
Pelajar-pelajar SMA meramaikan jalanan yang kini dipenuhi teriakan nama sekolah atau kata-kata kotor. Kasak-kusuk terjadi, ada yang mengeluarkan BR, mengibarkan bendera sambil berteriak panjang, sebagiannya memungut batu atau benda apapun yang bisa dilempar ke musuh.
Batu-batu berterbangan di langit, maki memaki terdengar dari kejauhan. Legion dalam keadaan rentan. Jika tidak menerkam musuh kehormatan mereka sebagai Terminator jalan Malaka akan hancur berkeping-keping. Kalau meladeni mereka bisa-bisa darah Legion jadi taruhannya.
"Siap siap!!"
"Gam! Gue panggilin anak Legion yang lain di sekolah!" seru Orzie kalang kabut, Gama tidak menjawab masih fokus menatap ke depan. Cewek itu berlari kencang hingga melewati Doni yang kini berdiri dengan wajah pucat.
Panas terik matahari membakar jiwa para berandalan yang sibuk mencelakai musuhnya, barisan depan bertabrakan menimbulkan suara gesekan yang memekakkan telinga. Gamaliel doyong ke samping saat parang yang digunakannya terbentur dengan stick golf.
Kraaang!!!
Whuuss
Lagi-lagi sebuah serangan dimasukkan dari sayap kiri, hampir mengenai bahu cowok itu. Nyaris. Parang ditebasnya membelah udara namun masih bisa dihindari.
"Lo yang jadi pimpinan Legion sekarang? Heh, geli amat gue sama gaya lu! Banci!" seru Guntur sambil meludah, amarah Gamaliel kembali berkecamuk.
"Bacot lo sat!"
"Siapa nama dia? Raka, ya? Udah mampus kali dia... Atau paling mentok jadi banci salon, hahaha!!" pancing Guntur lagi. Darah memenuhi otak Gamaliel, ia menebas udara penuh emosi tanpa menyadari di sebelahnya celurit bergerak cepat.
Sreet!!!
"Aarrrghh!!" teriak Gamaliel, ia mundur sambil memegang lengannya yang kini sobek berdarah-darah. "Mundur aja Gam!" seru Teuku, napas berembus tak beraturan di kerongkongannya. Cowok berambut cokelat itu menoleh ke belakang.
Doni ke mana? Batinnya heran.
Kembali musuh menghadangnya, Guntur maju menggebukan pedang sisir. Gama menghindar cepat dengan tangan kanan memegang parang. Lengan kirinya semakin dipenuhi cuatan darah.
"Gam, lo mundur aja!"
"Gue bisa berdiri." napasnya terengah-engah, Erlan dan Teuku berduel menghadapi Guntur. Cowok gondrong itu masih tetap tak terkalahkan, berkali-kali serangan menghantam senjatanya tapi cowok itu tidak mundur sedikit pun.
__ADS_1
"MAJUIIIN! BADAN JANGAN MENTAL!" seru Gama sekeras mungkin, pelajar Bhakty Jaya maju membuat musuh mundur, hanya sebentar mereka menguasai keadaan sampai dua cowok dari belakang kubu musuh menenteng katana sepanjang satu meter. Legion kembali pecah.
"Pecun! Woi pecun! Jangan lari lu!" seru salah satu cowok pemegang katana itu, Gama menahan langkahnya menyambut cowok itu.
"Elo dulu yang ngebantai senior gue kan?! Gue inget sama muka lo Cil!" teriak cowok itu menghunus katana. Gama menghindar.
"Lo juga udah ngacakin kandang kita, ***!" balasnya tak kalah gertak. Hingga dari ujung jalan pelajar Taruna kembali tumpah ruah meramaikan jalanan.
"Bisa mampus kita Gam!!!" teriak Afif gemetaran, musuh kembali menyergapnya dari kanan kiri. "Mundurin aja woi!" teriak yang lainnya.
J
"GAK ADA MUNDUR-MUNDUR!" teriak Zero naik pitam, kulit cokelatnya berkilat bercampur keringat. Matanya awas mengamati pergerakan musuh.
"BANG DONI KENA WOI!!!" anak kelas satu tiba-tiba berteriak di sayap kanan, lagi-lagi jantung Gamaliel berdegub aneh. Ada suatu firasat yang sulit dijelaskannya.
Di ujung jalan Doni tersungkur dengan kuping berdarah termakan senjata tajam, tidak ada pelajar Bhakty Jaya di sekitarnya karena anak kelas satu banyak yang menghindar.
"JANGAN CUMA DILIATIN, BANTUIN SETAAAN!!!" maki Gamaliel dengan nada tinggi, rahangnya mengeras dengan mata menyala-nyala. Tanpa diduga para berandal yang tadinya dari kejauhan berada di depannya.
Praaang!
Lagi-lagi Teuku mematahkan serangan musuh, Gamaliel tidak peduli. Ia mencoba berlari ke arah Doni yang kini jadi bulan-bulanan musuh. Cowok itu tersungkur bersimbah darah dengan tangan di atas kepala. Sabuk gear dan klewang mengambil darahnya hingga menggenang di jalan aspal.
"BANTUIN DONI ANJEENG!!!" maki Gamaliel panik pada anak kelas satu yang berada lima meter dari cowok itu.
Bruakhh!
Stick golf bersarang di punggung Gamaliel, cowok itu jatuh dengan mulut memekik kesakitan. "Bantuin Doni, arrrghh..." erangnya menatapi sahabatnya yang kini dikerubungi musuh dengan tikaman berulang-ulang.
"Siaalaaaaan! GUE BILANG BANTUIN DONI ***! LO UDAH PERNAH GUE BILANG KAN KALO TEMEN LU DIBANTAI ELU JUGA HARUS DIBANTAAAI!!!!!" teriak Gamaliel sekuat tenaga, matanya menatap Doni dari kejauhan yang kini tertelungkup dibacok dari segala sisi.
Bukannya tidak mendengarkan, anggota Legion yang kini banyak diserbu musuh kesusahan untuk sekedar menyelamatkan nyawanya. Menghampiri Doni sama saja seperti menggali kuburan sendiri.
__ADS_1
Gamaliel berupaya bangun. Tertatih-tatih menenteng parang yang kini terasa berat, semakin pedis tangan kirinya saat bercampur dengan pasir jalanan.
Dari kerumunan itu aliran darah menggenang kental, mata Gamaliel melotot tak percaya. Dipaksakan langkah kakinya berjalan hendak menerjang, justru puluhan musuh mengepungnya. Pundak cowok itu luruh, dengan mata menatap Doni tercengang.
Gak mungkin! Gak mungkin!!! Batinnya kalang kabut.
Terasa seperti mimpi baginya saat melihat Doni tertelungkup dengan seragam koyak memperlihatkan daging kemerahan yang terbelah sajam.
Sahabatnya....
"DONIIIIIIII!!!!!" teriak Gama luar biasa ketakutan, mungkin saja ini mimpi tapi luka di lengannya masih berdenyut perih. Menandakan bahwa yang ditangkap matanya bukanlah kebohongan.
Teuku yang mendengar itu melirik ke arah Doni yang kini tertelungkup penuh simbahan darah di sekujur tubuhnya. Tangan yang tadi digunakan Doni untuk melindungi kepala tergeletak lemah di atas aliran darah yang menggenang di aspal.
"GAMAA!!"
Tiba-tiba dari belakang dua puluh cowok SMA Bhakty Jaya membanjiri jalan raya. Lolongan panjang mengisi suasana mencekam saat itu. Bukan hanya anggota Legion, bahkan murid biasa SMA Bhakty Jaya juga ikut bergabung.
"ANAK BHAKTY JAYA NIHH!!" seru rombongan cowok yang asing itu penuh semangat, keberisikan tadi seakan lenyap. Menenggelamkan asa mereka ke titik paling jatuh ketika hujan turun membawa aliran darah Doni di sepanjang bahu jalan.
"Bi-bilang sama gue... I-ini pasti mimpi, kan...?" tanya Gamaliel gemetaran, sepuluh orang anak Taruna mundur sambil meludah lalu tertawa bengis melihat mereka berhasil mencelakakan musuh.
Parang dijatuhkannya membentur aspal, darah dari lengan kirinya basah membuat air hujan memerah. Mengenai tubuh Doni.
"Don, Don, bangun nyeet..." Gamaliel berlutut menggoyang tubuh anak itu, berharap Doni tiba-tiba bangun dan bilang 'Praank' dengan wajah konyolnya.
Sayangnya itu tidak terjadi.
Orzie datang dari kejauhan dengan wajah cemas, menangkap tubuh Doni dari kejauhan yang kini tersayat-sayat.
"Do-Doni?" katanya ketakutan. Berlari mendekat lalu menggoyang tubuh cowok itu, tetap tidak bergeming. Ia menarik tubuh Doni hingga terlentang. Terdengar desisan samar.
<><><><>
__ADS_1
Cieee gantung:v