang siapa sih yang mau kayak gini?! Gama gak bisa bikin Papa bangga karena guru muji Gama pinter, Gama udah capek ngapal, belajar, ikut les sana-sini tapi tetep kalah jauh dari Galaksi..." suara seraknya masuk ke tenggorokan, "Yang Gama bisa cuma bantuin orang, pas kecil Mama senang banget Gama bantuin temen yang dibully..."
"Papa gak nanya tentang pembullyan atau apa itu. Kalau kamu masih kayak gini, mungkin satu-satunya yang bisa Papa lihat cuma Galaksi."
Suara berat dan menekan itu mampu membuat Gama berkedip beberapa kali. Dadanya terasa ditusuk, entah darimana benda tajam yang menikamnya, atau justru dari omongan Papanya sendiri?
Elang membalikkan badan dengan dengusan kasar, Gama hanya terdiam bungkam dengan pikirannya. Hingga seseorang menepuk pundaknya.
"Mandi sana, gak usah ngelamun!" celutuk Mamanya–Gabriel seraya mengelus kepala Gama pelan.
"Ehehe Ma, kok main nyosor aja sih di sini?" ucap Gama melebarkan senyumnya sambil menyalim Mamanya.
"Nyosor... Nyosor... Emang Mama apaan? Angsa?" kini ekspresinya berubah galak, Gama terkekeh geli.
"Bukan angsa mah, mimi peri."
Gaplok!
"Ah, anak tengil memang. Untung pas kecil Mamah gak khilaf bawain kamu ke pemulung biar ditimbang kilo."
"Jangan dong Ma... Hehe, Gama mandi dulu. Bye Mama yang cantik!" Gama menyium pipi Mamanya, lalu ngibrit dan meringis pilu. Kepentok tembok kepalanya.
"Perasaan tuh anak sama aja kek gue yang dulu..." gumam Gabriel menggeleng gak percaya.
...
Galaksi menuruni anak tangga sebelum langkahnya terhenti melihat sahabat Papanya– Nauval kini duduk sembari bercerita heboh.
Galaksi duduk sopan, ikut bergabung dengan mereka terkecuali Gamaliel. Dia sibuk adu ****** di kamar dengan seru-serunya, lomba balap kalomang bahkan ngasih makan sayur asem ke kucing putih bernama Tompel itu. Mulai dari kucing, motor, mobil bahkan kambeng yang lewat selalu Gama beri nama dengan ikhlasnya. Itupun nama-nama norak bin busuk!
__ADS_1
"Gama!" panggil Gabriel dari dapur, secepat kilat Gamaliel menuruni tangga membawa ikan-ikan ****** dalam toples lalu berdiri di sampingnya.
"Apaan Mah? Ayam kita ilang lagi?"
"Kagak. Kamu gabung gih sana sama Om Nopal. Ntar disangka sombong," jelasnya sibuk membuat teh.
Gamaliel paham maksud Mamanya, udah berapa kali teman Mama Papanya datang dan Gama hanya berdiam diri di kamar gak peduli. Sedangkan Galaksi ikut duduk sebentar sekedar menyapa, lalu kembali ke kamarnya.
Jelas image mereka berdua jadi bertolak belakang.
"Halo," sapa Gama ramah, Elang memicingkan mata, cara menyapa anak itu sangat tidak sopan. Nauval tersenyum singkat. "Namanya juga anak muda, Lang."
"Itu ikan ngapain dibawa-bawa, mau dijual?"
"Kagak, mau dicariin baju pengantin," jawab Gamaliel ngelantur, antara sadar gak sadar kenapa jawabannya kayak gitu.
"Mirip banget sama Gabriel pas masih muda dulu, hahah!" tawa Nauval hingga dari arah belakang seseorang menyahut.
"Eh, emang situ masih muda?"
"Masih lah, gue kan jelas masih segar gini."
"Segar... Segar... Bawaan lu udah kek sayur kangkung aja."
"Berarti Om Nopal sejenis sayur-sayuran, yah. Kok gak ada akarnya?" timbrung Gamaliel memerhatikan ujung kaki Nauval. Gabriel tertawa sengenes-ngenesnya.
Gobloknya asli kutukan Ilahi. Takkan tercerahkan.
"Si Yogi?" tanya Elang.
"Ho oh."
"Wah, yang bener aja lo Pal! Anak lu pan sama aja kek anak gue. Sama-sama ****** tercemar bahan penyedap!" kini Gabriel jadi antusias.
Terakhir kali berbicara dengan Yogi, Gabriel beneran ngakak dibuatnya. Saat ditanya apa pekerjaan Papanya jawaban Yogi, "Mutusin tali beha nenek, cuci mobil sama nonton sinetron."
Wanzaaay.
Gamaliel langsung semangat ketika tahu bakal ada yang pindah ke sekolahnya, apalagi pas denger gosip mereka yang katanya Yogi ******.
Berarti Gama bisa ngecengin tuh anak.
Dan tersusunlah skenario, orang ****** digoblokin orang ******.
RIP Yogi.
...
Jam menunjuk angka sebelas malam, Gamaliel masih setia duduk di ruang tamu memerhatikan ikan cupangnya beradu di dua toples berbeda. Kadang menguap-nguap, selonjoran, telentang, kayang sampe gaya godzilla pengen nyeruduk.
__ADS_1
Hanya ada dia di ruang tamu.
Terlihat Mamanya dari arah dapur tengah mematikan lampu.
"Ma..."
Gabriel mendekat, duduk tanpa lupa mengelus pucuk kepala Gamaliel.
"Kenapa? Oh, Mama tau. Nilai kamu jelek lagi yah? Gak apa, dulu nilai Mama jelek juga. Sampe cuma dapet 25."
Penyakit terkutuk pertama: sotoy!
"Hehe, sama deh Ma–"
"Tapi cuma Matematika, yang laen 90."
Dasar Mama somplak. Untung sering dikasih uang. Batin Gamaliel.
"Bukan itu Ma..."
"Terus? Pasti kamu ditagih utang yah sama temen kamu, tapi malah kamu yang marah-marah. Gak apa kok, Mama juga sering dulu."
Penyakit kutukan kelima: tukang nyela!
Gamaliel mengatup mulutnya rapat.
"Maaa..."
"Apaan dah nih anak?"
"Gama udah coba berenti tawuran."
"Good."
"Tapi tadi kena marah juga sama Papa!" dengus Gamaliel mengambil toples lalu memerhatikan ikan berwarna biru menyala di depannya.
"Gama... Gak perlu terlalu dipikirin. Papa emang gitu, Mama nyungsep di selokan aja cuma diliatin doang masa," curhat Gabriel malah membuat Gama ngakak. "Hehehe, iya deh Ma."
Gabriel tersenyum tipis. "Berubah itu dari hati, Gama. Bukan dari omongan orang lain."
Tumben bacot gue bener. Pikir Gabriel seraya kesem-sem pada anaknya, entah apa yang ia ajarkan hingga Gama jadi senakal ini. Ia hanya membimbingnya, tapi kalau Gama benar-benar mencari jalannya sendiri Gabriel tidak berhak menekan keegoan anak itu.
Gamaliel bangkit, mencium pipi Mamanya lalu beranjak pergi.
"Gama bakal berubah, tapi gak sekarang, Ma."
"Yaudah, tidur sana. Jangan lupa tutup mata..."
"Yah, tutup mata lah Ma! Kalo melotot mah bukan tidur lagi, udah kena azab!"
__ADS_1
Bersamaan tertutupnya pintu kamar berwarna merah itu, saat itu juga wajah penuh kehangatan itu berubah sedih.
<><><><>